Peradaban Alien Supermaju Itu Mungkin Pernah Ada, tapi Sudah Hancur

Sebuah studi mempertanyakan kegunaan Skala Kardashev yang selama ini digunakan untuk mendeteksi peradaban alien berdasarkan konsumsi energinya.


Sebuah studi mempertanyakan kegunaan Skala Kardashev yang selama ini digunakan untuk mendeteksi peradaban alien berdasarkan konsumsi energinya.Ilustrasi: kjpargeter


Ringkasan 

  • Skala Kardashev kini dianggap kurang praktis karena tidak menjamin jejak peradaban alien bisa dideteksi dari Bumi.
  • Megastruktur alien seperti Dyson Sphere mungkin mustahil bertahan lama, sebab bisa hancur oleh “tabrakan berantai” antar elemen.
  • Alih-alih fokus pada besar konsumsi energi, pencarian alien sebaiknya mengutamakan jejak teknologi yang realistis terdeteksi.


SUDAH hampir 60 tahun sejak Nikolai Kardashev memperkenalkan skala tiga tingkat untuk mengukur kemajuan peradaban berdasarkan kemampuannya memanfaatkan energi. 


Mulai dari menguasai seluruh energi planet (Tipe I), energi bintang seperti matahari (Tipe II), hingga energi galaksi (Tipe III). 


Kini, gagasan ini mulai dikritisi oleh para ilmuwan, salah satunya Brian C. Lacki, astronom teoretis dari proyek Breakthrough Listen


Dalam publikasi barunya di The Astrophysical Journal, Lacki menyarankan agar fokus SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) bergeser dari konsumsi energi ke “visibilitas teknologi.”


Lacki menilai bahwa walau peradaban alien sudah mencapai level Tipe II atau lebih tinggi, bukan berarti mereka membangun struktur besar seperti Dyson Sphere, cangkang raksasa yang mengelilingi bintang untuk memanen energi. 


Ada kemungkinan mereka malah menciptakan sistem yang efisien, tersembunyi, dan nyaris tak meninggalkan jejak energi yang bisa kita deteksi dari jauh. 


Apalagi, teknologi masa depan kemungkinan akan beralih ke sistem digital atau kuantum yang jejaknya sangat minim.


Lalu bagaimana dengan ide megastruktur seperti Dyson Sphere? Menurut Lacki, struktur padat sebesar itu sangat sulit diwujudkan secara teknis. Gravitasi dan tekanan material akan membuatnya rawan rusak. 


Alternatifnya adalah membangun swarms, kumpulan jutaan satelit kecil yang mengelilingi bintang seperti kawanan lebah. Idenya masuk akal, tapi tetap punya masalah serius.


Masalah terbesar adalah collisional cascade atau efek tabrakan berantai. Bayangkan satu satelit kecil gagal dikendalikan dan menabrak lainnya, pecahan itu lalu menabrak yang lain, dan seterusnya. 


Dalam waktu singkat, seluruh kawanan berubah jadi debu angkasa. Ini mirip fenomena Kessler Syndrome yang kini menghantui orbit Bumi akibat satelit buatan manusia.


“Tanpa perawatan aktif dan konstan, megaswarm seperti ini bisa sangat rapuh dalam skala waktu kosmik,” tulis Lacki.


Artinya, struktur teknologi alien yang sangat besar justru mungkin terlalu tidak stabil untuk bertahan lama, apalagi bisa kita deteksi dari jarak puluhan tahun cahaya. 


Maka, SETI sebaiknya tidak hanya mencari tanda-tanda energi raksasa, tapi lebih realistis: adakah jejak yang memang bisa kita lihat dengan teknologi sekarang?


Skala Kardashev memang tetap berguna sebagai inspirasi dan kerangka berpikir ilmiah maupun fiksi ilmiah. 


Tapi jika tujuannya menemukan alien sungguhan, mungkin waktunya kita lebih memperhatikan “apa yang bisa dilihat”, bukan hanya membayangkan yang megah dan spekulatif.


Disadur dari The Debrief.


Post a Comment

أحدث أقدم