Selama lebih dari 50 tahun, dengungan misterius yang terdengar di berbagai belahan dunia membingungkan ilmuwan.
Ringkasan
- "The Hum" telah dilaporkan sejak awal 1970-an di Inggris, lalu menyebar ke berbagai negara.
- Penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar kasus kemungkinan bukan berasal dari suara lingkungan, melainkan bentuk tinnitus frekuensi rendah.
- Meski begitu, ilmuwan belum sepenuhnya menutup kemungkinan bahwa sebagian dengungan memang berasal dari sumber suara eksternal.
BAYANGKAN kamu terbangun di tengah malam karena mendengar suara dengungan rendah yang terus-menerus mengisi ruangan. Suara itu bukan dari kipas angin, kulkas, atau benda di ruangan.
Ketika kamu keluar rumah untuk memeriksanya, tetapi suara itu tetap ada. Yang lebih membingungkan, orang lain di sekitar justru tidak mendengar apa pun.
Fenomena itulah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai "The Hum", salah satu misteri suara paling aneh yang pernah dilaporkan manusia.
Kisahnya bermula pada awal 1970-an di kota Bristol, Inggris. Banyak warga mengaku terganggu oleh dengungan bernada rendah yang paling sering terdengar pada malam hari.
Keluhan mereka membanjiri surat pembaca di harian Bristol Evening Post.
Karena tak ada penjelasan yang memuaskan, berbagai teori bermunculan.
Ada yang menyalahkan mesin pabrik, jaringan listrik tegangan tinggi, gangguan pendengaran seperti tinnitus, bahkan pesawat luar angkasa dan proyek rahasia pemerintah.
Semula, banyak orang menganggap kejadian itu hanya fenomena lokal.
Namun beberapa tahun kemudian laporan serupa bermunculan dari kota-kota lain di sepanjang pesisir Inggris, seperti Hythe, Plymouth, Southampton, hingga Swansea.
Tak lama kemudian, London pun ikut melaporkan kasus serupa.
Fenomena ini kemudian menyeberangi Samudra Atlantik. Di Amerika Serikat, laporan mengenai dengungan misterius muncul di Taos, New Mexico, kemudian di Kokomo, Indiana.
Hingga kini, World Hum Database Project, yang mendokumentasikan laporan sejak 2012, telah mencatat ratusan kasus dari berbagai negara, meski sebagian besar berasal dari Eropa dan Amerika Utara.
Selama lima dekade, ilmuwan berusaha mencari penyebabnya.
Pada sebuah konferensi biologi tahun 1973, sejumlah peneliti menduga sumber dengungan berasal dari gesekan jet stream dengan lapisan udara yang bergerak lebih lambat.
Puluhan tahun kemudian, pada 2015, ilmuwan Prancis mengusulkan teori lain. Mereka menduga suara tersebut mungkin dihasilkan oleh gelombang laut yang terus-menerus menciptakan getaran berfrekuensi sangat rendah.
Namun tak satu pun teori itu mampu menjelaskan mengapa hanya sebagian kecil orang yang dapat mendengar dengungan tersebut.
Alih-alih mencari sumber suara di lingkungan, tim peneliti dari Jerman dan Norwegia memilih pendekatan berbeda. Mereka mempelajari langsung orang-orang yang mengaku mendengar suara tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One melibatkan 28 peserta di Jerman yang secara konsisten mengalami fenomena itu.
Dalam dunia ilmiah, suara semacam ini disebut Low Frequency Sound Percepts (LFSPs), yaitu persepsi terhadap suara berfrekuensi rendah.
Langkah pertama adalah menguji apakah para peserta memiliki kemampuan pendengaran yang luar biasa terhadap suara berfrekuensi rendah.
Hasilnya mengejutkan. Dari seluruh peserta, hanya dua orang yang memang memiliki sensitivitas pendengaran rendah di atas rata-rata.
Artinya, kemampuan mendengar frekuensi rendah bukanlah penjelasan utama mengapa mereka mengalami fenomena tersebut.
Selanjutnya, para peneliti memeriksa kemungkinan lain, yaitu apakah peserta mendengar otoacoustic emissions.
Fenomena ini terdengar rumit, tetapi sebenarnya cukup sederhana. Koklea, organ berbentuk spiral di telinga bagian dalam, ternyata dapat menghasilkan suara yang sangat lemah sebagai hasil kerja sel-sel rambut pendengaran.
Sebagian besar orang tidak pernah menyadari suara tersebut. Namun pada sebagian kecil individu, suara yang dihasilkan telinga sendiri bisa terdengar.
Sayangnya, pemeriksaan ini juga tidak menemukan bukti kuat bahwa otoacoustic emissions menjadi penyebab utama fenomena "The Hum".
Karena dua kemungkinan sebelumnya tidak terbukti, peneliti menyimpulkan bahwa penjelasan yang paling masuk akal adalah tinnitus frekuensi rendah.
Tinnitus umumnya dikenal sebagai bunyi berdenging, berdesis, atau berdering di telinga tanpa adanya sumber suara dari luar. Namun ternyata, tinnitus tidak selalu berbentuk nada tinggi.
Pada sebagian orang, gangguan ini dapat muncul sebagai dengungan bernada rendah yang terdengar terus-menerus.
Menurut Markus Drexl dari Norwegian University of Science and Technology, pemahaman ilmuwan mengenai cara otak dan sistem pendengaran memproses suara frekuensi rendah masih jauh lebih terbatas dibandingkan suara bernada tinggi.
Karena itu, penelitian mengenai fenomena ini masih terus berkembang.
Drexl juga menegaskan bahwa hasil penelitian ini belum sepenuhnya menutup kemungkinan adanya sumber suara eksternal.
Sangat mungkin dalam beberapa kasus memang terdapat suara berfrekuensi rendah dari lingkungan yang sulit dilacak.
Namun, untuk sebagian besar orang yang mengalami "The Hum", tinnitus tampaknya memainkan peran yang jauh lebih besar.
Suara berfrekuensi rendah, terutama yang mendekati infrasonik (di bawah 20 hertz), memiliki sifat yang berbeda dari suara biasa.
Gelombangnya sangat panjang sehingga mampu menembus bangunan dan merambat sangat jauh.
Selain itu, manusia juga kesulitan menentukan arah datangnya suara frekuensi rendah.
Inilah sebabnya seseorang bisa merasa suara berasal dari segala arah sekaligus, sehingga pencarian sumbernya menjadi sangat rumit.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa sebagian orang merasa suara tersebut "mengikuti" mereka ke mana pun berpindah, padahal sumbernya mungkin tidak pernah benar-benar ada di lingkungan sekitar.
Meski misteri "The Hum" belum sepenuhnya terpecahkan, penelitian terbaru ini memberi petunjuk penting.
Dengungan itu, jawabannya mungkin bukan tersembunyi di atmosfer, lautan, atau mesin-mesin raksasa, melainkan berada di dalam sistem pendengaran manusia sendiri.
Disadur dari Popular Mechanics - A Mysterious Hum Has Plagued the Earth for 50 Years. Scientists May Have Finally Found Its Source yang diakses Juni 2026.


Posting Komentar