Tak Terduga, Hasil Penelitian Menguak Korban Ritual Sadis di Kota Kuno Suku Maya

Studi terbaru menunjukkan bukti tentang korban-korban pada ritual di kuil-kuil Chichén Itzá. 


El Castillo, juga dikenal sebagai Kuil Kukulcan, adalah salah satu bangunan terbesar di Chichén Itzá. (Foto: Johannes Krause via Max Planck Institute)
El Castillo, juga dikenal sebagai Kuil Kukulcan, adalah salah satu bangunan terbesar di Chichén Itzá. (Foto: Johannes Krause via Max Planck Institute)


ngarahNyaho! - Nama Chichén Itzá adalah istilah bahasa Maya yang berarti 'di muara sumur Itza.' Itza adalah sekelompok suku Maya yang berkuasa di bagian utara semenanjung Yucatán.


Situs tersebut sekarang terletak di Negara Bagian Yucatán, Meksiko.


Chichén Itzá adalah salah satu situs arkeologi paling ikonik di Amerika Utara dan merupakan pusat politik yang kuat pada abad-abad sebelum kedatangan Spanyol.


Namun ada fakta suram di balik kemajuan kota ini. Anak laki-laki kembar sering dibantai dalam ritual pengorbanan manusia di kuil Maya yang terkenal kejam.


Penemuan ini terjadi setelah sisa-sisa manusia ditemukan di kota kuno Chichén Itzá, di mana mereka dianalisis menggunakan teknologi tercanggih oleh tim ilmuwan internasional.


Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini membantah teori sebelumnya yang menyatakan mayoritas korban pengorbanan manusia di kuil-kuil di kota tersebut adalah anak perempuan atau perempuan muda.


Bukti ekstensif mengenai pembunuhan ritual, termasuk sisa-sisa fisik individu yang dikorbankan dan representasi dalam seni monumental, sebelumnya telah ditemukan di Chichén Itzá.


Bagian dari tzompantli batu, atau rak tengkorak, yang direkonstruksi di Chichén Itzá. (Foto: Johannes Krause via Max Planck Institute)
Bagian dari tzompantli batu, atau rak tengkorak, yang direkonstruksi di Chichén Itzá. (Foto: Johannes Krause via Max Planck Institute)


Namun pengerukan Cenote Suci di situs tersebut pada awal abad ke-20 mengungkap sisa-sisa ratusan korban, dan patung batu berukuran penuh yang menggambarkan tzompantli, atau rak tengkorak, dalam skala besar.


Ada kepercayaan luas bahwa perempuan adalah fokus utama pengorbanan manusia di situs tersebut.


Namun bagi para peneliti anggapan tersebut masih menyisakan pertanyaan lantaran sulit untuk menentukan jenis kelamin dari sisa-sisa kerangka remaja hanya dengan pemeriksaan fisik.


Nah, analisis anatomi yang lebih baru menunjukkan bahwa banyak dari remaja yang lebih tua mungkin adalah laki-laki.


Sebuah ruang bawah tanah, yang dikenal sebagai chultún, ditemukan pada tahun 1967 yang berisi sisa-sisa lebih dari 100 anak-anak yang berserakan. 


Ruangan itu telah diperbesar untuk dihubungkan ke sebuah gua kecil dan fitur-fitur bawah tanah semacam itu secara luas dipandang sebagai titik penghubung ke dunia bawah.


Para peneliti melakukan penyelidikan genetik mendalam terhadap sisa-sisa 64 anak yang dikuburkan secara ritual di ruang bawah tanah, dan analisis genetik mengungkapkan bahwa 64 individu yang diuji adalah laki-laki.


Penanggalan jenazah mengungkapkan bahwa ruangan tersebut digunakan untuk keperluan kamar mayat selama lebih dari 500 tahun, dari abad ke-7 hingga ke-12 M.


Namun sebagian besar anak-anak dikebumikan selama periode 200 tahun masa puncak politik Chichén Itzá dari tahun 800 M hingga 1000 M.


Analisis genetik lebih lanjut mengungkapkan, anak-anak itu diambil dari populasi Maya setempat. Setidaknya seperempat dari anak-anak tersebut berkerabat dekat dengan setidaknya satu anak lain di ruangan tersebut.


Kedua kerabat muda tersebut mengonsumsi makanan serupa, sehingga menunjukkan bahwa mereka dibesarkan di rumah yang sama, kata para ilmuwan.


Rekan penulis Dr Kathrin Nägele, dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, mengatakan: “Yang paling mengejutkan, kami mengidentifikasi dua pasang kembar identik.


“Kami dapat mengatakan hal ini dengan pasti karena strategi pengambilan sampel kami memastikan kami tidak akan menduplikasi individu.”


Secara keseluruhan, tim peneliti mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa anak laki-laki yang berkerabat kemungkinan besar dipilih berpasangan untuk kegiatan ritual.


Merujuk pada sejumlah bukti, rekan peneliti Oana Del Castillo-Chávez mengatakan, chultún sebagai sebuah pasca- situs pemakaman kurban, dengan individu yang dikorbankan telah dipilih karena alasan tertentu.


"Kesamaan usia dan pola makan anak-anak laki-laki, kedekatan genetik mereka, dan fakta bahwa mereka dikebumikan di tempat yang sama selama lebih dari 200 tahun," Oana mengurai beberapa fakta.


Kisah kepahlawanan si kembar


Detail dari tzompantli batu, atau rak tengkorak, yang direkonstruksi di Chichén Itzá. (Foto: Christina Warinner via Max Planck Institute)
Detail dari tzompantli batu, atau rak tengkorak, yang direkonstruksi di Chichén Itzá. (Foto: Christina Warinner via Max Planck Institute)


Studi ini menghubungkan dengan teks spiritual Maya, Popol Vuh, yang menceritakan kisah Pahlawan Kembar yang menjalani siklus pengorbanan dan kebangkitan. 


Narasi ini tertanam kuat dalam budaya dan seni Maya, menunjukkan bahwa pengorbanan di Chichén Itzá mungkin mencerminkan kisah-kisah kuno ini.


“Catatan awal abad ke-20 secara keliru mempopulerkan kisah-kisah seram tentang perempuan muda yang dikorbankan di situs tersebut,” kata Christina Warinner dari Universitas Harvard. 


“Penelitian ini membalikkan cerita tersebut dan mengungkap hubungan mendalam antara pengorbanan ritual dan siklus kematian dan kelahiran kembali manusia yang dijelaskan dalam teks suci Maya.” [Sumber: Max Planck Institute ]


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama