Para peneliti memperingatkan bahwa banyak konten lucu kucing di media sosial sebenarnya memperlihatkan tanda stres yang sering diabaikan penonton.
Ringkasan
- Penonton media sosial cenderung menganggap perilaku cemas atau marah pada kucing sebagai hal yang lucu, gemas, atau sekadar main-main.
- Membiarkan kucing stres dapat memicu stres kronis pada hewan, serta meningkatkan risiko luka gigitan atau cakaran terinfeksi bagi pemiliknya.
- Publik perlu belajar memahami bahasa tubuh kucing dan tidak tergiur imbalan engagement dari konten bermasalah.
SIAPA yang tidak betah berjam-jam scrolling TikTok atau Instagram hanya demi melihat aksi kucing berbulu anabul yang bertingkah menggemaskan? Rasanya hampir semua orang pernah melakukannya.
Namun, di balik tingkah lucu yang sering wira-wiri di timeline kita, pernahkah kita berpikir: apakah anabul kesayangan benar-benar bahagia, atau mereka justru sedang berada di ambang tekanan batin?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Anthrozoös mengungkapkan fakta yang lumayan menampar para pecinta kucing.
Peneliti dari Adelaide University, Australia, menemukan bahwa tanda-tanda ketakutan dan stres pada kucing dalam konten online kerap kali disepelekan oleh warganet.
Banyak netizen yang menganggap desisan, cakaran, atau usaha melarikan diri si kucing sebagai hal yang menggemaskan, lucu, atau bahkan dianggap wujud "tanda cinta" kucing kepada pemiliknya.
Mungkin warganet mengira si kucing sedang bergaya ala predator yang gagah, padahal dalam hatinya si anabul mungkin berpikir, "Tolong, lepasin gue sekarang juga sebelum gue cakar muka lu!"
Dipimpin oleh ilmuwan kedokteran hewan Julia Henning, tim peneliti menganalisis 11 video interaksi manusia dan kucing di YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook.
Semua video tersebut diberi label "bermain" (play) oleh para pembuatnya. Padahal, video-video itu secara jelas memperlihatkan tanda-tanda si kucing sedang merasa tertekan, seperti mendesis, merontak, atau berusaha melarikan diri.
Peneliti kemudian memeriksa sekitar 1.100 komentar di video-video tersebut. Hasilnya, sekitar 75 hingga 93 persen komentar justru memberikan respons positif terhadap interaksi berbahaya tersebut.
Para peneliti mengelompokkan tanggapan netizen ke dalam sembilan kategori unik.
Mulai dari anggapan "kalau dia nggak suka, pasti udah kabur" (padahal si kucing sudah terjebak), salah artikan ekspresi (lost in translation), romantisasi stres ("itu tanda cinta kucing"), hingga menganggap kritik netizen lain hanya sekadar celotehan sok tahu.
Algoritma media sosial juga dituduh makin memperparah keadaan, karena platform cenderung mengganjar konten yang memicu interaksi tinggi tanpa peduli apakah isi videonya membuat hewan sengsara atau tidak.
Mengabaikan sinyal penolakan awal dari kucing bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan mental si hewan, yang bisa mengalami stres kronis, tetapi juga berbahaya bagi manusia itu sendiri.
Dari 11 video yang diteliti, 7 di antaranya memperlihatkan cedera pada manusia akibat dicakar atau digigit. Meski sering kali dianggap sepele di kolom komentar, cakaran dan gigitan kucing menyimpan bahaya serius.
Sebagai informasi tambahan, gigitan kucing sering kali membawa bakteri Bartonella henselae yang dapat menyebabkan Cat Scratch Disease (CSD) atau penyakit cakaran kucing.
Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi bakteri ini dapat menyebabkan demam, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dalam kasus langka dapat memicu komplikasi serius pada organ dalam.
Para peneliti menyimpulkan bahwa memberikan edukasi biasa soal bahasa tubuh kucing saja tidak cukup untuk mengubah perilaku manusia.
Masyarakat perlu dilatih untuk lebih peka, menghargai batasan (consent) si kucing, serta memiliki literasi media yang lebih baik agar tidak terus-menerus menoleransi konten yang mengeksploitasi stres hewan demi demi meraup like dan shares.
Disadur dari ScienceAlert - We're Not Taking Harmful Cat Behaviors on The Internet Seriously Enough, Researchers Warn yang diakses pada 2026.

Posting Komentar