Sayangnya, dua pertiga kematian koala terjadi saat mereka berada di permukaan tanah, bukan di pohon.
Ringkasan
- Koala hanya turun ke tanah 2–3 kali per malam, total sekitar 10 menit per hari.
- Dua pertiga kematian koala terjadi saat di tanah, akibat tabrakan kendaraan atau serangan anjing.
- Penelitian ini membuka wawasan baru untuk strategi konservasi yang lebih efektif dan berbasis data perilaku koala.
DALAM riset kolaboratif antara University of Queensland dan University of the Sunshine Coast, para peneliti menelusuri secara detail kebiasaan koala saat berada di tanah, sesuatu yang selama ini masih gelap bagi dunia sains.
Padahal, memahami pola gerak mereka di tanah sangat penting, mengingat ancaman terbesar terhadap koala justru terjadi ketika mereka harus berjalan dari satu pohon ke pohon lain.
“Koala memang hewan arboreal, penghuni pohon sejati,” kata Gabriella Sparkes, mahasiswa PhD dan penulis utama riset ini.
“Tapi karena habitatnya terus terfragmentasi akibat penggundulan hutan, mereka terpaksa turun dan berjalan di tanah — dan di situlah risiko paling besar menanti.”
Untuk mengisi celah pengetahuan ini, tim peneliti memasang accelerometer (alat pelacak gerakan tiga dimensi) dan GPS resolusi tinggi pada 10 ekor koala liar selama delapan hari.
Hasilnya? Koala hanya turun ke tanah sekitar tiga kali per hari, dengan durasi total rata-rata hanya 45 menit dalam sehari. Itu berarti kurang dari 1% dari total waktu hidupnya!
Lebih lanjut, saat berada di tanah, koala rata-rata berjalan sejauh 260 meter dengan kecepatan santai 1,7 km/jam.
Hanya sekitar 7% waktu di tanah yang mereka gunakan untuk “melompat” atau bounding, gerakan cepat seperti lari, yang bisa mencapai 10,4 km/jam.
Selebihnya? Mereka duduk, diam, dan tampak hati-hati dalam menilai pohon berikutnya yang akan dipanjat.
Menurut Sparkes, perilaku ini bisa mencerminkan dua hal:
Pertama, koala sedang berhati-hati menilai situasi sebelum memanjat pohon berikutnya.
Kedua, gerakan lari atau bounding itu butuh energi besar, jadi mereka menghemat tenaga sebisa mungkin.
Penelitian ini jadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya perilaku halus koala di tanah berhasil terdokumentasi dengan akurat.
Temuan ini juga menantang pendekatan konservasi lama, yang lebih menekankan pelestarian pohon tanpa terlalu mempertimbangkan struktur lanskap yang mendorong atau menghalangi pergerakan aman koala.
“Jika kita bisa tahu jenis pohon atau kondisi habitat yang bikin koala betah di atas pohon lebih lama, kita bisa mengelola lanskap agar mereka tidak perlu turun ke tanah,” kata Sparkes.
Ke depannya, strategi konservasi bisa mencakup konektivitas kanopi (agar koala bisa pindah pohon tanpa turun), jenis vegetasi yang tepat, dan desain habitat yang meminimalkan celah antar pohon.
Semua itu demi satu tujuan sederhana tapi krusial: menjaga koala tetap di atas, dan jauh dari bahaya di bawah.
Disadur dari Sci.News.

إرسال تعليق