Ketika dunia akan berakhir, setidaknya dunia digital, manusia ternyata tidak berubah menjadi monster haus darah.
Ringkasan
- Peneliti menggunakan game online ArcheAge untuk mempelajari perilaku manusia saat “akhir dunia” tiba.
- Dari 270 juta data pemain, mayoritas tetap bersikap damai, meski sebagian kecil jadi lebih agresif.
- Menjelang akhir permainan, banyak pemain berhenti mengejar kemajuan dan lebih fokus memperkuat hubungan sosial.
MENELITI reaksi manusia saat dunia benar-benar berakhir tentu bukan hal yang mudah. Kalau dilakukan saat dunia belum kiamat, hasilnya pasti tidak otentik.
Tapi kalau dilakukan 'ketika' dunia benar-benar kiamat, siapa yang mau mengisi kuesioner penelitian?
Nah, untuk mengatasi dilema ini, sekelompok ilmuwan punya ide brilian. Mereka menciptakan “kiamat buatan” di dalam dunia video game.
Game yang mereka pilih adalah ArcheAge, sebuah MMORPG (massively multiplayer online role-playing game) dengan dunia terbuka tempat ribuan pemain menjalani petualangan virtual.
Dalam uji beta yang berlangsung 11 minggu, para pemain diberi tahu bahwa seluruh server akan dihapus setelah masa uji selesai—karakter, harta, dan pencapaian mereka akan hilang tanpa jejak.
Dengan begitu, setiap tindakan di minggu-minggu terakhir menjadi tak punya konsekuensi. Dunia benar-benar “akan berakhir.”
Tim peneliti menganalisis lebih dari 270 juta rekam data pemain, mulai dari log misi, perkembangan level, hingga catatan pertempuran. Tujuannya, mencari tahu apakah manusia akan tetap bermoral atau justru chaos ketika tahu semua akan berakhir.
Hasilnya? Tidak seburuk yang kita bayangkan. Sebagian besar pemain tidak berubah jadi pembunuh massal digital.
Hanya sebagian kecil yang melakukan pembunuhan pemain lain tanpa alasan—semacam “melampiaskan” karena toh dunia akan tamat.
Tapi mayoritas tetap menjalani permainan secara damai, bahkan mulai menunjukkan perilaku sosial positif.
Para pemain yang bertahan sampai detik terakhir justru menunjukkan tren pro-sosial. Mereka lebih banyak berinteraksi di kanal percakapan, membentuk kelompok kecil, dan mempererat hubungan virtual.
Tim menulis dalam laporan mereka bahwa “semakin mendekati akhir dunia, obrolan di kanal sosial justru cenderung lebih bahagia.”
Namun ada temuan menarik lainnya, ketika tahu dunia akan berakhir, pemain kehilangan motivasi untuk berkembang. Aktivitas seperti menyelesaikan misi, menaikkan level, atau mengasah kemampuan menurun drastis.
Artinya, kalau kiamat betulan datang, manusia mungkin tak lagi repot berlari pagi atau belajar bahasa baru—karena, buat apa?
Menariknya, mereka yang keluar lebih dulu dari permainan (disebut “churners”) cenderung menunjukkan perilaku paling antisosial—seolah kehilangan rasa tanggung jawab terhadap komunitas game.
Sebaliknya, mereka yang bertahan hingga akhir adalah yang paling damai dan loyal.
Penelitian ini, yang dipresentasikan di Proceedings of the 26th International Conference on World Wide Web Companion dan tersedia di arXiv, memang tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan dunia nyata.
Tapi temuan ini menggambarkan sesuatu yang optimistis. Bahkan ketika dunia akan lenyap, banyak orang memilih untuk tetap manusiawi—berbagi momen terakhir bersama teman, bukannya saling menghancurkan.
Jadi, kalau suatu hari dunia benar-benar akan kiamat, mungkin manusia tak akan sepenuhnya kehilangan akal.
Mungkin, seperti para pemain ArcheAge, kita justru akan menatap langit terakhir bersama, sambil ngobrol santai di bawah hujan meteor.
Disadur dari IFL Science.

Posting Komentar