Meski masih jauh dari penerapan klinis, riset ini membuka kemungkinan bagi pasangan yang tidak memiliki sel telur fungsional untuk memiliki anak dengan hubungan genetik langsung.
Ringkasan
- Peneliti menciptakan embrio manusia dari inti sel kulit dan sperma, tanpa menggunakan sel telur alami.
- Teknik ini memakai metode somatic cell nuclear transfer (SCNT), biasanya digunakan untuk kloning hewan.
- Meski hasilnya belum sempurna, penelitian ini bisa membuka jalan baru bagi pengobatan infertilitas ekstrem.
PARA ilmuwan di Oregon Health & Science University menciptakan embrio manusia awal dengan menggabungkan inti sel kulit dan sperma ke dalam sel telur donor yang telah dihapus materi genetiknya.
Penelitian ini menggunakan teknik yang disebut “somatic cell nuclear transfer” (SCNT) — metode yang pernah digunakan untuk mengkloning domba legendaris Dolly pada 1996.
Caranya, ilmuwan mengambil inti sel kulit manusia, memasukkannya ke dalam sel telur donor yang sudah dihapus DNA-nya, lalu membuahi sel tersebut dengan sperma.
Hasilnya adalah embrio awal yang berkembang selama beberapa hari di laboratorium, seperti dilaporkan dalam jurnal Nature Communications (2025).
Menariknya, proses ini memunculkan fenomena yang disebut tim peneliti sebagai “mitomeiosis”, yakni pembelahan mirip meiosis (proses pembentukan sel telur atau sperma) pada genom somatik atau tubuh.
Jika kelak disempurnakan, metode ini bisa membantu perempuan yang tidak dapat memproduksi sel telur sendiri, misalnya karena usia, kondisi medis, atau terapi kanker.
Namun, hasil awal menunjukkan banyak tantangan. Dari 90 embrio yang diamati, lebih dari separuh gagal membagi kromosom dengan benar.
Dalam sel telur alami, kromosom dari ayah dan ibu biasanya berpisah rapi dan teratur. Tapi dalam eksperimen ini, pemisahan berjalan acak—beberapa sel kehilangan kromosom, sebagian lainnya menggandakan beberapa salinan.
Hal ini menciptakan ketidakseimbangan genetik yang membuat sebagian besar embrio berhenti berkembang di tahap awal.
Untuk membantu pembuahan, para ilmuwan memberi “kejutan” listrik dan senyawa kimia bernama roscovitine agar sel buatan itu dapat membelah seperti sel telur normal.
Meski begitu, hanya sekitar 9 persen embrio yang mencapai tahap blastokista, jauh di bawah 59 persen pada pembuahan normal dalam IVF.
“Masih banyak misteri,” kata Shoukhrat Mitalipov, peneliti utama studi ini.
“Kami belum tahu apakah kegagalan terjadi karena jumlah kromosom yang salah atau karena DNA kulit belum sepenuhnya diprogram ulang seperti DNA sel telur.”
Eksperimen serupa pada tikus pernah berhasil menghasilkan keturunan hidup, tapi proses reproduksi manusia jauh lebih kompleks. Selain itu, para peneliti tidak membiarkan embrio berkembang lebih dari enam hari, sesuai etika riset internasional.
Bila suatu hari kendala biologis ini bisa diatasi, metode ini dapat memberi harapan bagi perempuan tanpa ovarium atau mereka yang kehilangan sel telur akibat usia atau pengobatan kanker.
Bayangkan—suatu hari nanti, sel kulit manusia bisa “diubah” menjadi sel telur fungsional, memungkinkan kelahiran dari sumber genetik yang sebelumnya tak mungkin.
Disadur dari StudyFinds.

Posting Komentar