Polusi Cahaya Bisa Picu Stres Otak dan Peradangan Pembuluh Darah

Paparan cahaya lampu buatan di malam hari terbukti memicu stres pada otak dan peradangan pembuluh darah yang meningkatkan risiko jantung.


Paparan cahaya lampu buatan di malam hari terbukti memicu stres pada otak dan peradangan pembuluh darah yang meningkatkan risiko jantung.Ilustrasi: onlyyouqi/Freepik


Ringkasan

  • Paparan cahaya buatan di malam hari memicu aktivitas stres pada otak yang berujung pada peradangan arteri.
  • Risiko penyakit jantung meningkat secara bertahap seiring dengan tingginya intensitas cahaya malam di lingkungan tempat tinggal.
  • Langkah sederhana seperti mematikan lampu kamar dan menghindari gadget sebelum tidur terbukti melindungi kesehatan jantung.


BAGI kamu yang tinggal di perkotaan, pemandangan lampu jalan atau papan reklame yang terang benderang di malam hari mungkin terasa biasa. 


Namun, sebuah studi terbaru yang dipresentasikan pada Scientific Sessions 2025 dari American Heart Association membawa kabar yang cukup mengejutkan: polusi cahaya malam ini ternyata "jahat" bagi jantung kita.


Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Shady Abohashem dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School mengungkapkan bahwa cahaya malam bukan sekadar gangguan tidur, melainkan pemicu reaksi biologis yang berbahaya. 


Menggunakan teknologi canggih PET/CT scan, para peneliti menemukan bahwa orang yang terpapar cahaya malam lebih terang memiliki aktivitas stres yang tinggi di otak.


Mekanismenya ternyata cukup sistematis. Ketika otak kita menangkap sinyal stres akibat paparan cahaya saat seharusnya kita beristirahat, otak akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. 


Sinyal ini memicu respons imun yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah (arteri).


"Seiring berjalannya waktu, proses ini dapat berkontribusi pada pengerasan arteri (aterosklerosis) dan meningkatkan risiko serangan jantung serta stroke," jelas Dr. Abohashem. 


Bayangkan, setiap peningkatan standar paparan cahaya malam dikaitkan dengan kenaikan risiko penyakit jantung hingga 35% dalam periode lima tahun.


Risiko ini ternyata jauh lebih kuat pada masyarakat yang tinggal di area dengan stresor tambahan, seperti kebisingan lalu lintas yang tinggi atau lingkungan dengan status ekonomi rendah. 


Hal ini menunjukkan bahwa polusi cahaya bekerja bersama faktor lingkungan lain dalam merusak kesehatan kardiovaskular kita.


Penelitian dari Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism juga menyebutkan bahwa paparan cahaya biru (blue light) dari perangkat elektronik sebelum tidur dapat menekan produksi melatonin secara drastis. 


Melatonin bukan hanya hormon tidur, tapi juga antioksidan alami yang melindungi pembuluh darah. Tanpa melatonin yang cukup, jantung kehilangan salah satu "perisai" alaminya.


Tips Sederhana untuk Melindungi Jantung


Kabar baiknya, kita bisa meminimalkan risiko ini dengan langkah-langkah praktis di rumah:


  1. Matikan Lampu Total: Usahakan tidur dalam kondisi kamar gelap gulita. Jika takut gelap, gunakan lampu tidur dengan cahaya merah yang redup karena spektrum warna merah paling minim mengganggu jam biologis.
  2. Puasa Gadget: Hindari layar HP, tablet, atau TV setidaknya 30–60 menit sebelum tidur.
  3. Gunakan Tirai Tebal: Jika lampu jalan di depan rumah sangat terang, gunakan tirai jenis blackout untuk menghalau cahaya masuk ke kamar.


Dr. Abohashem berharap temuan ini mendorong pemerintah untuk lebih bijak dalam mengatur pencahayaan kota, seperti memasang lampu jalan dengan pelindung agar cahaya tidak menyebar ke pemukiman penduduk. 


Ternyata, tidur dalam kegelapan bukan cuma soal kenyamanan, tapi soal menjaga detak jantung kita agar tetap sehat hingga tua nanti.


Disadur dari SciTech Daily.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama