Niat berlari untuk kabur dari stres harian ternyata berisiko memicu kecanduan olahraga yang justru merusak kesehatan mental pelari tersebut.
Ilustrasi: jcomp/Freepik
Ringkasan
- Lari sebagai pelarian dari stres negatif berisiko memicu ketergantungan olahraga.
- Escapism adaptif (self-expansion) terkait kesejahteraan lebih baik dibanding escapism maladaptif (self-suppression).
- Motivasi berolahraga lebih penting daripada durasi atau intensitasnya dalam menentukan dampak psikologis.
BERLARI memang cara yang asyik buat jaga kesehatan fisik dan mental, namun penelitian terbaru yang terbit di jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa tidak semua pelari mendapatkan ketenangan jiwa.
Ada sebagian orang yang justru terjebak dalam "labirin" ketergantungan olahraga atau exercise dependence. Ternyata, kuncinya ada pada konsep psikologis yang disebut eskapisme atau pelarian diri.
Dr. Frode Stenseng dari Norwegian University of Science and Technology menjelaskan bahwa eskapisme adalah fenomena sehari-hari yang kita lakukan untuk melupakan hal yang membosankan atau tidak menyenangkan.
"Imbalan psikologis dari eskapisme adalah berkurangnya kesadaran diri, berkurangnya pikiran yang berputar-putar (rumination), dan hilangnya tekanan emosi untuk sementara waktu," ungkapnya.
Studi ini membagi eskapisme menjadi dua jenis:
- Self-Expansion (Eksplorasi Diri): Kamu berlari karena ingin mencari pengalaman positif, merasa bebas, dan ingin berkembang. Ini adalah tipe pelarian yang sehat dan berhubungan erat dengan kesejahteraan hidup.
- Self-Suppression (Menekan Diri): Kamu berlari demi "kabur" dari perasaan negatif, masalah pekerjaan, atau emosi yang tak enak. Alih-alih merasa segar, pola ini justru sering membuat seseorang merasa tertekan dan berujung pada kecanduan.
Dalam survei terhadap 227 pelari rekreasi, tim peneliti menemukan bahwa mereka yang berlari dengan niat self-suppression punya keterikatan yang jauh lebih kuat dengan kecanduan olahraga.
Orang-orang ini merasa harus terus berlari secara kompulsif agar masalah mereka tidak "mengejar", padahal cara ini justru menggerus kebahagiaan mereka sendiri.
Sama seperti kecanduan lainnya, exercise dependence bisa bikin hidup berantakan.
Mengutip dari Healthline, tanda-tanda kecanduan olahraga meliputi tetap berolahraga meski sedang cedera, merasa cemas atau depresi jika melewatkan satu sesi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial demi olahraga.
American Council on Exercise (ACE) juga memperingatkan bahwa olahraga berlebihan tanpa pemulihan yang cukup bisa memicu sindrom overtraining.
Gejalanya mulai dari kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga melemahnya sistem imun. Bukannya jadi bugar, tubuh malah makin ringkih.
"Hasil penelitian ini bisa membantu orang memahami motivasi mereka sendiri," tambah Dr. Stenseng.
Jadi, sebelum mengikat tali sepatu besok pagi, coba tanya pada diri sendiri, apakah kamu berlari karena senang melihat matahari terbit dan merasa kuat, atau kamu hanya sedang lari dari tumpukan cucian dan masalah kantor?
Niatmu menentukan kesehatan mentalmu.
Disadur dari Frontiers.

Posting Komentar