Implan Otak Bikin Pasien Lumpuh Bisa Bicara dan Bergerak via Avatar

Sebuah implan otak memungkinkan pasien dengan kelumpuhan berkomunikasi melalui kata-kata sekaligus gerakan tubuh yang diterjemahkan ke avatar virtual.


Sebuah implan otak memungkinkan pasien dengan kelumpuhan berkomunikasi melalui kata-kata sekaligus gerakan tubuh yang diterjemahkan ke avatar virtual.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Sinyal otak diterjemahkan menjadi ucapan tertulis dan gerakan secara bersamaan.
  • Sistem diuji pada dua orang dengan kelumpuhan berat akibat stroke atau ALS.
  • Avatar virtual dapat menampilkan gerakan seperti melambaikan tangan, mengangkat bahu, dan memberi jempol.


BERBICARA bukan cuma soal mengeluarkan kata. Dalam percakapan sehari-hari, kita juga mengangguk, melambaikan tangan, mengangkat bahu, atau memberi gestur kecil untuk menegaskan maksud. 


Bagi orang dengan kelumpuhan berat, bagian komunikasi nonverbal ini ikut hilang.


Kini, peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF), mencoba mengembalikannya lewat brain-computer interface (BCI). 


Sistem ini merekam aktivitas otak melalui 253 elektroda yang ditanam di permukaan otak, lalu menerjemahkannya menjadi kata dan gerakan pada avatar virtual. 


Penelitian yang diterbitkan di Nature Neuroscience melibatkan tiga peserta dengan gangguan berat pada kemampuan berbicara dan bergerak. 


Dua mengalami stroke batang otak, sedangkan satu lainnya mengalami amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Eksperimen bicara sekaligus gestur akhirnya dilakukan pada dua peserta. 


Tantangannya ternyata cukup rumit. Otak tidak menghasilkan pola aktivitas yang persis sama ketika seseorang mencoba berbicara dan bergerak secara bersamaan dibandingkan ketika masing-masing dilakukan sendiri.


Jadi, jika sistem hanya dilatih mengenali kata dan gestur secara terpisah, kemampuannya menurun saat keduanya muncul bersamaan.


Para peneliti kemudian memasukkan contoh perilaku tunggal dan gabungan ke dalam pelatihan. Hasilnya lebih baik. 


Ini penting karena percakapan manusia jelas bukan daftar kata yang ditempeli gerakan seperti stiker WhatsApp.


Aktivitas yang berkaitan dengan bicara dan gerakan tangan memang sebagian menggunakan wilayah otak yang tumpang tindih, terutama di precentral gyrus, bagian korteks yang berperan dalam pengendalian gerakan. 


Sistem BCI harus belajar menghadapi tumpang tindih tersebut, bukan menganggap sinyal bicara dan gerakan sebagai dua jalur yang sepenuhnya terpisah. 


Dalam pengujian waktu nyata, sinyal otak diterjemahkan oleh dua dekoder secara paralel. Kata yang diprediksi muncul sebagai teks, sementara gestur menggerakkan avatar tubuh penuh milik masing-masing peserta.


Pada salah satu peserta dengan ALS, dalam simulasi percakapan, sistem mencapai akurasi rata-rata 75 persen untuk ucapan dan 85 persen untuk gestur. 


Peserta lainnya mencapai 100 persen untuk kedua kanal dalam tiga blok percobaan kecil. Angka tersebut menjanjikan, tetapi belum berarti teknologi ini siap dipakai bebas untuk percakapan sehari-hari.


Penelitian ini masih merupakan proof of concept. Kosakatanya terbatas, gesturnya masih berupa gerakan tertentu, jumlah peserta sedikit, dan sistem masih menggunakan perangkat eksternal yang terhubung dengan kabel. 


Peneliti masih perlu mengembangkan kosakata yang lebih luas, gerakan kontinu, serta pemrosesan yang lebih cepat. 


Namun, arah pengembangannya cukup jelas: BCI masa depan mungkin tidak hanya berusaha mengembalikan kemampuan seseorang untuk “berbicara”, tetapi juga membantu mengembalikan cara mereka berekspresi. 


Karena dalam komunikasi manusia, kadang satu anggukan memang bisa berarti lebih banyak daripada satu paragraf.


Disadur dari ZME Science - Brain Implant Lets a Paralyzed Patient Speak and Gesture at the Same Time yang diakses pada September 2026. 




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama