Pendekatan baru. Para ilmuwan mengidentifikasi target patogen utama untuk mengatasi penyakit busuk hitam
Ubi jalar dengan gejala busuk hitam yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata. (Foto: Camilo Parada-Rojas)
ngarahNyaho! - Busuk hitam ubi jalar merupakan penyakit mematikan yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata.
Fungisida dapat membantu mengatasi penyakit ini, namun hal ini bukanlah solusi yang berkelanjutan, terutama dengan adanya pembatasan yang tidak menentu terhadap residu fungisida di pasar ekspor utama.
Strategi pengelolaan tambahan adalah pemuliaan dengan bantuan efektor—sebuah pendekatan baru untuk mengembangkan tanaman yang tahan penyakit.
Mengutip EurekAlert, efektor adalah protein yang disekresikan dari patogen yang memodulasi inang tanamannya pada tingkat molekuler dan seluler.
Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan metode pemuliaan tradisional, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan trial and error yang ekstensif.
Pemuliaan dengan bantuan efektor menggunakan efektor spesifik dari patogen untuk dengan cepat mengidentifikasi dan memilih tanaman yang memiliki ketahanan terhadap penyakit.
Hal ini akan mempercepat program pemuliaan, yang mengarah pada pengembangan varietas ubi jalar yang tahan busuk hitam dan pengurangan kerugian panen.
Identifikasi protein
Selama ini pengetahuan peneliti mengenai biologi C. fimbriata masih terbatas sehingga menimbulkan kendala dalam penanganan penyakit ini.
Untuk mengatasi hal ini, peneliti Camilo Parada-Rojas dari laboratorium Lina Quesada-Ocampo di North Carolina State University dan rekannya fokus pada identifikasi protein efektor yang diproduksi oleh C. fimbriata selama infeksi.
Penelitian yang dipublikasikan di Molecular Plant-Microbe Interactions (MPMI), mengidentifikasi 31 gen efektor C. fimbriata.
Dengan membuat katalog efektor-efektor ini, para peneliti dapat lebih memahami bagaimana jamur menginfeksi ubi jalar dan mengidentifikasi target inang potensial untuk membiakkan varietas yang tahan.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan adanya fase biotrofik. Jamur hidup dari akar penyimpanan ubi jalar sebelum membunuhnya, sehingga memberikan perspektif baru tentang bagaimana penyakit ini berkembang.
Penelitian ini memberikan pengetahuan awal tentang biologi C. fimbriata dan menyoroti target potensial untuk pembiakan dengan bantuan efektor.
Meskipun temuan ini menjanjikan, penerapan praktis dalam pengendalian penyakit dan pemuliaan tanaman memerlukan lebih banyak waktu dan penelitian.
Wawasan penelitian mengenai evolusi dan stabilitas patogen dapat menjadi masukan bagi pemantauan penyakit, membantu melacak dan mengelola penyebaran C. fimbriata dengan lebih efektif.[Sumber: EurekAlert]

إرسال تعليق