Peneliti menemukan enzim β-esterase sebagai senjata utama nyamuk Aedes aegypti untuk melumpuhkan racun serangga dan membangun kekebalan tubuh.
Ringkasan
- Nyamuk Aedes aegypti mulai menunjukkan tanda-tanda awal kekebalan terhadap insektisida populer, α-cypermethrin.
- Enzim β-esterase melonjak hingga 21 kali lipat untuk menetralkan molekul racun menjadi senyawa tidak berbahaya.
- Peneliti menyarankan rotasi insektisida dan pemusnahan sarang sebelum kekebalan ini menjadi permanen dan meluas.
NYAMUK bisa dibilang salah satu hewan paling mematikan di bumi. Setiap tahun, serangga mungil ini menginfeksi lebih dari 400 juta orang dan memicu sekitar 40.000 kematian.
Alih-alih mereda, perang manusia melawan nyamuk Aedes aegypti, vektor penyakit demam berdarah, zika, hingga demam kuning, malah makin rumit.
Nyamuk seolah tak mau kalah begitu saja dari obat nyamuk yang kita semprotkan.
Riset dari tim Universitas Delhi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Tropical Diseases mengungkapkan, populasi Aedes aegypti di India mulai kebal terhadap α-cypermethrin, salah satu racun serangga yang paling sering digunakan secara global.
Saat dipapar dosis standar, tingkat kematian nyamuk "hanya" mencapai 97,91%. Bagi para ilmuwan, angka yang tidak mencapai 100% ini adalah sinyal bahaya awal.
Lantas, apa senjata rahasia mereka? Jawabannya ada pada sistem pertahanan biokimia.
Dr. Rohit Lakhwani dan Prof. Sarita Kumar menemukan bahwa saat racun masuk ke tubuh nyamuk, alarm seluler mereka langsung menyala.
Tubuh nyamuk secara otomatis memproduksi enzim detoksifikasi untuk memotong ikatan molekul racun dan mengubahnya menjadi zat yang mudah dibuang.
Dari beberapa enzim yang diteliti, β-esterase menjadi "pahlawan" utama bagi si nyamuk. Aktivitas enzim ini melonjak drastis hingga lebih dari 21 kali lipat setelah terpapar racun.
Dua enzim pendukung lainnya, CYP450 dan GST, ikut membantu proses penetralan tersebut. Tampaknya, racun yang kita semprotkan justru direspons nyamuk dengan ucapan: "Terima kasih atas suplemen barunya!"
Kabar baiknya, kekebalan ini masih berada di tahap awal dan belum bersifat permanen. Jika penggunaan α-cypermethrin dihentikan atau dirotasi, tingkat kekebalan biokimia ini bisa menurun kembali.
World Health Organization (WHO) mencatat bahwa kekebalan serangga terhadap minimal satu jenis insektisida telah dilaporkan di lebih dari 78 negara.
Ini membuktikan bahwa ketergantungan pada zat kimia tunggal justru mempercepat evolusi ketahanan nyamuk.
Para ahli menyarankan otoritas kesehatan untuk segera melakukan rotasi jenis racun, menggunakan zat penghambat enzim, serta menggalakkan pembersihan sarang nyamuk secara biologis dan manual.
Langkah ini penting dilakukan sebelum racun pembasmi benar-benar berubah fungsi menjadi sekadar "minuman penyegar" bagi populasi nyamuk di masa depan.
Disadur dari Frontiersin.org - Mosquitoes’ most powerful weapon in fighting insecticide has been discovered yang diakses September 2026.

Posting Komentar