Kerja Shift Malam Bisa Bikin Otak Menyusut, tapi Ada Kabar Baiknya

Riset terbaru berbasis ribuan pemindaian otak mengungkap bahwa kerja shift malam secara kronis dapat memicu penyusutan volume pada area penting otak.


Riset terbaru berbasis ribuan pemindaian otak mengungkap bahwa kerja shift malam secara kronis dapat memicu penyusutan volume pada area penting otak.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan


PROFESI seperti perawat, dokter, polisi, hingga petugas penyelamat darurat dituntut untuk terus terjaga demi menjaga nadi kehidupan kota tetap berdenyut. 


Namun, di balik dedikasi yang luar biasa tersebut, tubuh dan pikiran menyimpan beban yang tidak sedikit. 


Sebuah pertanyaan besar yang lama menghantui para ilmuwan kini mulai terjawab: apakah pola kerja yang melawan kodrat alam ini berdampak langsung pada organ paling vital kita, yaitu otak?


Sekelompok ahli neurosains asal Singapura berhasil menemukan bukti konkret yang cukup mengejutkan. 


Berdasarkan analisis berskala besar, kerja shift malam ternyata berkaitan erat dengan berkurangnya volume jaringan pada beberapa bagian penting di dalam otak manusia. 


Kendati terdengar mengerikan, penelitian ini membawa angin segar yang melegakan. 


Jaringan otak yang menyusut tersebut ternyata bisa pulih kembali secara parsial dalam kurun waktu rata-rata dua setengah tahun setelah seseorang berhenti melakoni kerja shift malam.


Hingga saat ini, sebagian besar analisis mengenai dampak kerja shift terhadap tubuh manusia kerap gagal melihat perubahan fisik yang nyata pada otak. 


Studi terbaru yang telah dipublikasikan secara resmi di jurnal ilmiah NeuroImage ini memecahkan kebuntuan tersebut. 


Menjadi penelitian terbesar di bidangnya, tim ahli menganalisis data pencitraan resonansi magnetik (MRI) beserta rekam medis jangka panjang dari 14.198 orang dewasa paruh baya hingga lansia. 


Seluruh partisipan ini terdaftar dalam basis data medis raksasa, UK Biobank, dan dipastikan tidak memiliki masalah kesehatan bawaan yang berat.


Di antara belasan ribu partisipan tersebut, terdapat 2.122 orang yang aktif bekerja dalam sistem shift. Dari kelompok pekerja inilah para peneliti mendeteksi sebuah pola unik yang simetris. 


Terdapat penyusutan volume berskala sedang pada area thalamus bagian kanan—sebuah wilayah yang berfungsi sebagai 'stasiun pemancar' informasi sekaligus elemen krusial dalam memanggil kembali memori yang tersimpan. 


Tidak hanya itu, penyusutan serupa juga ditemukan pada amygdala bagian kiri, komponen utama otak yang bertanggung jawab penuh dalam mengatur serta memproses respons emosional manusia.


Hasil temuan ini tidak diperoleh secara gegabah. Tim peneliti telah menyaring dan memperhitungkan berbagai variabel pengganggu lainnya secara ketat dalam analisis mereka. 


Faktor-faktor seperti perbedaan usia, jenis kelamin, volume tengkorak kepala, hingga chronotype (kecenderungan alami tubuh seseorang untuk tidur di malam hari atau siang hari) telah disesuaikan agar tidak mengaburkan hasil akhir penelitian.


"Penyusutan volume yang selektif pada area thalamus dan amygdala pada pekerja shift yang sehat ini kemungkinan menjadi penanda awal yang bersifat subklinis dari kerentanan saraf. 


"Kondisi ini berkaitan langsung dengan gangguan ritme sirkadian yang kronis," urai Thomas Welton, ahli neurosains yang memimpin jalannya studi mendalam ini.


Welton memaparkan lebih jauh bahwa kedua wilayah otak tersebut memegang peran yang sangat sentral dalam regulasi siklus tidur-bangun, stabilitas emosi, serta konsentrasi penuh. 


Ketiga fungsi inilah yang paling sering kedapatan terganggu pada para pekerja shift malam, yang umumnya bermanifestasi dalam bentuk kelelahan ekstrem yang tak kunjung hilang (fatigue) serta gangguan suasana hati (mood).


Selama ini, kesulitan dalam mengelola emosi memang kerap dikaitkan dengan kualitas tidur yang buruk. 


Sudah menjadi rahasia umum di dunia medis bahwa para pekerja shift memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengidap gangguan tidur kronis serta masalah kesehatan mental dibandingkan pekerja kantoran biasa. 


Para peneliti pun sejak lama mencurigai bahwa biang keladi dari semua masalah ini adalah rusaknya ritme sirkadian, jam biologis internal 24 jam yang mengatur kapan tubuh kita harus beristirahat dan kapan harus terjaga. 


Selain kekacauan jam biologis, faktor pendukung lain yang ikut memperparah kondisi ini mencakup minimnya paparan cahaya matahari alami serta perubahan jadwal makan yang menjadi tidak teratur.


Kendati bagian tertentu dari otak terdeteksi mengecil, bukan berarti sel-sel di dalamnya mati total atau tidak bisa digunakan lagi. 


Otak manusia dikenal sebagai organ yang sangat fleksibel (memiliki sifat neuroplasticity) yang mampu menata ulang jaringan kabel-kabel saraf di dalamnya demi menjawab tantangan lingkungan sekitar yang berubah. 


Ada kemungkinan bahwa penyusutan ini merupakan bentuk kompensasi unik otak agar manusia tetap bisa terjaga dan bekerja secara optimal di bawah guyuran lampu malam.


Para penulis studi juga memberikan catatan penting bahwa individu yang gagal melakukan adaptasi atau perubahan struktural pada otaknya cenderung tidak akan kuat bertahan dalam sistem kerja shift malam. 


Alhasil, mereka akan tersaring secara alami untuk memilih pekerjaan dengan jam kerja normal yang konvensional.


Mengingat riset ini dilakukan pada populasi usia paruh baya hingga lansia, efek kerja malam pada otak pekerja muda masih memerlukan penelitian lebih lanjut. 


Di era modern saat ini, di mana angka harapan hidup manusia terus meningkat, memahami kesehatan otak pekerja senior menjadi sangat krusial. 


Temuan mengenai kemampuan otak untuk pulih dalam waktu dua tahun setelah berhenti dari shift malam membuka peluang terapeutik yang besar bagi tindakan pencegahan dan pemulihan kesehatan mental para pekerja di masa depan.


Disadur dari Science Alert - Thousands of Brain Scans Reveal A Worrying Consequence of Night Shifts.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama