Bumi Makin Membara: Rekor Tiga Tahun Terpanas dalam Sejarah

Tiga tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah modern, menandai lonjakan pemanasan global yang mengkhawatirkan.


Tiga tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah modern, menandai lonjakan pemanasan global yang mengkhawatirkan.Ilustrasi: Freepik


Ringkasan 

  • 2023, 2024, dan 2025 adalah tiga tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu global.
  • Lonjakan suhu dipicu kombinasi emisi, El Niño, dan perubahan atmosfer. 
  • Bumi telah melampaui batas pemanasan 1,5°C yang dianggap aman.


TAHUN 2023, 2024, dan 2025 resmi tercatat sebagai tiga tahun terpanas yang pernah diukur dalam sejarah manusia. 


Temuan ini diungkap dalam analisis terbaru lembaga riset iklim independen Berkeley Earth, yang menunjukkan bahwa suhu Bumi kini melonjak jauh melampaui pola pemanasan sebelumnya.


Menurut laporan tersebut, suhu rata-rata global pada 2025 berada sekitar 1,35–1,53°C di atas rata-rata praindustri (1850–1900). 


Angka ini hanya sedikit lebih rendah dari 2024 dan 2023, yang masing-masing mencatat anomali suhu hingga 1,62°C di atas tingkat praindustri. 


Dengan kata lain, tiga tahun terakhir membentuk rekor panas berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “warming spike” atau lonjakan pemanasan, sebuah indikasi bahwa laju pemanasan global mungkin semakin cepat dan tidak lagi mengikuti pola stabil seperti beberapa dekade terakhir.


“Pemanasan pada periode 2023–2025 terlihat sangat menonjol dibanding tren jangka panjang,” ujar Robert Rohde, kepala ilmuwan Berkeley Earth


Ia menambahkan bahwa lonjakan ini bisa menjadi tanda bahwa perhitungan lama tentang laju perubahan iklim perlu dievaluasi ulang.


Laporan tersebut juga menegaskan bahwa suhu global kini telah melampaui batas 1,5°C yang disepakati dalam Perjanjian Paris sebagai ambang aman untuk mencegah dampak iklim paling berbahaya. 


Meski pelampauan ini belum bersifat permanen, tren yang muncul sangat mengkhawatirkan.


Temuan Berkeley Earth sejalan dengan analisis dari NOAA’s National Centers for Environmental Information (NCEI), yang juga menyimpulkan bahwa 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam catatan global. 


NOAA mencatat suhu global 2025 sekitar 1,17°C di atas rata-rata abad ke-20.


“Metode pengukuran bisa berbeda, tetapi tren pemanasan globalnya konsisten di semua lembaga,” kata Karin Gleason, ilmuwan iklim dari NOAA.


Para ilmuwan menilai bahwa pemanasan ekstrem ini tidak hanya disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Beberapa faktor tambahan turut memperkuat efeknya, antara lain:



Menariknya, 2025 justru berada dalam fase La Niña lemah, yang biasanya menurunkan suhu global. Artinya, tanpa efek pendinginan ini, tahun 2025 kemungkinan akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah.


Berkeley Earth mencatat sekitar 770 juta orang di dunia mengalami tahun terpanas dalam sejarah lokal mereka pada 2025, terutama di kawasan Asia. Tidak ada satu pun wilayah di dunia yang mencatat rekor suhu terdingin.


Sementara itu, emisi gas rumah kaca global belum menunjukkan penurunan signifikan. Di Amerika Serikat, emisi justru meningkat 2,4% pada 2025 setelah sempat menurun dua tahun sebelumnya.


Kristen Sissener, Direktur Eksekutif Berkeley Earth, menegaskan pentingnya pemantauan iklim berkelanjutan. 


“Data iklim yang terbuka dan akurat sangat penting agar pemerintah dan masyarakat bisa merespons berdasarkan bukti, bukan asumsi,” ujarnya.


Berkeley Earth memperkirakan tahun 2026 kemungkinan akan menjadi tahun terpanas keempat dalam sejarah, menunjukkan bahwa tren panas ekstrem masih akan berlanjut. 


Meski belum bisa dipastikan apakah pemanasan global benar-benar mengalami percepatan permanen, para ilmuwan sepakat bahwa dunia kini memasuki fase iklim yang semakin tidak stabil.


Disadur dari EOS.org – The Past 3 Years Have Been the Three Hottest on Record




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama