Lautan akan naik akibat pemanasan global, tetapi para ilmuwan masih berdebat soal seberapa cepat dan seberapa ekstrem dampaknya.
Ringkasan
- Lapisan Es Antarktika Barat menyimpan cukup air untuk menaikkan laut global hingga 5 meter.
- Ilmuwan masih berdebat apakah pencairan akan berlangsung berabad-abad atau bisa dipercepat oleh runtuhan es berantai.
- Apa pun skenarionya, kenaikan permukaan laut signifikan hampir pasti terjadi abad ini.
SELAMA ribuan tahun, manusia berkembang di sepanjang pesisir, tanpa menyadari bahwa kita hidup dalam sebuah kebetulan geologis, periode laut yang relatif tenang dan rendah.
Kini, sains menunjukkan bahwa masa itu akan berakhir. Pertanyaannya bukan lagi 'apakah' permukaan laut akan naik, melainkan 'kapan' dan seberapa cepat dunia harus bersiap menghadapi perubahan garis pantai yang radikal.
Sorotan utama tertuju pada Lapisan Es Antarktika Barat (West Antarctic Ice Sheet), kawasan es raksasa yang menyimpan cukup air untuk menaikkan permukaan laut global hingga lima meter.
Pada 2014, NASA mengumumkan bahwa sebagian gletser di wilayah ini tampaknya telah melewati titik mundur yang tak dapat dibalik.
Gletser-gletser di tepi lapisan es kehilangan massa lebih cepat daripada pasokan salju baru, sehingga perlahan tapi pasti surut ke pedalaman.
Ketika gletser-gletser ini runtuh, permukaan laut bisa naik lebih dari satu meter, cukup untuk menenggelamkan wilayah yang kini dihuni sekitar 230 juta orang.
Awalnya, para ilmuwan memperkirakan proses ini akan berlangsung selama berabad-abad. Namun, sebuah studi kontroversial pada 2016 yang terbit di Nature mengguncang asumsi tersebut.
Studi itu memperkenalkan mekanisme “pelarian” yang disebut marine ice cliff instability (MICI), di mana tebing es yang sangat tinggi menjadi tidak stabil dan runtuh berantai, mempercepat kehilangan es secara drastis.
Dalam skenario terburuk, laporan IPCC bahkan memperingatkan kenaikan permukaan laut lebih dari dua meter pada 2100, dan hingga 15 meter pada 2300 jika emisi gas rumah kaca terus tak terkendali.
Berbeda dengan Antarktika Timur, sebagian besar lapisan es Antarktika Barat bertumpu pada dasar batuan yang berada di bawah permukaan laut, membentuk cekungan raksasa seperti mangkuk.
Air laut yang relatif hangat dapat menyusup ke bawah ice shelf, lempeng es terapung raksasa yang menahan gletser di daratan, dan menipiskannya dari bawah.
Ketika ice shelf melemah dan runtuh, gletser di belakangnya kehilangan “penyangga” dan mengalir lebih cepat ke laut.
Garis kritis dari proses ini disebut grounding line, batas tempat es berhenti menempel pada dasar laut dan mulai mengapung. Jika garis ini mundur ke arah es yang lebih tebal, laju pencairan bisa meningkat tajam.
“Anda bisa mendapatkan lonjakan kenaikan permukaan laut global yang sangat cepat,” kata Hilmar Gudmundsson, ahli glasiologi dari Northumbria University.
Tidak semua ilmuwan yakin bahwa skenario pelarian akan terjadi. Kritikus MICI berargumen bahwa di alam, runtuhan tebing es berantai seperti dalam model komputer belum pernah diamati secara jelas.
Ada mekanisme penahan alami, es di belakang tebing yang runtuh bisa menipis dan melambat, atau campuran bongkahan es dan es laut (mélange) dapat bertindak sebagai penahan sementara.
Faktor lain yang kini mendapat perhatian besar adalah respons kerak Bumi. Saat es mencair, daratan di bawahnya terangkat kembali, proses yang dulu dianggap terlalu lambat untuk berpengaruh.
Data GPS modern menunjukkan sebaliknya, pengangkatan ini bisa terjadi dalam hitungan dekade. Dalam beberapa skenario, ini justru dapat mendorong air keluar dari “mangkuk” Antarktika Barat ke samudra global, memperparah kenaikan muka laut.
Studi garis pantai purba menunjukkan bahwa pada periode yang hanya sedikit lebih hangat dari hari ini, permukaan laut global bisa 6–9 meter lebih tinggi.
Namun, interpretasi data geologi itu juga diperdebatkan, karena pergerakan mantel Bumi dapat mengubah ketinggian daratan selama jutaan tahun.
Satu hal yang disepakati, Antarktika sudah kehilangan keseimbangannya. Observasi satelit menunjukkan gletser-gletser besar seperti Thwaites dan Pine Island mengalir semakin cepat sejak 1990-an.
IPCC kini memproyeksikan kenaikan permukaan laut global 0,5 hingga 1 meter pada 2100, tergantung skenario emisi.
“Ketidakpastian ini nyata,” kata ilmuwan iklim Robert Kopp. “Namun satu hal jelas: semakin banyak karbon dioksida yang kita lepaskan, semakin besar risikonya.”
Entah melalui proses pelarian ekstrem atau pencairan yang lebih lambat, dunia tampaknya sedang menuju garis pantai yang sangat berbeda dari yang kita kenal hari ini.
Disadur dari Wired.

Posting Komentar