PR dari Sekolah: Bikin Anak Pintar atau Bikin Stres Satu Rumah?

Dilema kegunaan Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa sekolah dasar terjawab lewat riset yang mengungkap bahwa kualitas tugas jauh lebih penting dibanding durasinya.


Dilema kegunaan Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa sekolah dasar terjawab lewat riset yang mengungkap bahwa kualitas tugas jauh lebih penting dibanding durasinya.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan

  • Riset menunjukkan tidak ada korelasi langsung antara lamanya anak mengerjakan PR dengan meroketnya nilai akademis individu.
  • Banyak sekolah melanggar batas ideal waktu PR, padahal beban berlebih justru menurunkan efektivitas belajar dan memicu stres keluarga.
  • Fungsi utama PR yang baik adalah melatih regulasi diri, manajemen waktu, dan rasa tanggung jawab, bukan sekadar memindahkan tugas kelas ke rumah.


BAGI sebagian orang tua, melihat anak duduk manis di meja belajar setelah pulang sekolah adalah pemandangan yang menenangkan. 


Namun, bagi sebagian lainnya, kata "PR" atau Pekerjaan Rumah adalah pemicu drama tangisan anak dan ketegangan urat saraf bapak-ibu di malam hari.


Perdebatan mengenai perlu atau tidaknya PR untuk anak usia Sekolah Dasar (6 hingga 12 tahun) memang tiada habisnya. Lantas,  bagaimana dunia sains dan riset psikologi pendidikan memandang hal ini?


Menurut Susana Rodríguez Martínez, peneliti dari Educational Psychology Research Group (GIPED) Universitas A Coruña, Spanyol, definisi PR yang paling disepakati ilmuwan adalah tugas dari guru yang diselesaikan di luar jam sekolah. 


Menariknya, data global menunjukkan bahwa durasi pengerjaan PR di berbagai negara sangat kontras. Spanyol dan Italia termasuk yang tertinggi dengan rata-rata di atas 6 jam per minggu.


Sementara negara dengan sistem pendidikan nomor wahid seperti Finlandia dan Korea Selatan justru berada di bawah 3 jam saja per minggu.


Banyak orang tua dan guru percaya rumus sederhana: makin banyak PR, makin pintar si anak. Sayangnya, sains membantah hal tersebut.


Rubén Fernández Alonso, peneliti dari Universitas Oviedo, menegaskan bahwa hubungan antara durasi pengerjaan PR dan prestasi akademis tidak berjalan lurus.


Menurutnya, hubungan keduanya berbentuk parabolik (seperti grafik melengkung). 


Artinya, ada titik optimal di mana PR itu bermanfaat. Begitu beban PR melewati titik tersebut, performa akademis anak justru merosot tajam. Istilahnya overload.


"Ada banyak bukti kuat bahwa komitmen, usaha, emosi, dan kemandirian anak jauh lebih berpengaruh pada nilai sekolah ketimbang sekadar jumlah jam yang dihabiskan untuk melototi buku PR," ungkap Fernández. 


Durasi yang terlalu lama justru menjadi indikator bahwa anak sedang mengalami kesulitan belajar, bukan tanda mereka sedang mendalami materi.


Berdasarkan metode Homework Implementation Method (MITCA) yang dikembangkan para ahli psikologi pendidikan di Spanyol setelah menguji 500 siswa, PR yang berguna harus memenuhi lima kualitas berikut:


  • Beragam (Diverse): Jenis tugas tidak boleh itu-itu saja agar siswa tidak bosan.
  • Spesifik (Specific): Perintah tugas harus jelas menggambarkan kerja mental yang dibutuhkan. Contohnya, "selesaikan operasi pengurangan ini" ketimbang "buka halaman 22 dan kerjakan".
  • Bernilai (Valuable): Guru harus menjelaskan apa gunanya tugas ini bagi kehidupan nyata atau pemahaman mereka.
  • Direncanakan Mingguan (Weekly): Memberikan ruang bagi anak untuk belajar menjadwalkan kapan mereka akan mencicil tugasnya secara mandiri.
  • Dikoreksi Berkala: PR harus diperiksa kembali di kelas untuk menyoroti kelebihan dan kelemahan siswa, bukan sekadar diberi nilai angka tanpa umpan balik.


Riset longitudinal menunjukkan fakta unik: makin dalam orang tua terlibat langsung mendikte jawaban PR anaknya, makin buruk hasil akademis anak tersebut di sekolah. 


Mengapa? Karena esensi PR adalah melatih kemandirian.


Psikolog menyarankan orang tua untuk bertindak sebagai fasilitator, bukan "joki". 


Alih-alih memberikan jawaban langsung saat anak buntu, orang tua sebaiknya memandu dengan pertanyaan pemantik seperti: 


"Bagian mana yang menurutmu membingungkan? Yuk, kita tulis pertanyaannya untuk ditanyakan ke Ibu Guru besok."


Tantangan ini jauh lebih berat bagi anak-anak dengan kebutuhan dukungan pendidikan khusus (seperti autisme atau disleksia). 


Bagi kelompok ini, PR yang tidak disesuaikan dengan kemampuan mereka terbukti meningkatkan kadar stres keluarga dan merusak hubungan hangat antara orang tua dan anak.


Selain memicu stres dan menyita waktu bermain atau istirahat anak, para sosiolog memperingatkan bahwa PR yang berlebihan dapat memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.


Anak-anak dari keluarga berkecukupan memiliki fasilitas rumah yang tenang, akses internet cepat, dan orang tua dengan modal budaya tinggi untuk mendampingi mereka. 


Sebaliknya, anak-anak dari latar belakang kurang mampu sering kali harus berjuang sendiri tanpa bantuan. Jika beban PR terlalu berat, anak yang tertinggal akan makin tertinggal.


Melihat fakta ini, beberapa wilayah di dunia mulai membatasi PR. 


Di Prancis, secara hukum ada larangan formal pemberian PR tertulis untuk tingkat sekolah dasar sejak lama, digantikan dengan tugas lisan ringan seperti membaca atau pengamatan.


Pada akhirnya, sains mengingatkan para pendidik: dalam hal pekerjaan rumah, kuantitas bukanlah jaminan. 


Satu tugas kecil yang dirancang dengan matang dan memicu rasa ingin tahu anak jauh lebih berharga daripada berlembar-lembar kertas kerja yang hanya menghasilkan air mata di meja makan.


Disadur dari Science Media Centre España - Homework in primary school: data and evidence about its usefulness.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama