Kecerdasan buatan (AI) berhasil mengungkap misteri aturan permainan papan Romawi Kuno pada sebuah batu kapur yang telah membingungkan arkeolog selama puluhan tahun.
Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto Walter Crist/Flinders University via New AtlasRingkasan
- Sebuah batu kapur berukir dari pemukiman Romawi Kuno di Belanda sempat membingungkan para ahli selama lebih dari 40 tahun.
- Peneliti menggunakan teknologi 3D scanning dan kecerdasan buatan (AI) untuk mensimulasikan ratusan aturan permainan kuno.
- Hasil simulasi menunjukkan bahwa artefak tersebut adalah papan blocking game yang berfokus pada strategi menjebak lawan.
PERNAHKAH kamu menemukan sebuah barang antik tapi tidak tahu itu fungsinya untuk apa?
Itulah yang dialami para ahli sejarah saat menemukan sebuah lempengan batu kapur berbentuk oval di pemukiman Coriovallum (sekarang Heerlen), Belanda, pada tahun 1984.
Batu berukuran 21 x 14,5 cm ini memiliki guratan garis silang yang unik.
Meski diduga kuat sebagai papan permainan, tidak ada "buku panduan" yang ikut terkubur bersamanya. Alhasil, fungsi pastinya pun menjadi teka-teki selama 40 tahun.
Misteri ini akhirnya mulai terang benderang berkat tim peneliti internasional dari Maastricht University, Leiden University, hingga Flinders University Australia.
Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kaca pembesar, melainkan menggunakan pemindaian 3D dan bantuan AI.
Dr. Walter Crist dari Leiden University menjelaskan bahwa pola geometris dan tingkat keausan pada batu tersebut sangat konsisten dengan gesekan bidak permainan yang digerakkan berulang kali.
Pertanyaannya, bagaimana cara memainkannya?
Di sinilah peran penting AI bernama Ludi. Para peneliti memprogram dua bot AI untuk saling bertanding secara digital di atas replika papan tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, bot ini disuruh mencoba lebih dari 100 set aturan dari berbagai permainan kuno yang dikenal dalam sejarah manusia, mulai dari haretavl asal Skandinavia hingga gioco dell’orso dari Italia.
Setiap aturan diuji sebanyak 1.000 kali putaran. AI kemudian menganalisis pola gerakan mana yang paling menghasilkan bekas gesekan (aus) yang identik dengan bekas luka pada batu aslinya.
Hasilnya mengejutkan! Pola tersebut paling cocok dengan jenis blocking game atau permainan penghadang.
Matthew Stephenson dari Flinders University menjelaskan bahwa dalam permainan ini, tujuannya bukan memakan bidak lawan seperti catur, melainkan menjebak lawan agar bidaknya tidak bisa bergerak sama sekali.
Diketahui bahwa masyarakat Romawi Kuno memang dikenal sangat gemar bermain papan. Salah satu yang paling populer adalah Ludus Latrunculorum (permainan tentara bayaran) yang merupakan permainan strategi militer.
Melansir Britannica, permainan papan di masa itu bukan sekadar hobi, melainkan simbol status sosial dan cara melatih logika berpikir.
Penggunaan AI dalam kasus Coriovallum ini menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya metode arkeologi tradisional digabungkan dengan simulasi komputer untuk mengidentifikasi artefak yang tidak memiliki catatan tertulis.
Bagi para arkeolog, temuan ini bukan sekadar soal "main game". Ini membuktikan bahwa AI bisa menjadi alat bantu kritis untuk memahami aspek budaya manusia yang tidak meninggalkan jejak tulisan atau karya seni.
Teknologi masa depan ternyata bisa menjadi kunci untuk membuka pintu masa lalu yang sudah terkunci selama ribuan tahun.
Jadi, meskipun kita tidak pernah bisa 100% yakin apakah AI benar-benar menebak aturan yang tepat, pola gesekan pada batu tersebut sulit untuk berbohong.
Berkat bantuan bot-bot pintar ini, misteri besar dari tanah Belanda itu akhirnya punya jawaban yang masuk akal.
Sumber: New Atlas - Ancient Roman board game stumped experts for decades – until AI played.
Posting Komentar