Trik Psikologi Agar Kamu Tetap Konsisten Mengejar Mimpi

Menumbuhkan rasa ragu terhadap keraguan pribadi ternyata menjadi kunci tak terduga dalam memperkuat komitmen seseorang untuk mencapai tujuan jangka panjang.


Menumbuhkan rasa ragu terhadap keraguan pribadi ternyata menjadi kunci tak terduga dalam memperkuat komitmen seseorang untuk mencapai tujuan jangka panjang.Ilustrasi: coookie_studio/Freepik


Ringkasan

  • Meragukan keraguan (meta-cognitive doubt) dapat meningkatkan komitmen pada tujuan hidup jangka panjang.
  • Studi menunjukkan, keraguan terhadap keraguan justru mengurangi dampak negatif action crisis.
  • Teknik ini efektif bila digunakan bijak dan idealnya dibantu pihak lain seperti terapis atau pendidik.


PERNAHKAH kamu merasa berada di persimpangan jalan saat mengejar mimpi?  Misalnya, saat sedang berjuang, tiba-tiba muncul suara di kepala: "Apa aku benar-benar bisa?" atau "Mungkin ini bukan jalanku." 


Dalam psikologi, momen galau berat ini disebut dengan "krisis aksi."


Kabar baiknya, sebuah studi terbaru dari Ohio State University mengungkapkan cara unik untuk melaluinya. 


Alih-alih mencari afirmasi positif yang terkadang terasa palsu, kamu justru disarankan untuk meragukan keraguanmu itu sendiri.


Patrick Carroll, Profesor Psikologi di The Ohio State University at Lima, melakukan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Self and Identity


Ia menemukan bahwa ketika seseorang yang sedang bimbang diinduksi untuk mengalami "keraguan metakognitif" (meragukan validitas pikiran mereka sendiri), mereka justru menjadi lebih berkomitmen pada tujuannya.


"Secara logika, mungkin kita berpikir ragu ditambah ragu hasilnya akan semakin ragu. Namun, studi ini menemukan hal sebaliknya: ragu ditambah ragu sama dengan berkurangnya keraguan," ujar Carroll.


Dalam eksperimennya, peserta yang sedang ragu diminta melakukan latihan menulis tentang pengalaman masa lalu mereka saat merasa tidak yakin dengan pikiran mereka sendiri. 


Hasilnya, mereka yang meragukan kebenaran pikiran negatifnya justru merasa lebih mantap untuk terus maju.


Eksperimen lain bahkan menggunakan cara yang lebih unik. Peserta diminta mengisi survei tentang keraguan mereka menggunakan tangan yang tidak dominan (tangan kiri bagi yang tidak kidal). 


Tulisan tangan yang gemetar dan berantakan secara bawah sadar memberi sinyal ke otak bahwa pikiran yang sedang ditulis tersebut, yakni keraguan mereka, mungkin tidak benar atau tidak valid. 


Hasilnya tetap sama, komitmen mereka terhadap mimpi justru meningkat.


Namun, Carroll mengingatkan bahwa teknik ini sulit dilakukan sendirian karena kita sering kali terlalu "setuju" dengan pikiran negatif kita sendiri. Di sinilah peran terapis, guru, orang tua, atau sahabat menjadi krusial.


Mereka bisa membantu kita mempertanyakan kembali apakah keraguan yang kita rasakan itu nyata atau hanya sekadar rasa takut sesaat. 


Namun, hal ini harus dilakukan dengan bijak agar tidak berubah menjadi rasa percaya diri yang buta atau kesombongan.


Melansir dari Psychology Today, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep Self-Efficacy atau efikasi diri yang dipopulerkan oleh Albert Bandura


Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk berhasil dalam situasi tertentu.


Dengan meragukan keraguan, kita sebenarnya sedang meruntuhkan tembok mental yang menghambat efikasi diri kita. 


Saat tembok itu runtuh, motivasi intrinsik kembali mengalir, membuat hambatan yang tadinya terlihat raksasa menjadi tampak lebih kecil dan bisa diatasi.


Jadi, lain kali kalau kamu mulai ragu bisa mencapai cita-citamu, coba tanyakan pada dirimu sendiri: "Seberapa yakin aku bahwa keraguanku ini benar?" Jangan-jangan, keraguanmu itulah yang sebenarnya salah.


Disadur dari EurekAlert.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama