Temuan baru menunjukkan hominin memasuki Eurasia sekitar 200.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, mendahului situs Dmanisi di Georgia.
Ringkasan:
- Tim peneliti menemukan bukti kehadiran hominin di Eurasia sejak 2 juta tahun lalu.
- Fosil tulang yang ditemukan di situs Grăunceanu menunjukkan tanda-tanda pemotongan yang dilakukan oleh alat batu.
- Penemuan ini juga menunjukkan, hominin telah memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi untuk hidup di lingkungan yang berbeda-beda.
ngarahNyaho - Kapan nenek moyang hominin manusia pertama kali meninggalkan Afrika dan bermigrasi ke Eropa dan Asia?
Setiap kali ilmuwan mengira mereka memiliki tanggal yang pasti atas pertanyaan itu, selalu saja ada penemuan baru yang membuat garis waktu tersebut mundur lebih jauh lagi.
Kapan hominin awal, nenek moyang yang berkerabat dekat dengan manusia, pertama kali meninggalkan Afrika untuk memulai penyebaran lambat mereka ke seluruh dunia terus menjadi bahan diskusi di kalangan antropolog.
Konsensus umum adalah bahwa hominin hadir di Eurasia setidaknya 1,8 juta tahun yang lalu, tetapi beberapa jejak hominin yang bersifat sementara telah mengisyaratkan kehadiran yang lebih awal.
Bukti baru oleh tim peneliti internasional kini mendorong tanggal tersebut kembali ke hampir 2 juta tahun yang lalu.
Bukti keberadaan hominin di Eurasia lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya ini didasarkan pada beberapa tulang fosil yang ditandai dengan potongan dari situs Grăunceanu, Rumania.
Situs Grăunceanu ditemukan di Lembah Sungai Olteţ bersama dengan beberapa lokasi fosil lainnya. Sebagian besar situs ini awalnya digali pada tahun 1960-an.
Tidak adanya tulang hominin di situs tersebut berarti para antropolog harus mencari bukti lain keberadaan hominin, seperti peralatan batu atau tanda-tanda penggunaan alat.
Lebih dari 5.000 tulang dari Grăunceanu dan situs sekitarnya diperiksa dengan cermat untuk mencari bukti bekas sayatan dari peralatan batu yang digunakan untuk mengambil daging hewan.
Dari jumlah tersebut, tim mengidentifikasi sedikitnya 20 tulang, yang mereka yakini menunjukkan tanda-tanda bekas potongan.
Data biostratagrafi dan teknik penanggalan uranium-timbal presisi tinggi digunakan untuk memperkirakan usia tulang-tulang tersebut, yang menunjukkan usia minimumnya 1,95 juta tahun yang lalu.
Temuan ini dipublikasikan di Nature Communications.
Tim peneliti ini dipimpin oleh Sabrina Curran, profesor antropologi di Universitas Ohio; Claire Terhune, profesor antropologi di Universitas Arkansas; dan Alexandru Petculescu, dari Institut Speleologi “Emil Racoviţă” di Bucharest.
Terhune mencatat bahwa tim harus mengatasi beberapa tantangan, termasuk tidak adanya tulang hominin dan peralatan batu di lokasi tersebut.
Mereka juga harus berhadapan dengan fakta bahwa tulang-tulang itu digali lebih dari 50 tahun lalu, yang membuat hubungan tulang-tulang satu dengan yang lain dan alasan pasti di balik penumpukannya sulit ditentukan.
Fosil-fosil tersebut saat ini disimpan di Institut Speleologi “Emil Racoviţă” dan Museum Oltenia.
Meskipun para peneliti telah meneliti tulang-tulang tersebut secara berkala sejak penemuannya, baru pada dekade terakhir ini mereka terpikir untuk menelitinya ulang dan melakukan pemeriksaan cermat pada permukaan setiap tulang.
“Awalnya kami tidak berharap menemukan banyak hal,” kata Curran. “Namun selama pemeriksaan rutin koleksi kami menemukan beberapa tulang yang terluka."
Hal tersebut memicu penyelidikan lebih lanjut tim peneliti yang kemudian bekerja sama dengan Dr. Briana Pobiner dari Smithsonian Institution dan Dr. Michael Pante dari Universitas Negeri Colorado,
"Penemuan tanda-tanda khas lainnya di berbagai tulang, yang menunjukkan adanya kegiatan pemotongan hewan secara sengaja,” lanjut Curran seperti dikutip dari EurekAlert.
Sebelum penemuan ini, situs Dmanisi di negara Georgia diperkirakan mengandung bukti tertua aktivitas hominin di luar Afrika, yang berasal dari sekitar 1,8 juta tahun lalu.
Konfirmasi usia tanda-tanda tersebut menunjukkan kehadiran hominin di Eurasia 200.000 tahun lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya serta penggunaan alat oleh mereka, memberikan beberapa bukti paling awal aktivitas hominin di area ini.
Tim ini menggabungkan penelitian ini dengan analisis isotop yang dipimpin oleh Virgil DrăguÅŸin dari Institut Speleologi “Emil Racoviţă” yang membantu merekonstruksi lingkungan tempat tinggal hominin ini saat itu.
Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah ini akan mengalami fluktuasi suhu musiman, seperti saat ini, tetapi kemungkinan besar tingkat curah hujannya lebih tinggi.
Ini mungkin berbeda dari lingkungan tempat hominin ini awalnya beradaptasi di Afrika.
Analisis fosil hewan dari situs tersebut juga menunjukkan mereka telah menjumpai berbagai fauna baru, termasuk badak berbulu, kucing bertaring pedang, trenggiling, dan mammoth.
“Situs Grăunceanu mewakili momen penting dalam pemahaman kita tentang prasejarah manusia,” tambah Curran. |Sumber: EurekAlert

Posting Komentar