Mayoritas manusia bertangan kanan karena pengaruh biologi, lingkungan, dan evolusi yang membentuk dominasi tangan sejak sebelum lahir.
Ringkasan
- Dominasi tangan kanan sudah terlihat sejak embrio, dipengaruhi puluhan gen yang membentuk otak.
- Budaya dapat menekan angka kidal, tetapi tidak mengubah pola global secara signifikan.
- Evolusi, mulai dari penggunaan alat hingga strategi bertarung, turut menguatkan dominasi tangan kanan sepanjang sejarah manusia.
SEKITAR 85–90 persen manusia di planet ini lebih nyaman memakai tangan kanan, sementara hanya sekitar 10–15 persen yang bertangan kiri, dan sedikit sekali yang benar-benar ambidekster.
Fenomena global ini berlaku di hampir semua populasi, tidak ada satu pun masyarakat di dunia yang jumlah kidalnya mengalahkan mayoritas tangan kanan.
Hal itu ditegaskan Paul Rodway, psikolog dari University of Chester, Inggris, yang meneliti kecenderungan penggunaan tangan. Pertanyaannya, mengapa dunia begitu “right-handed”?
Lingkungan jelas punya peran. Di sejumlah budaya Asia, Arab, dan Afrika, tangan kiri dianggap tidak sopan, sehingga anak-anak yang dominan kiri bisa dipaksa menggunakan tangan kanan melalui teguran hingga hukuman.
Penelitian mencatat bahwa komunitas dengan tekanan sosial seperti ini memang memiliki angka kidal yang lebih rendah.
Namun, fakta bahwa negara-negara tanpa bias budaya pun tetap menunjukkan rasio yang hampir sama menandakan ada faktor yang lebih dasar.
“Stabilnya angka ini di berbagai budaya mengisyaratkan pengaruh biologis,” kata Rodway.
Faktanya, tanda-tanda dominasi tangan muncul jauh sebelum kita melihat dunia.
Clyde Francks, profesor genomika pencitraan otak di Max Planck Institute dan Radboud University Medical Center, menyebut bahwa USG menunjukkan embrio usia 10 minggu lebih sering menggerakkan tangan kanan.
Memasuki 15 minggu, sebagian besar janin lebih sering mengisap ibu jari kanan.
Francks mengatakan preferensi ini kemungkinan besar merupakan “pengaturan bawaan” dalam perkembangan otak yang dikode oleh puluhan gen, diperkirakan hingga 40 gen.
Tidak ada satu gen tunggal penentu tangan dominan; kombinasi gen menciptakan otak yang cenderung memberikan keunggulan pada tangan kanan.
Lalu bagaimana dengan orang kidal? Banyak ilmuwan menduga kidal muncul akibat variasi acak selama perkembangan awal otak.
“Fluktuasi molekul saat tahap kritis perkembangan embrio” bisa menjadi pemicu seseorang tumbuh sebagai kidal, ujar Francks. Artinya, bukan karena gen khusus, bukan pula karena pola asuh tertentu.
Temuan ini sejalan dengan riset neurosains yang menunjukkan bahwa asimetri otak, termasuk pusat bahasa yang cenderung berada di hemisfer kiri, berhubungan dengan kecenderungan tangan kanan.
Beberapa ilmuwan menilai dominasi tangan kanan memberi keuntungan evolusioner. Rodway mengaitkannya dengan penggunaan alat oleh nenek moyang manusia.
Bukti arkeologi, misalnya studi 2011 tentang pola goresan gigi dan alat batu, menunjukkan preferensi tangan kanan sudah ada setidaknya 500.000 tahun lalu.
Ada pula teori pertarungan. Menurut Rodway, dalam duel jarak dekat, petarung bertangan kanan secara alami lebih mudah mengenai area jantung lawan yang terletak sedikit di sisi kiri dada.
Keunggulan kecil ini, katanya, bisa berkontribusi pada peluang bertahan hidup yang lebih tinggi bagi para “right-handed” dalam konteks evolusi.
Meski begitu, kidal juga punya kelebihan strategis. Karena mereka jarang, gerak mereka sulit diprediksi, baik dalam perkelahian maupun olahraga. Itulah sebabnya banyak atlet kidal menonjol di cabang seperti tinju, tenis, atau baseball.
Kombinasi keuntungan minor inilah yang membuat proporsi kidal bertahan stabil dalam populasi.
Jadi, fenomena tangan dominan ternyata bukan hanya soal kebiasaan. Ia merupakan gabungan antara biologi, budaya, dan sejarah evolusi manusia.
Disadur dari Popular Science.

Posting Komentar