Studi lintas negara terhadap 45.000 orang mengungkap tingkat narsisisme berbeda-beda di dunia, dengan hasil yang kerap melawan stereotip umum.
Ringkasan
- Studi 45.000 orang di 53 negara menemukan perbedaan tingkat narsisisme lintas budaya.
- Laki-laki dan orang muda cenderung lebih narsistik, terlepas dari negara asalnya.
- Negara ber-PDB tinggi dan budaya kolektif sama-sama dapat menunjukkan tingkat narsisisme tinggi, meski dengan alasan berbeda.
SEBUAH studi yang melibatkan lebih dari 45.000 partisipan dari 53 negara mencoba menjawab pertanyaan klasik dalam psikologi sosial: apakah orang di negara tertentu cenderung lebih narsistik dibanding negara lain?
Penelitian yang dipimpin tim dari University of Michigan ini tidak hanya memetakan tingkat narsisisme global, tetapi juga menguji kaitannya dengan faktor budaya, ekonomi, usia, dan gender.
Pertama-tama, kita cari tahu apa itu narsisisme. Dalam psikologi, narsisisme merujuk pada kecenderungan merasa diri penting, ingin dikagumi, dan fokus pada pencapaian serta citra diri.
Namun, sifat ini tidak selalu berarti gangguan kepribadian.
Seperti dijelaskan Canadian Psychological Association, tingkat narsisisme tertentu justru dianggap normal dan sehat, bagian dari harga diri yang memungkinkan seseorang mengenali kekuatan sekaligus keterbatasannya.
Masalah baru muncul ketika narsisisme menjadi cara tidak sehat untuk menghadapi kegagalan dan ancaman terhadap citra diri, yang bisa berujung pada Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Dalam studi ini, para peneliti mengukur narsisisme menggunakan Narcissistic Admiration and Rivalry Questionnaire – Short Form.
Media itu menilai dua aspek utama: admiration (keinginan tampil unggul dan dikagumi) dan rivalry (kecenderungan merendahkan atau bersaing agresif dengan orang lain).
Responden juga diminta menilai status sosial mereka sendiri menggunakan “tangga sosial” dengan 10 anak tangga, dari posisi terendah hingga tertinggi dalam masyarakat.
Hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa lima negara dengan tingkat narsisisme tertinggi adalah Jerman, Irak, China, Nepal, dan Korea Selatan.
AS berada di peringkat ke-16. Di sisi lain spektrum, negara dengan skor narsisisme terendah adalah Serbia, Irlandia, Inggris, Belanda, dan Denmark.
Penelitian ini juga menegaskan pola yang relatif konsisten di berbagai budaya: laki-laki cenderung lebih narsistik dibanding perempuan, dan orang muda lebih narsistik dibanding orang yang lebih tua.
Menurut para peneliti, perbedaan gender ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh pola sosialisasi. Laki-laki sering didorong untuk lebih kompetitif dan asertif, sementara perempuan lebih diarahkan pada tujuan komunal dan relasi sosial.
Menariknya, studi ini menemukan korelasi antara produk domestik bruto (PDB) dan narsisisme. Negara dengan pendapatan lebih tinggi cenderung memiliki tingkat narsisisme lebih tinggi.
Namun, temuan lain justru menantang teori lama. Negara dengan budaya kolektivistik, yang selama ini dianggap menekan perilaku ego-sentris, ternyata juga menunjukkan skor narsisisme tinggi, khususnya pada aspek admiration.
Penjelasan yang diajukan peneliti, dalam masyarakat kolektif, menonjolkan prestasi pribadi bisa menjadi cara untuk mengangkat nama kelompok, bukan semata-mata diri sendiri.
William Chopik, salah satu penulis studi, menekankan bahwa efek usia relatif universal.
“Menjadi muda hampir di mana pun berarti fokus pada diri sendiri dan merasa lebih hebat dari kenyataan,” ujarnya. Namun, pengalaman hidup cenderung “merendahkan” semua orang secara serupa lintas budaya.
Secara keseluruhan, tim peneliti menyimpulkan bahwa narsisisme bukan hanya produk budaya Barat atau ekonomi tertentu. Itu tampak sebagai bagian dari sifat manusia yang diekspresikan secara berbeda tergantung konteks sosial, ekonomi, dan budaya.
Temuan ini membuka ruang riset lanjutan tentang bagaimana pengalaman hidup, struktur sosial, dan kondisi ekonomi membentuk kepribadian sepanjang usia manusia.
Disadur dari IFL Science – Countries With The Most Narcissists Identified By 45,000-Person Study

Posting Komentar