Riset terbaru menunjukkan olahraga teratur mampu mengurangi gejala depresi dengan efektivitas sebanding terapi atau obat.
Ringkasan
- Olahraga terbukti mengurangi depresi setara terapi atau obat dalam banyak studi.
- Aktivitas ringan hingga sedang memberi manfaat paling konsisten.
- Olahraga efektif sebagai pendamping pengobatan, bukan pengganti total.
BAGI mereka yang berjuang melawan depresi, mencari bantuan medis terkadang terasa seperti mendaki gunung yang terjal. Dari biaya terapi hingga efek samping obat-obatan sering kali menjadi hambatan besar.
Namun, sebuah kabar baik muncul dari ulasan terbaru Cochrane yang dipimpin oleh University of Central Lancashire (UCLan).
Studi yang menganalisis 73 uji klinis dengan hampir 5.000 peserta ini menemukan bahwa olahraga bukan sekadar "tambahan" gaya hidup sehat.
Olahraga juga bisa menjadi pilihan praktis yang secara nyata bisa mengurangi gejala depresi.
Hasilnya? Manfaat rata-rata dari aktivitas fisik sering kali sebanding dengan hasil yang didapat dari sesi terapi atau konsumsi obat antidepresan.
Mengapa berkeringat bisa memperbaiki suasana hati? Para peneliti menjelaskan bahwa saat kita bergerak secara konsisten, tubuh melepaskan protein yang disebut brain-derived neurotrophic factor (BDNF).
Protein ini bertugas membantu sel-sel saraf di otak untuk terhubung, menguat, dan bertahan hidup.
Selain itu, olahraga rutin membantu menenangkan jalur stres yang biasanya terlalu aktif pada orang dengan episode depresi panjang.
Mengutip dari laman Harvard Health Publishing, aktivitas fisik juga memicu pelepasan endorfin, yaitu bahan kimia alami di otak yang memberikan rasa nyaman dan tenang (feel-good chemicals).
Satu hal yang menarik dari temuan ini adalah tidak semua jenis olahraga memberikan efek yang sama. Latihan ringan hingga sedang justru terbukti lebih manjur ketimbang latihan yang sangat berat.
Sesi olahraga yang terlalu intens justru berisiko meningkatkan hormon stres yang bisa mengganggu pola tidur dan membatasi manfaat bagi suasana hati.
Hasil maksimal biasanya terlihat ketika seseorang melakukan 13 hingga 36 sesi latihan ringan-sedang secara rutin.
Program campuran yang menggabungkan latihan aerobik (seperti jalan cepat) dan latihan beban terbukti lebih unggul dalam membangun kepercayaan diri dan fungsi fisik harian.
Meski olahraga terbukti ampuh, para ahli menekankan bahwa ini bukan pilihan "salah satu". Olahraga bisa berjalan beriringan dengan pengobatan medis.
Berbeda dengan antidepresan yang terkadang memicu rasa lelah atau masalah pencernaan, olahraga cenderung aman dengan risiko minimal seperti cedera otot ringan.
"Temuan kami menunjukkan bahwa olahraga adalah pilihan yang aman dan mudah diakses untuk membantu mengelola gejala depresi," ujar Andrew Clegg, profesor layanan kesehatan di UCLan sekaligus penulis utama studi ini.
Namun, bagi mereka dengan depresi berat, bantuan profesional tetaplah esensial, di mana olahraga diposisikan sebagai bagian dari rencana perawatan yang lebih luas.
Kunci utama dari efektivitas ini bukanlah seberapa keren jenis olahraganya, melainkan konsistensi.
Seseorang cenderung lebih konsisten jika memilih rutinitas yang sesuai dengan jadwal dan kenyamanan fisik mereka.
Menurut Mayo Clinic, memulai aktivitas fisik cukup dengan 30 menit sehari selama tiga hingga lima hari seminggu sudah dapat memperbaiki gejala depresi secara signifikan.
Jadi, tidak perlu langsung lari maraton, cukup mulai dengan jalan santai di sekitar rumah untuk mulai merasakan manfaatnya bagi mental kita.
Disadur dari Earth.com - Exercise can ease depression as much as therapy.

Posting Komentar