Legenda paling terkenal dalam dunia arkeologi dikenal dengan nama Kutukan Mumi.
Ringkasan
- Makam Raja Tutankhamun ditemukan dalam kondisi hampir utuh, berisi harta luar biasa dan artefak unik.
- Kematian Lord Carnarvon sebulan setelah pembukaan makam memicu rumor “kutukan mumi”.
- Penelitian modern membantah kutukan itu, menyebutnya sekadar mitos media dan kebetulan waktu.
PADA 4 November 1922, dunia arkeologi gempar ketika tim penggalian di Lembah Para Raja, Mesir, menemukan tangga batu yang menuju ke makam utuh Firaun muda, Tutankhamun.
Penemuan yang dipimpin oleh arkeolog Inggris Howard Carter ini bukan hanya membuka lembar baru sejarah Mesir Kuno, tapi juga memicu lahirnya legenda paling terkenal dalam dunia arkeologi, Kutukan Mumi.
Pada pagi cerah di Lembah Para Raja, para pekerja Mesir sedang membersihkan pasir di sekitar makam Ramses VI ketika mereka menemukan puncak tangga batu yang tersembunyi di bawah lapisan pasir.
Siapa sangka, tangga itu akan membawa mereka ke salah satu penemuan arkeologi terbesar sepanjang masa, makam Firaun muda Tutankhamun yang telah terkubur selama lebih dari 3.200 tahun.
Howard Carter, sang arkeolog Inggris yang memimpin penggalian dengan dukungan finansial dari bangsawan Inggris, Lord Carnarvon, segera menyadari pentingnya temuan itu.
Dalam catatan hariannya tanggal 5 November 1922, Carter menulis dengan antusias bahwa segel pada pintu masuk menunjukkan tanda keutuhan. Lambang Anubis berdiri di atas musuh yang ditaklukkan, simbol bahwa makam itu belum dijarah.
Setelah berminggu-minggu bekerja hati-hati, pada 24 November mereka menemukan segel berbentuk cartouche dengan nama Tutankhamun.
Namun, keraguan masih ada karena reruntuhan di sekitar pintu masuk berisi pecahan tembikar dan peti dari era Firaun lain, termasuk Akhenaten, ayah Tut sendiri.
Baru pada 25 November mereka membuka pintu pertama, dan sehari kemudian, lewat lubang kecil di pintu kedua, Carter melihat pemandangan yang membuat sejarah.
Ruangan itu berisi harta emas, perabotan, dan patung-patung megah yang tak terhitung.
“Ketika cahaya lilin menerobos lubang kecil, ruangan itu perlahan menampakkan dirinya, penuh benda-benda menakjubkan, menumpuk satu di atas yang lain,” tulis Carter dalam diarinya.
Di antara benda-benda itu terdapat topeng kematian emas murni seberat 10 kilogram yang kini menjadi ikon Mesir Kuno, bersama permainan papan, ranjang, dan bahkan manekin untuk pakaian sang raja muda di alam baka.
Tutankhamun dimakamkan dalam tiga peti bersarang. Dua dari kayu berlapis emas, dan satu lagi, yang terkecil, terbuat dari emas padat.
Tubuhnya dimandikan dalam minyak hingga berwarna hitam sebelum dibungkus linen dan diistirahatkan di sarkofagus batu yang megah.
Namun, kebesaran itu segera diwarnai kisah kelam. Sekitar sebulan setelah makam dibuka, Lord Carnarvon meninggal karena infeksi akibat gigitan nyamuk yang tak sengaja tersayat pisau cukur.
Media segera mengaitkan kematian itu dengan “kutukan mumi”. Kisah semakin liar setelah muncul cerita fiksi di Pearson’s Magazine tahun 1923 berjudul The Tomb of the Bird.
Cerita itu menggambarkan kematian burung kenari Carter akibat gigitan kobra setelah pembukaan makam. Sejak itu, legenda kutukan Firaun pun meledak di media massa.
Namun, sains punya pandangan lain.
Sebuah penelitian tahun 2002 yang menelusuri umur 25 orang Barat yang hadir saat pembukaan makam menemukan bahwa usia mereka tidak berbeda dari rata-rata harapan hidup pada zamannya.
Dengan kata lain, “kutukan” itu tak lebih dari mitos media dan kebetulan tragis.
Kini, hampir seabad kemudian, kisah penemuan makam Raja Tut masih memikat dunia, bukan karena kutukannya, tapi karena ia membuka jendela menuju dunia Mesir Kuno yang luar biasa kaya dan kompleks.
Dari tangan para pekerja lokal hingga pena Howard Carter, kisah itu membuktikan bahwa rasa ingin tahu manusia bisa menggali masa lalu dan menghidupkan kembali kisah yang terkubur ribuan tahun lamanya.
Disadur dari Live Science.

Posting Komentar