Tak Ubah Perilaku, 38 Triliun Dolar Bisa Melayang Setiap Tahun

Tak hanya berdampak pada lingkungan, perubahan iklim akibat ulah manusia juga bisa memukul perekonomian global.

Perubahan akibat ulah manusia tak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga memukul perekonomian global. (Foto Ilustrasi: Aristal Branson/Pixabay)

Perubahan akibat ulah manusia tak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga memukul perekonomian global. (Foto Ilustrasi: Aristal Branson/Pixabay)


ngarahNyaho! - Ancaman akibat perubahan iklim kian nyata. Bila tidak dikendalikan, kondisi itu bisa mengganggu stabilitas perekonomian global dengan menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB).

Peneliti ETH Zurich menyatakan bahwa peningkatan suhu rata-rata global sebesar 37,4 °Fahrenheit (3ºC) dapat secara signifikan mengurangi PDB dunia sebesar 10 persen.

Hilangnya PDB ini merupakan gangguan besar terhadap keseluruhan aktivitas ekonomi dan produktivitas negara-negara di seluruh dunia.

Penting dicatat, skenario pemanasan sebesar 37,4 °F akan sangat mengkhawatirkan jika tren emisi gas rumah kaca saat ini terus berlanjut.

Menyoroti variabilitas iklim yang kerap diabaikan, peneliti ETH Zurich  menyatakan perubahan suhu yang lebih ekstrem dan pola curah hujan yang tidak dapat diprediksi jadi pertimbangan.

Mereka menyimpulkan, dampak negatif perubahan iklim terhadap ekonomi kemungkinan besar akan lebih parah dari perkiraan sebelumnya.

Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam telah mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak ekonomi dari perubahan iklim. 

Dalam studi yang ini dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change dan Nature, mereka memperkirakan potensi penurunan pendapatan sebesar 19 persen pada perekonomian dunia pada tahun 2050.

Sebagai gambaran pengurangan sebesar 19 persen ini, studi PIK menerjemahkannya ke dalam angka nyata: kerugian tahunan sebesar $38 triliun pada tahun 2050.

Jumlah yang sangat besar ini mewakili perkiraan beban finansial kumulatif akibat perubahan iklim terhadap perekonomian global setiap tahunnya.

“Ternyata perkiraan dampak lonjakan suhu lebih buruk dari perkiraan sebelumnya,” jelas Paul Waidelich, ekonom di ETH Zurich yang memimpin salah satu penelitian.

Gangguan curah hujan dan gelombang panas

Perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan semakin tidak menentu. Beberapa wilayah mengalami hujan lebat sementara wilayah lainnya mengalami kekeringan yang berkepanjangan.

Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem bisa sangat besar dalam skala regional dan nasional. Referensi banjir Eropa tahun 2021 memberikan contoh nyata besarnya biaya yang bisa dikeluarkan.

Sementara itu, meskipun dampak gelombang panas yang paling jelas adalah dampaknya terhadap kesehatan, dampak ekonomi dari perubahan iklim sering kali terabaikan. 

Panas ekstrem dapat menyebabkan tekanan panas, mengurangi produktivitas tenaga kerja di berbagai sektor (pertanian, konstruksi, manufaktur).

Gelombang panas juga meningkatkan penyakit dan rawat inap yang berhubungan dengan panas, membebani sistem layanan kesehatan dan mengalihkan sumber daya ekonomi.

Bahkan negara-negara yang biasanya bersuhu lebih dingin pun akan menghadapi cuaca panas ekstrem yang memburuk seiring dengan kenaikan suhu rata-rata. 

Energi terbarukan dan ramah lingkungan 

Peralihan ke sumber energi ramah lingkungan dan ekonomi rendah karbon memerlukan investasi awal dalam penelitian, pengembangan, dan peningkatan infrastruktur.

Akan ada biaya yang terkait dengan pengembangan teknologi energi terbarukan, pembangunan jaringan listrik baru, dan kemungkinan penggantian infrastruktur bahan bakar fosil yang ada.

Berinvestasi pada energi ramah lingkungan saat ini, meskipun membutuhkan biaya di muka, merupakan keputusan finansial yang jauh lebih bijaksana.

Itu bila dibandingkan dengan beban astronomi dan penderitaan manusia yang diakibatkan oleh pemanasan global.Sumber: Earth.com 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama