Hantaman Meteor di Mars Bisa Picu Longsoran Debu Raksasa

Meski jarang terjadi, peristiwa ini meninggalkan jejak dramatis di lanskap Planet Merah dan bisa menjadi ancaman potensial bagi misi manusia di masa depan.


Meski jarang terjadi, peristiwa ini meninggalkan jejak dramatis di lanskap Planet Merah dan bisa menjadi ancaman potensial bagi misi manusia di masa depan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Meteor yang menembus atmosfer tipis Mars dapat menyebabkan longsoran debu raksasa hingga beberapa mil panjangnya.
  • Peneliti menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis lebih dari dua juta jejak longsoran di permukaan Mars.
  • Temuan ini penting untuk memahami dinamika permukaan Mars dan potensi risiko bagi penjelajah manusia di masa depan.


SEBUAH studi menunjukkan bahwa hantaman meteor di permukaan Mars dapat memicu longsoran debu yang membentang hingga bermil-mil jauhnya. 


Mars mungkin terlihat tenang dari jauh, tapi di permukaannya, planet ini ternyata sering “diguncang” oleh tamu tak diundang dari luar angkasa. 


Karena atmosfer Mars hanya sekitar satu persen setipis atmosfer Bumi, banyak meteoroid yang lolos dari proses pembakaran dan langsung menghantam permukaan planet itu. 


Hasilnya? Jejak dramatis berupa longsoran debu yang bisa membentang sejauh beberapa kilometer.


Hasil penelitian dipublikasikan pada 6 November 2025 di jurnal Nature Communications oleh tim dari European Space Agency (ESA) dan University of Bern, Swiss.


Para peneliti memanfaatkan kecerdasan buatan untuk melacak fenomena ini. 


Valentin Bickel dan timnya menggunakan algoritma deep learning untuk menganalisis lebih dari dua juta jejak slope streaks, yakni guratan halus di permukaan Mars yang muncul ketika lapisan debu tipis bergeser.


Mayoritas guratan itu terbentuk akibat angin Mars yang kering dan kuat, namun sekitar satu dari seribu ternyata disebabkan oleh tumbukan meteorit. 


Salah satu peristiwa paling menakjubkan terekam pada Malam Natal 2023 oleh wahana ExoMars Trace Gas Orbiter milik ESA. 


Citra dari sistem kamera Color and Stereo Surface Imaging System menunjukkan kumpulan kawah kecil di sekitar kaki Apollinaris Mons, gunung berapi purba dekat khatulistiwa Mars. 


Di area itu, terlihat perubahan warna pada permukaan seluas lebih dari 2,3 mil persegi akibat longsoran debu yang ditimbulkan oleh hantaman meteoroid tersebut.


“Debu, angin, dan dinamika pasir menjadi faktor utama pembentuk guratan-guratan ini,” jelas Bickel. “Namun di beberapa tempat, dampak meteorit dan aktivitas seismik lokal juga berperan.”


Berdasarkan data tambahan, para peneliti memperkirakan peristiwa meteorit yang memicu longsoran ini terjadi antara 2013 hingga 2017.


Mereka juga mengidentifikasi lima area aktif di Mars yang masih menunjukkan bekas tumbukan dari 2006 hingga 2024. 


Temuan ini menegaskan bahwa permukaan Mars jauh lebih dinamis daripada yang selama ini diduga.


“Memperoleh pengamatan jangka panjang dan berskala global yang menampilkan dinamika Mars adalah tujuan utama dari misi orbit saat ini maupun di masa depan,” kata Colin Wilson, ilmuwan proyek ExoMars Trace Gas Orbiter.


Pengetahuan ini tak hanya berguna bagi pengamat planet, tetapi juga sangat penting bagi perencanaan misi berawak ke Mars. 


Meskipun tumbukan meteorit relatif jarang, efeknya bisa meluas, mulai dari gangguan pada infrastruktur hingga bahaya langsung bagi astronaut yang berada di permukaan.


Wilson menambahkan bahwa pemahaman mendalam tentang aktivitas semacam ini dapat membantu para ilmuwan memetakan zona risiko dan pola perubahan topografi di Mars. 


“Pengamatan ini memberi kita gambaran lebih jelas tentang apa yang benar-benar terjadi di Mars saat ini,” ujarnya.


Disadur dari Popular Science


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama