Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang lebih sering bergerak dan lebih sedikit duduk berisiko lebih rendah mengalami komplikasi kehamilan.
Ringkasan
- Duduk terlalu lama selama kehamilan dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai komplikasi.
- Aktivitas ringan seperti berdiri dan berjalan dapat mengurangi risiko hingga sekitar 50 persen.
- Berjalan sekitar 6.000–8.500 langkah per hari berkaitan dengan hasil kehamilan yang lebih baik.
BANYAK ibu hamil mengira bahwa menjaga kehamilan berarti lebih banyak beristirahat dan mengurangi aktivitas. Namun hati-hati, banyak rebahan alias sedentary behavior justru bisa membawa dampak buruk.
Istirahat tentu penting, namun bergerak lebih sering, bahkan hanya melalui aktivitas ringan seperti berdiri atau berjalan santai, dapat membantu menurunkan risiko berbagai masalah kehamilan.
Temuan dari penelitian yang dipimpin oleh ahli epidemiologi Bethany Barone Gibbs dari West Virginia University, AS, itu dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA).
Komplikasi kehamilan atau adverse pregnancy outcomes mencakup berbagai kondisi yang dapat muncul selama masa kehamilan, persalinan, maupun saat melahirkan.
Beberapa contoh yang umum antara lain:
- Kelahiran prematur.
- Diabetes gestasional (diabetes yang muncul saat hamil).
- Bayi lahir dengan ukuran lebih kecil dari yang seharusnya.
- Gangguan tekanan darah tinggi, termasuk preeklamsia.
Menurut para peneliti, kondisi-kondisi tersebut memengaruhi sekitar satu dari lima kehamilan. Dampaknya tidak hanya dirasakan selama kehamilan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan obesitas pada ibu maupun anak di kemudian hari.
Untuk memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari dan kesehatan kehamilan, para peneliti mengikuti 470 ibu hamil dari tiga negara bagian di Amerika Serikat: Iowa, Pennsylvania, dan West Virginia.
Setiap peserta mengenakan alat pelacak aktivitas yang ditempatkan pada paha selama 24 jam sehari selama satu minggu di setiap trimester kehamilan.
Metode ini memungkinkan peneliti mendapatkan gambaran yang jauh lebih akurat mengenai kebiasaan duduk, berdiri, dan berjalan dibandingkan jika hanya mengandalkan kuesioner.
Setelah para peserta melahirkan, tim peneliti meninjau rekam medis mereka untuk mengidentifikasi apakah terjadi komplikasi kehamilan.
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas.
Sekitar 42 persen peserta yang menghabiskan waktu duduk atau tidak aktif selama 10 jam atau lebih setiap hari mengalami komplikasi kehamilan.
Risiko ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok yang rata-rata hanya menghabiskan sekitar tujuh jam sehari dalam keadaan tidak aktif.
Yang paling bermasalah ternyata bukan hanya total waktu duduk, melainkan duduk terus-menerus tanpa jeda.
Periode duduk tanpa bergerak selama satu jam atau lebih berkaitan dengan peningkatan risiko yang paling besar.
Sebaliknya, pada kelompok yang paling sedikit duduk, kurang dari satu dari lima peserta mengalami komplikasi.
Berdiri saja berikan manfaat
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah manfaat aktivitas ringan.
Para peneliti menemukan bahwa sekitar tujuh jam aktivitas ringan per hari dapat menurunkan risiko komplikasi hingga sekitar 50 persen.
Aktivitas ringan yang dimaksud tidak harus berupa olahraga berat. Bahkan mengganti sebagian waktu duduk dengan berdiri sudah memberikan manfaat kesehatan yang terukur.
Khususnya, berdiri lebih sering dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan tekanan darah tinggi selama kehamilan.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perubahan posisi tubuh secara teratur membantu memperbaiki sirkulasi darah dan metabolisme tubuh.
Selain berdiri, berjalan kaki tampaknya memberikan perlindungan tambahan.
Para ilmuwan menemukan bahwa ibu hamil yang berjalan sekitar 6.000 langkah per hari memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang berjalan kurang dari 4.000 langkah.
Manfaat tersebut bahkan meningkat ketika jumlah langkah harian mendekati 8.500 langkah.
Temuan ini menarik karena angka tersebut relatif realistis bagi banyak orang. Sebagai gambaran, berjalan 6.000 langkah setara dengan sekitar 4–5 kilometer, tergantung panjang langkah seseorang.
Selama bertahun-tahun, banyak rekomendasi kesehatan berfokus pada olahraga intensitas sedang hingga berat selama kehamilan. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas ringan juga memiliki peran penting.
Artinya, strategi sederhana seperti:
- Berdiri setiap 30–60 menit.
- Berjalan santai setelah makan.
- Mengurangi waktu duduk berkepanjangan.
- Melakukan pekerjaan rumah ringan sesuai kondisi kesehatan.
dapat memberikan manfaat yang nyata.
Tentu saja, setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda. Ibu hamil dengan komplikasi tertentu tetap perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola aktivitas fisik mereka.
Namun secara umum, hasil penelitian ini memperkuat pesan bahwa tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak.
Bahkan selama kehamilan, sedikit lebih banyak bergerak dan sedikit lebih sedikit duduk dapat menjadi langkah sederhana yang membantu menciptakan kehamilan yang lebih sehat.
Disadur dari Medical Xpress - Light movement in pregnancy linked to lower risk of complications.

Posting Komentar