Survei Pew Research Center menunjukkan lebih banyak orang Indonesia memperkirakan AI mengurangi pekerjaan daripada menciptakan lapangan kerja baru.
Ringkasan
- Sebanyak 37% orang Indonesia memperkirakan AI akan mengurangi jumlah pekerjaan dalam 20 tahun mendatang.
- Hanya 19% yang memperkirakan AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, sementara 32% belum yakin.
- Kekhawatiran soal AI juga berkaitan dengan kesenjangan ekonomi, meski 51% responden Indonesia belum tahu dampaknya.
SEBANYAK 37% responden Indonesia dalam survei Pew Research Center mengatakan AI kemungkinan akan menghasilkan lebih sedikit pekerjaan dalam 20 tahun mendatang.
Sebaliknya, 19% memperkirakan jumlah pekerjaan justru bertambah. Sebanyak 12% menilai AI tidak akan membuat banyak perbedaan, sedangkan 32% menjawab tidak yakin.
Angka tersebut menempatkan Indonesia dalam kelompok negara berpendapatan menengah.
Indonesia termasuk 36 negara yang diteliti dalam survei global Pew Research Center yang dilakukan pada Februari–Mei 2026 tersebut.
Secara keseluruhan, Pew menemukan median 36% responden di 18 negara berpendapatan menengah memperkirakan AI akan mengurangi pekerjaan. Di negara berpendapatan tinggi, angkanya lebih tinggi, yakni 55%.
Namun, ada hal lain yang menarik, ketidakpastian di Indonesia cukup besar. Hampir sepertiga responden belum tahu bagaimana AI akan memengaruhi pekerjaan.
Ini penting karena jawaban “tidak yakin” tidak sama dengan optimisme, artinya banyak orang belum memiliki gambaran jelas tentang ke mana teknologi ini akan membawa pasar kerja.
Pew menemukan bahwa kekhawatiran mengenai kehilangan pekerjaan akibat AI lebih banyak muncul di kalangan usia muda di Indonesia. Pola serupa juga terlihat di India dan Malaysia.
Secara global, kelompok usia 18–34 tahun memang lebih sering memperkirakan AI akan berdampak negatif terhadap pekerjaan di sejumlah negara.
Temuan ini datang bersamaan dengan meningkatnya pengetahuan tentang AI di Indonesia.
Pew mencatat kesadaran AI di kalangan anak muda Indonesia meningkat 19 poin persentase dibandingkan survei sebelumnya, sementara tingkat kesadaran pada kelompok usia 50 tahun ke atas tidak berubah.
Dengan kata lain, semakin banyak anak muda yang mengenal AI, semakin nyata pula pertanyaan tentang nasib pekerjaan mereka.
Teknologi yang awalnya datang sebagai “asisten produktivitas” mulai terlihat seperti rekan kerja yang CV-nya tidak pernah perlu dikirim.
Secara keseluruhan. berdasarkan jajak pendapat Pew Research Center, gelombang pesimisme merata di hampir seluruh belahan dunia. Nigeria menjadi satu-satunya negara yang warganya sedikit lebih optimistis.
Di negara berpenghasilan tinggi, kondisinya jauh lebih kelam. Kecemasan warga Amerika Serikat, misalnya, melonjak ke angka 71%, naik signifikan dibanding dua tahun lalu (64%).
Ironisnya, ketakutan terbesar justru melanda kelompok berpendidikan tinggi.
Setelah bertahun-tahun merogoh kocek dalam-dalam demi gelar sarjana dan pekerjaan white-collar, kompetitor terberat mereka di kantor ternyata hanyalah sebuah algoritma tanpa wujud.
Lantas, apakah AI benar-benar sudah membantai pasar kerja?
Laporan riset dari Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) pada Juli 2026 menunjukkan bahwa dampak sistematis AI terhadap pasar kerja secara keseluruhan sebenarnya masih tergolong marginal.
Meski begitu, para lulusan baru (fresh graduates) memang mulai merasakan iklim perekrutan yang kian keras.
Kepanikan publik saat ini tak lepas dari ulah raksasa teknologi Silicon Valley sendiri.
Demi menggaet investor dan pelanggan, para bos tech rajin menggembar-gemborkan betapa hematnya efisiensi AI karena bisa menggantikan tenaga kerja manusia.
Begitu masyarakat panik dan ketakutan, para CEO mendadak balik arah dan berdalih bahwa AI hanyalah "alat bantu produktivitas". Sayangnya, publik terlanjur paham ke mana arah permainan tersebut.
Pew juga menanyakan apakah AI akan memperlebar kesenjangan antara orang kaya dan miskin.
Di Indonesia, 14% responden memperkirakan AI akan memperbesar kesenjangan tersebut, sedangkan 8% memperkirakan kesenjangan menyempit.
Sebanyak 28% menilai AI tidak akan banyak berpengaruh dan 51% belum yakin.
Menariknya, angka “belum yakin” kembali menjadi jawaban terbesar. Jadi, gambaran publik Indonesia terhadap AI bukan semata-mata pesimistis.
Sebagian besar justru masih berada di wilayah abu-abu: teknologi ini semakin dikenal, tetapi konsekuensi ekonominya belum mudah ditebak.
Survei Pew sendiri mengukur persepsi masyarakat, bukan membuktikan bahwa AI benar-benar akan menghilangkan pekerjaan sebanyak yang diperkirakan responden.
Dampak aktual AI terhadap pasar kerja masih berkembang dan baru akan terlihat lebih jelas seiring teknologi tersebut digunakan secara luas.
Sumber: Pew Research Center - Globally, More People Expect AI to Cause Job Loss Than Growth dan Gizmodo - Pessimism Reigns Over AI and Jobs, Pew Poll Finds yang diakses pada September.

Posting Komentar