Gim free-to-play berisiko memicu perilaku adiktif mirip judi pada pemain muda akibat fitur transaksi mikro yang makin manipulatif.
Ringkasan
- Pengeluaran terbesar di gim free-to-play hanya dikuasai oleh 10% pemain, pola yang persis dengan dunia perjudian.
- Mekanisme seperti loot box, battle pass, dan penawaran terbatas dirancang untuk memancing pengeluaran berulang.
- Para ahli mendesak adanya regulasi ketat untuk melindungi anak-anak dari praktik manipulasi ekonomi gim.
SIAPA yang tidak tergiur dengan label "Gratis"? Gim berformat free-to-play (F2P) memang piawai memikat pemain. Tanpa perlu merogoh kocek di awal, siapa saja bisa langsung mengunduh dan memainkannya.
Namun, seperti jebakan keju pada perangkap tikus, gim gratis sering kali menyimpan biaya tersembunyi yang jauh lebih menguras dompet dibanding gim berbayar biasa.
Lewat artikel opini tamu di jurnal Frontiers in Public Health, Dr. Markus Meschik dan Dr. Mark Griffiths membeberkan bagaimana industri gim memanfaatkan microtransaction atau transaksi mikro untuk meraup keuntungan fantastis.
Meschik dan timnya menemukan bahwa pendapatan gim F2P sangat bergantung pada sekelompok kecil pemain.
Sebanyak 10% pemain teratas, yang kerap dijuluki heavy spenders, menyumbang porsi terbesar dari total pendapatan gim. Pola ketimpangan pengeluaran ini ternyata sangat mirip dengan industri judi.
Ironisnya, para pengabdi top-up ini tidak hanya berasal dari keluarga kaya raya, tetapi juga menunjukkan tingkat kecanduan (gaming disorder dan gambling disorder) yang lebih tinggi.
Mekanisme seperti loot box (kotak hadiah acak), battle pass, hingga penawaran terbatas berdurasi singkat sengaja dirancang menggunakan teknik psikologis yang manipulatif (dark patterns).
Fitur-fitur ini terus mendorong pemain melakukan pembelian berulang secara impulsif.
Ini diperkuat oleh temuan lain di jurnal Damianus Journal of Medicine, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan microtransaction dengan peningkatan risiko kecanduan gim pada remaja.
Di saat perjudian konvensional diawasi ketat oleh hukum di banyak negara, dunia gim justru masih seperti wilayah "Hukum Rimba" yang minim regulasi.
Beban untuk mengawasi anak-anak akhirnya dilimpahkan sepenuhnya kepada orang tua.
Padahal, bertarung melawan algoritma canggih perancang gim demi dompet anak tentu bukan pertarungan yang seimbang bagi para pemegang peran pengasuh.
Para ilmuwan menyarankan agar regulator mulai menyuntikkan "hambatan" (friction) pada proses transaksi digital di gim, misalnya memberi jeda waktu atau konfirmasi berlapis, guna memutus dorongan belanja instan.
Hanya karena mayoritas pemain tidak bangkrut saat bermain gim gratis, bukan berarti sistem tersebut aman.
Ketika mayoritas keuntungan gim didapat dari mengeksploitasi kerentanan sebagian kecil pemain muda, perlindungan yang lebih tegas jelas sangat dibutuhkan.
Disadur dari laman Frontiersin.org - The hidden high costs of ‘free-to-play’ videogames show players need better protection, scientists say yang diakses pada Agustus 2026.

Posting Komentar