'Jalan Kaki Nordik' Bisa Redakan Depresi dalam Lima Minggu

Riset terbaru membuktikan latihan jalan cepat ala ski Nordik efektif meredakan gejala depresi berat secara signifikan hanya dalam waktu lima minggu.


Riset terbaru membuktikan latihan jalan cepat ala ski Nordik efektif meredakan gejala depresi berat secara signifikan hanya dalam waktu lima minggu.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian terhadap 64 orang dewasa menunjukkan Nordic walking secara signifikan mengurangi gejala depresi.
  • Perbaikan terbesar terjadi dalam lima minggu pertama, terutama pada peserta dengan depresi berat.
  • Hingga lebih dari separuh peserta mencapai remisi, yakni gejala depresi turun di bawah ambang diagnosis klinis.


Penafian: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti saran medis.


NORDIC WALKING mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Sekilas, aktivitas ini terlihat seperti berjalan kaki biasa sambil membawa dua tongkat mirip yang digunakan pendaki. 


Ternyata, Nordic walking adalah bentuk latihan aerobik yang cukup unik karena melibatkan hampir seluruh tubuh.


Olahraga ini berasal dari Finlandia sebagai metode latihan musim panas bagi atlet ski lintas alam. 


Berkat penggunaan tongkat khusus, gerakan berjalan tidak hanya mengandalkan kaki, tetapi juga mengaktifkan otot lengan, bahu, punggung, hingga inti tubuh. 


Beberapa penelitian bahkan menyebut aktivitas ini dapat melibatkan hingga 90 persen otot tubuh.


Kini, para peneliti menemukan bahwa manfaat Nordic walking tidak berhenti pada kesehatan fisik. Aktivitas ini juga berpotensi menjadi senjata sederhana untuk membantu mengatasi depresi.


Temuan tersebut berasal dari uji coba terkontrol secara acak (randomized controlled trial) yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders. 


Penelitian melibatkan 64 orang dewasa yang mengalami depresi sedang hingga berat dan tidak memiliki kebiasaan berolahraga secara teratur.


Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 48 orang mengikuti program Nordic walking, sementara 16 orang lainnya menjadi kelompok kontrol yang tidak menjalani program olahraga.


Selama 10 minggu, kelompok Nordic walking berlatih dua kali setiap minggu. Setiap sesi berlangsung selama satu jam dan dipandu oleh instruktur terlatih. 


Para peserta juga menggunakan alat pemantau detak jantung untuk memastikan intensitas latihan tetap berada pada tingkat sedang.


Untuk mengukur perubahan kondisi psikologis, para peneliti menggunakan Beck Depression Inventory-II, salah satu instrumen yang umum dipakai untuk menilai tingkat depresi. 


Penilaian dilakukan sebelum program dimulai, pada pertengahan program, dan setelah 10 minggu berakhir.


Hasilnya cukup mencolok. Peserta yang mengikuti Nordic walking menunjukkan penurunan gejala depresi yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok yang tidak berolahraga. 


Yang menarik, sebagian besar peningkatan kondisi mental terjadi relatif cepat, yakni dalam lima minggu pertama.


Peserta yang mengalami depresi berat bahkan menunjukkan respons yang lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan mereka yang mengalami depresi sedang. 


Artinya, kelompok yang gejalanya lebih parah justru memperoleh manfaat besar sejak awal program.


Pada akhir penelitian, sekitar 35 hingga 53,6 persen peserta dalam kelompok Nordic walking mencapai kondisi remisi. 


Dalam konteks kesehatan mental, remisi berarti gejala depresi telah berkurang hingga berada di bawah batas yang digunakan untuk diagnosis klinis.


Kabar baik lainnya, tidak ditemukan cedera maupun masalah kesehatan yang berkaitan dengan program latihan selama penelitian berlangsung.


Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental paling umum di dunia. Kondisi ini jauh lebih kompleks daripada sekadar merasa sedih. 


Penderita depresi sering kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan, mengalami gangguan konsentrasi, kelelahan berkepanjangan, masalah tidur, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.


Dalam kasus yang berat, depresi juga dapat memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.


Sejumlah penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa aktivitas fisik seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, dan yoga dapat membantu mengurangi gejala depresi. 


Di antara berbagai jenis olahraga tersebut, latihan aerobik sering kali memberikan manfaat yang sedikit lebih besar.


Para ilmuwan menduga olahraga membantu meningkatkan produksi berbagai zat kimia otak yang berkaitan dengan suasana hati, seperti endorfin dan serotonin. 


Aktivitas fisik juga dapat mengurangi peradangan kronis, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan rasa percaya diri, serta memberikan kesempatan untuk berinteraksi sosial.


Nordic walking menawarkan keuntungan tambahan karena menggabungkan gerakan tubuh bagian atas dan bawah secara bersamaan. 


Hasilnya, tubuh bekerja lebih aktif dibandingkan berjalan biasa, tetapi tetap tergolong aman dan mudah dilakukan oleh banyak orang.


Para peneliti menilai temuan ini memperkuat gagasan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi bagian penting dari penanganan depresi. 


Berbeda dengan banyak intervensi medis yang membutuhkan biaya tinggi atau fasilitas khusus, Nordic walking relatif murah dan dapat dilakukan di ruang terbuka seperti taman, jalur pejalan kaki, atau area olahraga komunitas.


Karena manfaatnya dapat muncul hanya dalam hitungan minggu, program semacam ini berpotensi menjadi pelengkap yang efektif bagi terapi psikologis maupun pengobatan yang diresepkan tenaga kesehatan profesional.


Disadur dari Medical Xpress - Nordic walking significantly reduces depression symptoms in as little as five weeks, trial finds



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama