Bisa "Panggil" Hujan, Ilmuwan Ungkap Rahasia di Balik Kekuatan Jamur

Jamur ternyata mampu memengaruhi cuaca dengan melepaskan spora ke udara yang memicu pembentukan awan dan hujan di berbagai belahan dunia.


Jamur ternyata mampu memengaruhi cuaca dengan melepaskan spora ke udara yang memicu pembentukan awan dan hujan di berbagai belahan dunia.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Jamur tertentu menghasilkan protein yang bisa memicu pembentukan es di awan.
  • Kemampuan ini berasal dari gen bakteri yang diwarisi jutaan tahun lalu.
  • Protein jamur berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif ramah lingkungan untuk teknologi hujan buatan.


SIAPA sangka makhluk kecil yang sering kita temukan di batang pohon atau permukaan lembap ini punya "remote kontrol" untuk mengatur cuaca.


Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mencurigai adanya hubungan antara jamur dan hujan, namun baru-baru ini sebuah penelitian mengungkap mekanisme pastinya.


Ternyata, jamur tidak sekadar menunggu hujan turun; mereka secara aktif membantu menciptakannya.


Rahasia kekuatan ini terletak pada spora yang dilepaskan jamur ke atmosfer. Jamur melepaskan miliaran spora setiap harinya untuk bereproduksi. Namun, spora ini tidak hanya terbang tanpa tujuan.


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa spora jamur bertindak sebagai Ice Nucleating Particles (INP) atau partikel inti es.


Di atmosfer yang tinggi dan dingin, uap air membutuhkan "pegangan" untuk membeku menjadi kristal es. Tanpa partikel inti ini, air bisa tetap berbentuk cair meskipun suhunya jauh di bawah titik beku.


Spora jamur memiliki struktur protein unik pada permukaannya yang mampu mengikat molekul air dengan sangat efisien, memicu pembentukan es pada suhu yang lebih hangat daripada biasanya.


Begitu kristal es ini terbentuk dan menjadi cukup berat, mereka jatuh sebagai hujan atau salju.


Mengapa jamur melakukan ini? Jawabannya adalah demi kelangsungan hidup.


Jamur sangat bergantung pada kelembapan untuk tumbuh dan menyebarkan spora mereka. Dengan memicu hujan, jamur secara efektif menciptakan lingkungan ideal bagi keturunan mereka untuk berkembang biak.


Ini adalah siklus umpan balik biologis yang luar biasa: jamur melepaskan spora, spora menciptakan hujan, dan hujan membantu lebih banyak jamur tumbuh untuk melepaskan lebih banyak spora.


Christian Andreasen, seorang peneliti, menjelaskan bahwa protein di permukaan spora bertindak seperti magnet bagi molekul air.


Hal ini membuat jamur menjadi salah satu agen biologis paling kuat dalam memengaruhi siklus hidrologi bumi, terutama di daerah hutan hujan tropis yang padat vegetasi.


Penemuan ini memiliki implikasi besar dalam memahami perubahan iklim. Seiring dengan berkurangnya luas hutan akibat deforestasi, populasi jamur juga menurun.


Hal ini berpotensi mengganggu pola curah hujan regional. Jika jumlah jamur berkurang, maka jumlah partikel pemicu hujan di atmosfer juga menyusut, yang bisa memperparah kekeringan di area tertentu.


Fenomena ini memperkuat teori tentang "Bioteknologi Cuaca".


Mengutip dari jurnal Science (2021), partikel biologis seperti bakteri dan spora jamur menyumbang hingga 25% dari total partikel pembentuk awan di atmosfer global.


Ini membuktikan bahwa biosfer dan atmosfer kita saling terhubung dalam jalinan yang jauh lebih rumit daripada yang kita duga sebelumnya.


Disadur dari Live Science - Some fungi can influence the weather — and now we know how they do it.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama