Bisa Tampil Menawan, Cara Mengenali Orang dengan Kepribadian Predator

Orang dengan kepribadian predator dapat menimbulkan kerusakan besar. Mengenali pola perilakunya mungkin membantu kita menghindari menjadi korbannya.


Orang dengan kepribadian predator dapat menimbulkan kerusakan besar; mengenali pola perilakunya mungkin membantu kita menghindari menjadi korbannya.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan 

  • Psikopati tidak selalu tampak seperti kriminal brutal. Sebagian orang dengan sifat predator bisa tampak baik secara sosial.
  • Mereka dapat terlihat sangat percaya diri, menawan, dan meyakinkan, bahkan ketika sedang berbohong.
  • Yang perlu dikenali bukan diagnosisnya, melainkan pola perilaku: manipulatif, eksploitatif, pendendam, tanpa empati, dan sulit bertanggung jawab.


SELAMA ini, pemahaman tentang psikopati banyak bertumpu pada penelitian terhadap narapidana. 


Salah satu tokoh utamanya adalah psikolog Robert Hare, yang pada 1980 mengembangkan daftar 20 ciri psikopati, mulai dari kebiasaan berbohong hingga kurangnya empati. 


Masalahnya, pendekatan itu terutama menggambarkan psikopat yang tertangkap.


Bagaimana dengan mereka yang tidak pernah masuk penjara, bahkan bisa menjadi eksekutif, profesional, atau tokoh berpengaruh?


Pertanyaan itulah yang diteliti Karen Mitchell, yang berlatar belakang konsultasi perubahan budaya perusahaan. 


Dalam riset doktoralnya, ia mewawancarai para profesional dari berbagai bidang yang pernah berhadapan dengan orang-orang yang menunjukkan pola kepribadian predator.


Mitchell menemukan pola yang berulang. Ia mengelompokkannya menjadi empat kelompok besar:

  • kebutuhan mengontrol dan merasa superior; 
  • perilaku eksploitatif serta kejam; 
  • kemampuan membangun kedok normal sambil berbohong dan memanipulasi; 
  • serta kurangnya empati, penyesalan, dan keterikatan emosional.


Yang menarik, para predator ini tidak selalu terlihat “menyeramkan”. Justru sebaliknya. Mereka bisa sangat percaya diri dan tenang ketika berbohong. 


Bagi kebanyakan orang, ketahuan berbohong biasanya memicu rasa malu atau gugup. Pada orang dengan sifat predator yang kuat, respons itu bisa nyaris tidak terlihat.


Di sinilah otak sosial kita bisa dibuat kebingungan. Kita cenderung menganggap kepercayaan diri sebagai tanda kredibilitas. Padahal, percaya diri dan berkata benar adalah dua hal yang sayangnya tidak selalu satu paket.


Manipulasi juga dapat berbentuk pembalikan peran. Pelaku menyangkal, menyerang, lalu menggambarkan dirinya sebagai korban sementara korban justru dituduh sebagai pelaku. 


Pola ini dikenal dengan istilah DARVO (deny, attack, reverse victim and offender).


Dampaknya bisa sangat serius, terutama di tempat kerja atau hubungan yang melibatkan kekuasaan. Orang-orang di sekitar bahkan dapat ikut percaya bahwa korbanlah yang bermasalah.


Namun, para peneliti mengingatkan bahwa kita tidak perlu mendiagnosis seseorang sebagai “psikopat”. Diagnosis membutuhkan penilaian profesional. 


Yang lebih berguna adalah mengenali pola perilaku yang konsisten dan dampaknya terhadap orang lain.


Dengan kata lain, jangan hanya bertanya, “Apakah dia psikopat?” Pertanyaan yang lebih berguna mungkin: “Apa yang sebenarnya dilakukan orang ini kepada orang-orang di sekitarnya?”


Sebab, predator sosial tidak selalu datang dengan musik horor sebagai latar belakang. Kadang mereka datang dengan senyum, jabatan bagus, dan presentasi PowerPoint yang meyakinkan.


Disadur dari The Guardian - How to spot a psychopath: ‘It’s like the difference between a domestic cat and a wild cat’ yang diakses pada Agustus 2026.



 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama