Penelitian menunjukkan anggapan itu mungkin muncul karena kemampuan mereka tetap berkomunikasi saat berada di bawah tekanan.
Ringkasan
- Kemampuan multitasking dasar pria dan perempuan ternyata hampir sama dalam sebagian besar tugas yang diuji.
- Perbedaan terbesar muncul saat harus tetap berbicara sambil mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus.
- Orang yang tetap aktif berbicara dinilai lebih tenang dan lebih kompeten, sehingga memengaruhi kesan bahwa perempuan lebih piawai melakukan multitasking.
PEREMPUAN kerap dianggap lebih jago multitasking daripada laki-laki. Namun, selama ini, berbagai penelitian ilmiah kesulitan menemukan buktinya.
Kini, tim peneliti dari Brunel University of London dan City St George's, University of London menemukan penjelasan yang lebih masuk akal.
Menurut mereka, perbedaan tersebut bukan terletak pada kemampuan mengerjakan banyak tugas secara bersamaan, melainkan pada kebiasaan mempertahankan komunikasi ketika tekanan meningkat.
Untuk mengujinya, peneliti yang dipimpin André Szameitat dan Diana Szameitat merancang eksperimen yang lebih menyerupai situasi nyata dibandingkan tes laboratorium biasa.
Alih-alih duduk di depan komputer, peserta harus berpindah-pindah di antara tiga meja sambil menyelesaikan lima tugas sekaligus selama 10 menit.
Tugas utamanya adalah mengikuti resep masakan menggunakan bahan-bahan tiruan. Namun, setiap beberapa saat alarm berbunyi dan peserta harus berlari menuju meja lain untuk menyelesaikan dua teka-teki berbasis kertas.
Pada saat yang sama, mereka juga harus memperhatikan layar yang menampilkan kata-kata tertentu dan mencatat kata yang muncul dengan latar merah.
Tidak berhenti di situ, setiap 20 detik terdengar rekaman suara yang mengajukan pertanyaan, misalnya memilih kehilangan seluruh uang atau seluruh foto kenangan.
Peserta diminta menjawab pertanyaan tersebut sambil tetap mengerjakan tugas lainnya.
Seiring waktu, tantangan dibuat semakin berat. Jeda alarm yang semula 90 detik dipersingkat hingga hanya 30 detik sehingga peserta harus berpindah tugas lebih sering.
Hasilnya cukup menarik. Pada empat dari lima tugas, performa laki-laki dan perempuan hampir tidak menunjukkan perbedaan berarti.
Mereka sama-sama mampu mengikuti resep, mencari nomor telepon, menyelesaikan teka-teki, dan mengamati kata-kata di layar dengan tingkat keberhasilan yang serupa.
Perbedaan baru terlihat pada tugas percakapan. Laki-laki lebih sering mengabaikan pertanyaan yang diajukan melalui rekaman suara.
Rata-rata, perempuan hanya melewatkan sekitar 12 persen pertanyaan, sedangkan laki-laki hampir 28 persen.
Menariknya, ketika laki-laki memilih menjawab, kualitas jawaban dan kecepatan respons mereka sama baiknya dengan perempuan.
Artinya, masalahnya bukan kemampuan berbicara, melainkan kecenderungan menghentikan percakapan ketika perhatian mereka sudah terbebani oleh banyak tugas lain.
Pada tahap berikutnya, para peneliti memperlihatkan cuplikan video peserta kepada 160 orang yang tidak mengetahui tujuan penelitian.
Mereka diminta menilai siapa yang tampak lebih mampu menangani berbagai pekerjaan sekaligus.
Mayoritas penilai menganggap perempuan terlihat lebih tenang, lebih sigap, lebih mampu mengendalikan situasi, dan lebih nyaman menghadapi tekanan.
Sebaliknya, laki-laki lebih sering dinilai tampak stres, terutama ketika beban tugas semakin tinggi.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kesan tersebut hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh satu hal, yaitu apakah peserta tetap menjawab pertanyaan lisan.
Peserta yang tetap aktif berbicara dianggap lebih kompeten, meskipun hasil pada empat tugas lainnya sebenarnya tidak berbeda.
Fenomena ini berkaitan dengan horn effect, yaitu bias psikologis ketika satu karakteristik yang tampak kurang baik membuat orang memberikan penilaian negatif terhadap kemampuan seseorang secara keseluruhan.
Para peneliti menekankan bahwa temuan ini bukan berarti perempuan secara umum lebih unggul dalam multitasking, ataupun laki-laki lebih buruk.
Hasil penelitian hanya menunjukkan adanya kecenderungan pada kelompok peserta yang diteliti, bukan aturan yang berlaku untuk setiap individu.
Temuan tersebut juga memiliki implikasi praktis.
Dalam profesi yang menuntut koordinasi tinggi, seperti petugas pengatur lalu lintas udara, tenaga medis di ruang operasi, atau tim tanggap darurat, kemampuan mempertahankan komunikasi saat tekanan meningkat dapat menjadi faktor penting bagi keselamatan dan efektivitas kerja.
Peneliti bahkan mengusulkan agar pelatihan komunikasi di bawah tekanan menjadi bagian dari pengembangan keterampilan di bidang-bidang tersebut.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Psychological Research.
Disadur dari Earth.com – Why women often appear better at multitasking than men yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar