Luput dari Perhatian, Ternyata Bahan Kimia Sehari-hari Ini Cemari Lautan

Berpotensi merusak siklus karbon planet bumi.


Studi global menemukan bahan kimia industri sehari-hari telah menyebar luas di hampir seluruh lautan dunia, termasuk kawasan terumbu karang terpencil.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Studi global menemukan bahan kimia industri sehari-hari telah menyebar luas di hampir seluruh lautan dunia, termasuk kawasan terumbu karang terpencil.
  • Polutan seperti ftalat, pelambat api, dan surfaktan diduga dapat mengganggu mikroba laut serta siklus karbon global.
  • Ilmuwan meminta sistem pemantauan laut diubah agar mampu mendeteksi lebih banyak jenis bahan kimia, bukan hanya pestisida dan obat-obatan.


SELAMA bertahun-tahun, perhatian dunia terhadap polusi laut lebih banyak tertuju pada pestisida dan obat-obatan. Kedua jenis zat ini dianggap sebagai ancaman utama bagi kesehatan manusia maupun ekosistem laut.


Faktanya, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa ada kelompok polutan lain yang selama ini kurang diperhatikan, padahal penyebarannya jauh lebih luas.


Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience mengungkap bahwa bahan kimia industri ternyata telah menyebar hampir ke seluruh lautan dunia.


Bahan kimia yang biasanya ditemukan dalam kemasan plastik, furnitur, produk elektronik, hingga produk perawatan tubuh


Bahkan, zat-zat tersebut ditemukan di wilayah yang selama ini dianggap “masih murni”, seperti terumbu karang di Karibia dan Polinesia Prancis.


Tim peneliti dipimpin oleh Daniel Petras, ahli biokimia dari University of California, Riverside, bersama Jarmo-Charles Kalinski dari Rhodes University Biotechnology Innovation Centre.


Mereka menganalisis ulang 21 kumpulan data publik yang berisi lebih dari 2.300 sampel air laut dari Samudra Pasifik, Hindia, Atlantik Utara, Laut Baltik, hingga Laut Karibia.


Hasilnya cukup mengejutkan. Senyawa industri seperti polyalkylene glycols  ternyata ditemukan jauh lebih luas dibanding pestisida maupun obat-obatan.


Senyawa ini digunakan dalam cairan hidrolik, ftalat dari kemasan PVC, bahan pelambat api pada furnitur dan elektronik, serta surfaktan dari produk perawatan pribadi


“Ini adalah bahan kimia yang kita gunakan setiap hari, jadi penyebarannya sangat luas,” kata Petras.


Polusi “tak kasat mata”


Selama ini, metode pemantauan laut umumnya hanya mencari zat tertentu yang sudah dikenal berbahaya. Pendekatan tersebut membuat banyak senyawa lain luput dari pengamatan.


Dalam studi ini, para peneliti menggunakan teknik nontargeted mass spectrometry, metode canggih yang mampu mendeteksi ribuan senyawa sekaligus, bahkan dalam konsentrasi sangat rendah.


Dengan bantuan analisis komputasi dan teknik molecular networking, mereka tidak hanya menemukan zat yang sudah dikenal, tetapi juga “keluarga” senyawa turunannya.


Secara total, tim menemukan 248 molekul xenobiotik yang telah diketahui. Xenobiotik adalah senyawa organik buatan manusia yang sebenarnya asing bagi sistem alami Bumi.


Penelitian ini disebut sebagai peta kimia polusi organik laut paling komprehensif yang pernah dibuat.


Terumbu karang tak lagi “perawan”


Salah satu temuan paling mencolok adalah keberadaan polutan industri di kawasan terumbu karang terpencil.


Selama ini, lokasi seperti Polinesia Prancis sering dipandang sebagai surga tropis yang masih bersih. Namun, penelitian menunjukkan kenyataannya tidak sesederhana itu.


Aktivitas manusia seperti pertanian, limbah kota, infrastruktur hotel, kapal wisata, hingga penggunaan tabir surya ikut menyumbang polusi.


Peneliti menemukan bahan pelunak plastik dan zat pelambat api bahkan di wilayah-wilayah tersebut.


“Konsep lama tentang wilayah laut yang benar-benar murni tampaknya perlu dipikirkan ulang,” ujar Petras.


Anastazia T. Banaszak dari Universidad Nacional Autónoma de México, yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan limbah perkotaan yang tidak diolah dengan baik bisa memperparah kerusakan terumbu karang.


Nutrisi berlebih dari limbah memicu ledakan alga yang tumbuh lebih cepat daripada karang dan merebut ruang hidupnya.


Masalah ini menjadi semakin serius karena perubahan iklim juga terus meningkatkan tekanan terhadap ekosistem laut.


Ganggu “pompa karbon” laut


Dampak polusi ini ternyata tidak berhenti pada kerusakan ekosistem. Para ilmuwan khawatir bahan kimia sintetis tersebut juga mengganggu siklus karbon global.


Lautan memiliki cadangan karbon besar dalam bentuk dissolved organic matter (DOM), yaitu molekul karbon terlarut di air laut.


Mikroba laut memainkan peran penting dalam mengolah karbon tersebut sehingga sebagian bisa “terkunci” lama di lautan dan membantu mengurangi karbon di atmosfer.


Namun, studi menemukan bahwa di beberapa wilayah muara sungai, senyawa industri dapat menyumbang hingga 63% dari kandungan DOM. Secara global, rata-ratanya diperkirakan mencapai 10%.


Artinya, mikroba laut kini menghadapi kondisi kimia yang mungkin belum pernah mereka alami selama evolusi.


Jika proses biologis ini terganggu, efisiensi “pompa karbon” laut—mekanisme alami yang menyerap karbon dioksida dari atmosfer—bisa ikut terpengaruh.


Para ilmuwan menilai dampak jangka panjangnya masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi potensinya cukup besar untuk dimasukkan dalam model perubahan iklim di masa depan.


Pemantauan laut perlu diubah


Penulis studi menilai dunia perlu mengubah cara memantau polusi laut.


Pemerintah dan lembaga penelitian didorong tidak hanya mengandalkan daftar zat tertentu, tetapi juga memakai pendekatan terbuka yang mampu mendeteksi berbagai bahan kimia baru.


Selain itu, data oseanografi juga dinilai perlu dibuat lebih terbuka dan terstandarisasi agar dapat dipakai bersama oleh komunitas ilmiah global.


Menurut Petras, pendekatan seperti ini bisa menjadi bagian penting dari sistem pemantauan jangka panjang terhadap kesehatan laut dunia.


Penelitian ini menambah bukti bahwa aktivitas manusia meninggalkan jejak kimia yang jauh lebih luas daripada yang selama ini diperkirakan.


Lautan yang tampak biru dan bersih dari permukaan ternyata menyimpan campuran zat sintetis yang terus bertambah, dan dampaknya terhadap Bumi mungkin baru mulai dipahami sekarang.


Disadur dari EosHave We Been Focusing on the Wrong Ocean Pollutants? This Study Maps What We’ve Been Missing.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama