Citra satelit mengungkap ledakan alga beracun di waduk Afrika Selatan, memicu zona mati dan kematian massal ikan.
Ringkasan
- Waduk Hartebeespoort diselimuti alga dan tanaman invasif akibat hipereutrofikasi.
- Ledakan alga memicu racun dan “zona mati” yang menyebabkan kematian massal ikan.
- Pencemaran dari aktivitas manusia menjadi penyebab utama krisis lingkungan ini.
SEBUAH foto satelit yang mencolok memperlihatkan fenomena lingkungan yang mengkhawatirkan di Afrika Selatan.
Permukaan Waduk Hartebeespoort Dam tampak diselimuti lapisan hijau pekat, campuran alga dan tanaman air invasif yang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi mematikan.
Waduk ini terletak sekitar 40 kilometer di barat Pretoria, di kaki pegunungan Magaliesberg.
Dibangun pada 1920-an, waduk ini awalnya berfungsi sebagai sumber air penting bagi kota-kota sekitar dan lahan pertanian, sekaligus menjadi lokasi rekreasi seperti memancing dan olahraga air.
Namun kini, wajahnya berubah drastis.
Fenomena yang terlihat dari luar angkasa ini merupakan akibat dari ledakan populasi alga, atau yang dikenal sebagai “algal bloom”. Dalam kondisi normal, pertumbuhan alga memang terjadi secara musiman.
Foto: NASA via Live ScienceNamun di Hartebeespoort, situasinya jauh lebih ekstrem: waduk ini mengalami kondisi yang disebut hipereutrofikasi, yakni kelebihan nutrisi secara berlebihan di dalam air.
Nutrisi seperti nitrogen dan fosfor—yang banyak berasal dari limpasan pupuk pertanian dan aktivitas manusia—memicu pertumbuhan alga secara masif.
Sungai Crocodile River yang mengalir ke waduk ini menjadi salah satu sumber utama pencemaran tersebut.
Menurut pengamatan lembaga seperti NASA Earth Observatory, citra satelit sering memperlihatkan warna biru air waduk yang terputus oleh bercak-bercak hijau terang yang terus bergerak dan meluas.
Namun, yang terlihat indah dari atas justru menyimpan bahaya besar.
Lapisan hijau ini bukan hanya terdiri dari alga (cyanobacteria), tetapi juga tanaman air invasif seperti eceng gondok (Pontederia crassipes) dan Salvinia minima.
Tanaman-tanaman ini membentuk hamparan tebal di permukaan air, menghalangi cahaya dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Dampaknya sangat serius. Beberapa jenis alga menghasilkan racun yang berbahaya bagi manusia dan hewan.
Air dari waduk ini harus melalui proses penyaringan ketat sebelum layak dikonsumsi. Bahkan, kontak langsung dengan airnya bisa menyebabkan iritasi kulit.
Namun ancaman terbesar datang dari fenomena yang disebut “zona mati”.
Ketika alga dan tanaman air tumbuh berlebihan, mereka menyerap oksigen dalam jumlah besar dari air. Akibatnya, kadar oksigen menurun drastis, menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan bagi ikan untuk bertahan hidup.
Peristiwa ini bukan sekadar teori. Pada April 2023, ratusan ikan—termasuk ikan karper besar, dilaporkan mati akibat kekurangan oksigen.
Insiden serupa kembali terjadi pada 2025, dengan ikan-ikan terlihat megap-megap di permukaan air sebelum akhirnya mati.
Masalah ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Sejak 1970-an, Hartebeespoort Dam hampir terus-menerus berada dalam kondisi hipereutrofikasi.
Upaya perbaikan sempat dilakukan pada 1990-an melalui program bioremediasi, namun dihentikan karena biaya yang terlalu tinggi.
Penelitian pada 2023 yang menganalisis data selama empat dekade menunjukkan, sumber utama masalah adalah pencemaran dari aktivitas manusia, terutama limpasan pupuk dari pertanian dan lapangan golf.
Fenomena ini bukan hanya mengancam kehidupan air, tetapi juga manusia. Air yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit, dan bahkan dilaporkan membuat anjing sakit setelah terpapar.
Kasus Hartebeespoort menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas manusia dapat mengganggu keseimbangan alam secara drastis.
Dari luar angkasa, waduk ini mungkin tampak seperti lukisan hijau yang indah. Namun di balik warnanya yang mencolok, tersembunyi krisis ekologi yang serius dan terus berlangsung.
Sumber: Live Science - Deadly, vivid-green mass sprawls across South African reservoir — Earth from space

Posting Komentar