Ilmuwan Temukan Komet Asing, Diduga Objek Tertua di Tata Surya Kita

Para astronom menemukan komet antarbintang yang diduga berumur 12 miliar tahun, menjadikannya objek tertua yang pernah melintasi tata surya kita.


Para astronom menemukan komet antarbintang yang diduga berumur 12 miliar tahun, menjadikannya objek tertua yang pernah melintasi tata surya kita.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Komet 3I/Atlas diperkirakan berusia hingga 12 miliar tahun, menjadikannya kandidat benda tertua yang pernah diamati di Tata Surya.
  • Analisis menunjukkan komet ini mengandung air berat dalam jumlah sangat tinggi, pertanda terbentuk di lingkungan yang sangat dingin.
  • Para ilmuwan menduga 3I/Atlas adalah peninggalan era awal galaksi saat pembentukan bintang sedang mencapai puncaknya.


TAHUN lalu, sebuah komet asing bernama 3I/Atlas tertangkap kamera melesat melewati matahari kita. Menariknya, para astronom baru-baru ini mengumumkan, batu luar angkasa ini bukan komet biasa. 


Berdasarkan penelitian terbaru, komet antarbintang ini kemungkinan besar merupakan objek tertua yang pernah disaksikan manusia di dalam tata surya kita sendiri!


Komet 3I/Atlas merupakan "tamu asing" ketiga dari luar tata surya yang berhasil diamati oleh umat manusia. 


Mengapa komet ini begitu menarik perhatian dunia? Jawabannya terletak pada tingkat kecemerlangannya yang luar biasa. 


Cahayanya yang sangat terang memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk membedah materi yang datang dari sudut lain galaksi Bimasakti kita.


Sesaat setelah pertama kali terlihat pada Juli tahun lalu, komet ini langsung memicu kehebohan di internet. 


Bahkan, seorang peneliti terkemuka dari Universitas Harvard sempat berspekulasi bahwa objek ini mungkin saja sebuah pesawat ruang angkasa milik alien. 


Meski teori fiksi ilmiah itu langsung dibantah oleh NASA, ketertarikan publik tidak lantas surut. Kini, lewat bantuan teleskop paling kuat di dunia, tabir misteri di balik 3I/Atlas mulai terkuak.


Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah bereputasi, Nature, komet 3I/Atlas diperkirakan memiliki usia fantastis, yaitu mencapai 12 miliar tahun. 


Sebagai perbandingan, tata surya kita sendiri, termasuk bumi dan matahari, diperkirakan baru terbentuk sekitar 4,5 billion (miliar) tahun yang lalu. 


Artinya, komet ini sudah ada jauh sebelum rumah kita di alam semesta ini terbentuk.


Martin Cordiner mengungkapkan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa komet ini bisa jadi merupakan objek paling purba yang pernah diamati di lingkungan kosmik kita. 


Cordiner adalah pemimpin penelitian ini sekaligus ilmuwan dari Nasa’s Goddard Space Flight Center.


Kendati demikian, ia menambahkan bahwa para ilmuwan tetap membuka ruang bagi skenario lain yang mungkin bisa menjelaskan komposisi kimiawi aneh dari komet tersebut.


Penelitian mutakhir ini berhasil dilakukan berkat analisis rasio elemen kimia (isotop) menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA dan observatorium ALMA di Cile


Hasil pengukuran menunjukkan bahwa komposisi elemen 3I/Atlas sama sekali tidak mirip dengan objek apa pun yang lahir di tata surya kita.


Salah satu bukti paling kuat adalah kandungan deuterium di dalam komet ini yang mencapai 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan komet lokal. 


Deuterium sendiri merupakan jenis hidrogen yang biasanya ditemukan pada air berat (heavy water). 


Menurut penjelasan ilmuwan dari sisi astrokimia, kelimpahan air berat yang sangat tinggi seperti ini hanya bisa terjadi di lingkungan yang luar biasa dingin.


Hal ini sekaligus menobatkan 3I/Atlas sebagai salah satu objek terdingin yang pernah terdeteksi, dengan perkiraan suhu tempat pembentukannya mencapai -243 derajat Celsius.


Dari mana asal sebenarnya komet ini? Hingga kini, lokasi persisnya di galaksi Bimasakti masih menjadi teka-teki besar. 


Namun, para ilmuwan meyakini proses terbentuknya objek antarbintang mirip dengan komet lokal kita, yaitu terlempar keluar akibat guncangan gravitasi hebat saat sebuah planet baru sedang lahir di sistem bintang lain. 


Karena tidak terikat oleh gravitasi bintang mana pun, 3I/Atlas diperkirakan telah menghabiskan waktu miliaran tahun menjelajahi jalur lintasan yang tak terbayangkan luasnya di galaksi kita.


Keunikan lain yang ditemukan ilmuwan adalah minimnya pengayaan kimia pada komet ini. Karakteristik tersebut mengindikasikan bahwa ia terbentuk relatif dekat dengan wilayah kelahiran bintang-bintang purba. 


Cordiner menyebutkan bahwa komet ini kemungkinan adalah "relik" atau peninggalan dari era yang dikenal sebagai cosmic noon (siang kosmik).


Cosmic noon adalah sebuah masa sekitar 10 miliar tahun lalu ketika intensitas pembentukan bintang di alam semesta sedang berada di puncaknya.


Sebelum 3I/Atlas, manusia baru mencatat dua objek antarbintang lainnya, yaitu 1I/’Oumuamua pada tahun 2017 dan 2I/Borisov pada tahun 2019.


Sayangnya, kedua objek terdahulu tidak cukup terang untuk dianalisis kandungan isotopnya sedalam komet kali ini. 


Profesor dari Harvard, Avi Loeb, yang dulu sempat memicu kontroversi karena menyebut ’Oumuamua sebagai teknologi alien, kembali melontarkan dugaan serupa untuk 3I/Atlas.


Meski begitu, komunitas sains global bergerak cepat. 


SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) Institute secara resmi menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak menemukan bukti adanya teknologi luar angkasa buatan pada objek tersebut. 


NASA pun mendukung pernyataan ini dan memastikan komet ini murni fenomena alam ruang angkasa.


Peter VereÅ¡, astronom yang terlibat dalam proses identifikasi komet di Minor Planet Center milik International Astronomical Union (IAU), mengaku sangat antusias dengan temuan ini. 


Namun, ada kabar sedihnya. Komet ini sekarang sedang bergerak menjauhi tata surya kita dan tidak akan pernah kembali lagi. 


Proses pengamatan di masa depan pun dipastikan akan semakin sulit seiring memudarnya cahaya komet tersebut.


Walaupun pengembara tua ini akan segera pergi, para astronom optimis bahwa mereka akan mendeteksi lebih banyak lagi objek antarbintang di tahun-tahun mendatang. 


Harapan besar ini bertumpu pada beroperasinya observatorium baru Vera C. Rubin di Cile.


"Ini barulah awal dari bidang ilmu baru yang sangat menarik," kata Cordiner.


"Masih banyak yang harus kita pelajari dari objek-objek seperti ini, terutama tentang apa yang bisa mereka ceritakan mengenai sejarah galaksi kita," pungkasnya dengan optimis.


Disadur dari artikel The Guardian - Interstellar comet may be oldest object seen in our solar system, scientists say yang diakses Juni 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama