Arsitek Burj Khalifa Berencana Ubah Gedung Pencakar Langit Jadi Baterai Gravitasi

Baterai tersebut akan memberikan energi bersih ke gedung pencakar langit dan bangunan di sekitarnya.


Skidmore, Owings & Merrill LLP mengembangkan cara ubah gedung tinggi jadi baterai gravitasi. (Foto Ilustrasi: Freepik)


ngarahNyaho! - Skidmore, Owings & Merrill LLP (SOM), perusahaan desain arsitektur di balik pembangunan menara tertinggi di dunia, Burj Khalifa, mengembangkan cara untuk mengubah bangunan menjadi baterai.


Mereka saat ini sedang mencari cara untuk mengangkat balok besar dengan motor, menyimpan energi yang diubah menjadi listrik saat diturunkan.


Singkatnya, gedung pencakar langit bisa menghasilkan tenaganya sendiri dengan memanfaatkan gravitasi. Gagasan ini sebenarnya bukanlah hal baru. 


Konsep memanfaatkan gravitasi untuk penyimpanan energi dimulai lebih dari satu abad yang lalu.


Pembangkit listrik tenaga air dengan pompa penyimpanan (PSH) sebenarnya menggunakan prinsip ini. Ini adalah jenis sistem penyimpanan air yang bertindak seperti baterai raksasa. 


Air dipompa ke atas selama periode permintaan rendah. Ketika listrik dibutuhkan, air mengalir kembali ke bawah, menghasilkan tenaga melalui turbin. 


Air ini sudah digunakan secara luas (97 persen dari penyimpanan energi) dan merupakan sumber yang bersih dan terbarukan karena airnya digunakan kembali.


Teknik ini dimulai pada tahun 1890-an. Saat ini, mereka memproduksi sekitar 180 GW kapasitas pembangkit listrik (dari kapasitas pembangkit energi global sebesar 8,9 terawatt).


Balok padat berukuran besar (seperti beton atau piston besi berat) dipompa menggunakan tenaga surya atau angin berlebih. 


Ketika energi ekstra dibutuhkan, blok-blok tersebut dilepaskan dalam urutan yang dikontrol perangkat lunak dari tingkat atas ke tingkat bawah, menghasilkan energi di sepanjang proses.


Artinya, tenaga gravitasi dapat dihasilkan hampir secara instan dan kapan saja.


Sentuhan modern


(Ilustrasi: Pavlo Luchkovski/Pexels)


Dalam proyek ini, Skidmore, Owings & Merrill LLP bekerja sama dengan startup Energy Vault. Mei 2024, Energy Vault meluncurkan raksasa “baterai gravitasi” di dekat Shanghai.


Raksasa ini dapat mengangkat dan menahan tenaga yang cukup untuk menyalakan lampu selama berjam-jam. Tapi itu bukan satu-satunya permainan di kota ini. 


Perusahaan-perusahaan inovatif sedang mengeksplorasi potensi gravitasi di sumur dan tambang minyak yang terbengkalai, membuktikan bahwa menjadi ramah lingkungan bisa berarti turun – atau naik.


Baterai gravitasi modern hadir dengan fleksibilitas yang lebih besar. 


Bentuk energi ini, dan kemampuannya untuk penyimpanan jangka panjang, sangat penting. Hal ini berarti memiliki pasokan energi yang dapat diandalkan bahkan pada saat angin tidak bertiup atau matahari tidak bersinar.


Dan alih-alih mengandalkan fitur geografis tertentu seperti pegunungan dan perairan, baterai gravitasi dapat memanfaatkan infrastruktur yang ada, termasuk gedung-gedung tinggi. 


“Kemitraan dengan Energy Vault ini merupakan komitmen tidak hanya untuk mempercepat transisi dunia dari bahan bakar fosil," ujar Adam Semel, Managing Partner Skidmore, Owings & Merrill.


"Namun juga untuk mengeksplorasi, bersama-sama, bagaimana arsitektur energi terbarukan dapat meningkatkan lanskap alam dan lingkungan perkotaan bersama,” lanjut dia.


Memasukkan baterai gravitasi ke dalam desain gedung pencakar langit masa depan akan memberiakan penyimpanan energi berbasis gravitasi multi-GWh.


Jumlah itu cukup untuk memberi daya pada gedung dan bangunan di sekitarnya, menurut perusahaan itu dalam pernyataannya. [Sumber: Gulf News | IFL Science]


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama