Model matematika menunjukkan bagaimana nutrisi sarapan mempengaruhi kesehatan dan tingkat energi pria dan wanita.
Menu sarapan perempuan dan pria semestinya berbeda bila ingin turunkan berat badan. (Gambar ilustrasi dibuat AI/Pikaso/Freepik)
ngarahNyaho - Bila suami memilih banyak katbohidrat atau istri lebih memilih yang berlemak kala sarapan sepertinya itu kombinasi yang baik. Menurut studi dari University of Waterloo, perbedaan itu bisa membantu turunkan berat badan.
Studi tersebut menggunakan model matematika metabolisme pria dan perempuan.
Hasilnya menunjukkan bahwa metabolisme pria rata-rata merespons lebih baik terhadap makanan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti gandum dan biji-bijian setelah berpuasa selama beberapa jam.
Di sisi lain, perempuan lebih baik mengonsumsi makanan dengan persentase lemak lebih tinggi, seperti telur dadar dan alpukat.
“Gaya hidup merupakan faktor besar dalam kesehatan kita secara keseluruhan,” kata Stéphanie Abo, kandidat PhD di bidang matematika terapan dan penulis utama studi tersebut.
“Kita menjalani kehidupan yang sibuk, jadi penting untuk memahami bagaimana keputusan yang tampaknya tidak penting, seperti sarapan apa, dapat memengaruhi kesehatan dan tingkat energi kita.
"Baik saat mencoba menurunkan berat badan, mempertahankan berat badan, atau sekadar menjaga energi, memahami dampak pola makan terhadap metabolisme adalah hal yang penting.”
Studi ini didasarkan pada kesenjangan yang ada dalam penelitian mengenai perbedaan jenis kelamin dalam cara pria dan wanita memproses lemak.
“Kita seringkali memiliki lebih sedikit data penelitian tentang tubuh perempuan dibandingkan pada tubuh laki-laki,” kata Anita Layton, profesor di bidang matematika terapan.
“Dengan membangun model matematika berdasarkan data yang kami miliki, kami dapat menguji banyak hipotesis dengan cepat dan mengubah eksperimen dengan cara yang tidak praktis jika dilakukan pada subjek manusia.
“Karena wanita rata-rata memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan pria, Anda mungkin mengira mereka akan membakar lebih sedikit lemak untuk energi, namun ternyata tidak,” kata Layton.
“Hasil dari model ini menunjukkan bahwa wanita menyimpan lebih banyak lemak segera setelah makan, namun juga membakar lebih banyak lemak saat berpuasa.”
Ke depan, para peneliti berharap dapat membangun versi model metabolisme yang lebih kompleks dan melampaui pertimbangan jenis kelamin biologis dengan memasukkan berat badan, usia, atau tahapan seseorang dalam siklus menstruasi.
Studi Abo dan rekan-rekannya tersebut terbit di Computers in Biology and Medicine. |
Sumber: EurekAlert
.jpeg)
Posting Komentar