Ketidakmampuan mengunyah karena tak memiliki gigi geraham bisa meningkatkan Alzheimer, menurut peneliti dari Universitas Kyushu, Jepang.
(Foto Ilustrasi: Colourblind Kevin/Unsplash)
ngarahNyaho - Kehilangan gigi geraham ternyata tak hanya membuat kita tak nyaman saat makan, tapi ada risiko yang lebih parah lagi di masa depan.
Tim peneliti yang dipimpin Yasunori Ayukawa awalnya menganalisis laporan biaya pengobatan antara April 2017 hingga Maret 2020 pemerintah daerah di Jepang.
Tim membandingkan jumlah tempat yang terdapat kontak antara gigi geraham atas dan bawah dengan jangka waktu diagnosis Alzheimer, bentuk utama demensia.
Alzheimer merupakan penyakit otak degeneratif yang menyebabkan penurunan progresif dalam sejumlah aspek, seperti penurunan daya ingat, berkuranya daya berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.
Hasil studi Ayukawa dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa mereka yang kehilangan sebagian gigi gerahamnya memiliki peluang 1,34 kali lebih besar terkena Alzheimer.
Itu bila dibandingkan dengan mereka yang masih memiliki 'oklusi posterior' penuh, atau kontak antara gigi geraham atas dan bawah yang berhubungan dengan kemampuan mengunyah.
Mereka yang kehilangan oklusi seluruhnya termasuk gigi depannya memiliki risiko 1,54 kali lebih besar.
Menurut Ayukawa, kehilangan satu gigi geraham menurunkan kemampuan seseorang untuk mengunyah makanan hingga setengahnya.
Mereka yang menggunakan gigi palsu lengkap juga tetap akan mengurangi kemampuan mengunyah hingga 30 persen.
Penelitian ini tidak menunjukkan hubungan sebab dan akibat yang pasti antara hilangnya gigi geraham dan perkembangan demensia.
Namun, Ayukawa berpendapat bahwa risiko demensia meningkat seiring dengan dampak kehilangan gigi geraham, seperti penurunan aliran darah otak, penurunan status gizi, dan berkurangnya aktivitas sosial.
"Saya ingin orang-orang merawat gigi mereka dengan baik melalui pemeriksaan rutin dan perawatan mulut," kata Ayukawa memberikan nasihat seperti dikutip dari Mainichi.
Dia pun menyarankan, bagi mereka yang ompong sebisa mungkin menggunakan gigi palsu atau pun implan.
Hasil penelitian Ayukawa dan rekan-rekannya dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer’s Disease. [Sumber: The Mainichi]

إرسال تعليق