Para ilmuwan menemukan bahwa tikus yang diberi versi gen manusia yang terkait dengan kemampuan berbahasa menghasilkan pola suara berbeda sejak lahir.
Ringkasan
- Peneliti memasukkan varian gen manusia NOVA1 ke dalam tikus untuk mempelajari asal-usul komunikasi vokal manusia.
- Anak tikus yang dimodifikasi menghasilkan suara bernada lebih tinggi dan pola "panggilan" yang berbeda dibanding tikus biasa.
- Temuan ini mengisyaratkan bahwa perubahan genetik kecil mungkin berperan penting dalam evolusi kemampuan berbicara manusia.
MESKI banyak hewan dapat berkomunikasi melalui suara, hanya manusia yang mampu mengembangkan bahasa kompleks dengan tata bahasa, simbol, dan makna yang sangat kaya.
Karena itulah para ilmuwan terus berusaha memahami bagaimana kemampuan luar biasa ini muncul selama evolusi.
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada Februari 2025, tim ilmuwan dari Rockefeller University mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Cara yang mereka lakukan tidak biasa. Para ilmuwan itu memasukkan versi manusia dari sebuah gen yang diduga terkait dengan kemampuan berbahasa ke dalam tikus.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Gen yang menjadi fokus penelitian adalah NOVA, gen yang ditemukan pada banyak hewan, mulai dari burung hingga mamalia. Namun pada manusia, gen ini memiliki sedikit perbedaan dibanding versi yang dimiliki hewan lain.
Perbedaannya tampak sangat kecil: hanya satu perubahan asam amino pada rantai protein NOVA1. Akan tetapi, perubahan kecil itu ternyata bisa menghasilkan dampak biologis yang menarik.
Ketika para peneliti menciptakan tikus yang membawa varian NOVA1 milik manusia, mereka menemukan, anak-anak tikus tersebut mengeluarkan suara ultrasonik yang berbeda saat memanggil induknya.
Tikus bayi memang dikenal sering mengeluarkan suara bernada sangat tinggi yang tidak dapat didengar telinga manusia.
Para peneliti bahasa dan perilaku hewan mengelompokkan suara-suara itu ke dalam beberapa kategori dasar yang mirip "huruf".
Menurut Robert B. Darnell, kepala Laboratory of Molecular Neuro-Oncology di Rockefeller University, komposisi "huruf-huruf" suara yang dihasilkan tikus hasil modifikasi genetik berbeda dari tikus normal.
Dengan kata lain, mereka "berbicara" dengan cara yang sedikit berbeda.
Yang lebih menarik lagi, perbedaan tersebut tidak berhenti ketika tikus tumbuh besar.
Saat memasuki usia dewasa dan berusaha menarik perhatian pasangan, tikus jantan yang membawa gen manusia menghasilkan vokalisasi yang lebih kompleks dibanding kelompok kontrol.
Mereka mengeluarkan lebih banyak variasi suara frekuensi tinggi ketika berinteraksi dengan tikus betina.
Menurut Darnell, perubahan seperti ini berpotensi memiliki dampak besar dalam evolusi.
Dalam dunia hewan, perubahan kecil dalam cara berkomunikasi dapat memengaruhi proses memilih pasangan, struktur sosial, hingga keberhasilan reproduksi.
Awalnya para peneliti menduga varian NOVA1 manusia mungkin memengaruhi perkembangan otak atau kemampuan bergerak. Namun hasil eksperimen menunjukkan fungsi-fungsi tersebut relatif tidak berubah.
Sebaliknya, kejutan muncul ketika tim menemukan bahwa NOVA1 manusia memengaruhi aktivitas sejumlah gen lain yang berkaitan dengan vokalisasi atau produksi suara.
Yoko Tajima, penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa banyak gen yang terlibat dalam pembentukan suara ternyata juga menjadi target kerja protein NOVA1.
Temuan itu memperkuat dugaan bahwa NOVA1 merupakan salah satu komponen penting dalam evolusi komunikasi vokal.
Bagian yang paling menarik dari penelitian ini mungkin berkaitan dengan sejarah manusia purba.
Para ilmuwan menemukan bahwa varian NOVA1 yang dimiliki manusia modern ternyata tidak ditemukan pada kerabat dekat kita yang telah punah, yakni Neanderthal dan Denisovan.
Kedua kelompok manusia purba itu memiliki versi NOVA1 yang sama dengan hewan non-manusia lainnya.
Fakta tersebut memunculkan pertanyaan besar: apakah manusia modern memperoleh keuntungan evolusioner melalui kemampuan komunikasi yang lebih baik?
Menurut para peneliti, kemungkinan ada populasi awal Homo sapiens di Afrika yang pertama kali mengembangkan varian NOVA1 ini.
Karena memberikan keuntungan tertentu, varian tersebut kemudian menyebar dan akhirnya mendominasi populasi manusia modern yang kemudian bermigrasi ke berbagai penjuru dunia.
Meski hasil penelitian ini menarik, para ilmuwan mengingatkan bahwa bahasa manusia hampir pasti tidak ditentukan oleh satu gen saja.
Kemampuan berbicara melibatkan jaringan yang sangat kompleks.
Hal tersebut mencakup perkembangan otak, pendengaran, kontrol otot wajah dan lidah, kemampuan belajar, lingkungan sosial, serta ratusan bahkan ribuan gen lain yang saling berinteraksi.
Kasus yang paling terkenal adalah gen FOXP2, yang sering dijuluki "gen bahasa" sejak awal tahun 2000-an.
Namun penelitian selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa tidak ada satu gen tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kemampuan bahasa manusia.
Karena itu, NOVA1 kemungkinan bukan "gen bahasa" dalam arti harfiah.
Akan tetapi, gen ini tampaknya menjadi salah satu potongan penting dalam teka-teki panjang tentang bagaimana nenek moyang manusia mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang jauh lebih rumit dibanding spesies lain.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan genetik yang tampaknya sepele—hanya satu perubahan asam amino—dapat menghasilkan efek yang cukup besar terhadap cara makhluk hidup berkomunikasi.
Dan dari perubahan-perubahan kecil semacam itulah, mungkin, kemampuan berbicara manusia perlahan muncul selama perjalanan evolusi.
Disadur dari IFL Science - A Human "Language Gene" Was Inserted Into Mice And Strange Things Unfolded.

Posting Komentar