Bahkan memperlambat laju pelupaannya seperti saat pertama kali ingatan itu terbentuk.
Ringkasan
- Mengingat konteks emosional dan situasional saat memori terbentuk bisa menghidupkan kembali memori tersebut.
- Efek paling kuat terjadi jika dilakukan dalam 4–24 jam setelah memori terbentuk.
- Studi ini menyebut metode ini membuat laju pelupaan kembali seperti semula—mirip "memutar waktu" bagi ingatan.
KITA sering mengira bahwa ketika sebuah kenangan terlupakan, ia hilang selamanya. Tapi ternyata, otak kita menyimpan lebih banyak daripada yang kita sadari.
Faktanya, kita bisa dipanggil kembali dengan teknik yang disebut mental time travel, atau "perjalanan waktu secara mental."
Membayangkan ulang suasana, emosi, dan pikiran ketika memori pertama kali terbentuk dapat memulihkan memori tersebut, lengkap dengan pola pelupaannya di masa awal.
Demikian para peneliti dari Jerman menunjukkan dalam studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.
Penelitian ini melibatkan 1.216 peserta dalam dua eksperimen berbeda. Di eksperimen pertama, peserta diminta mengingat daftar kata; di eksperimen kedua, mereka membaca sebuah teks.
Empat kelompok dibentuk. Ada yang diminta mengingat tanpa konteks tambahan, dan sisanya melakukan context reinstatement.
Mereka diajak membayangkan kembali pikiran dan perasaan mereka saat pertama kali mempelajari informasi tersebut. Ingatan mereka kemudian diuji setelah 4 jam, 24 jam, atau 7 hari.
Hasilnya? Mereka yang melakukan "perjalanan waktu mental" terbukti mengingat informasi dengan lebih baik, bahkan pola lupa mereka kembali mengikuti kurva awal saat memori baru terbentuk.
"Seolah-olah ingatannya diremajakan," ujar para peneliti seperti dikutip dari Medical Xpress.
Namun, efek ini lebih kuat ketika konteks diaktifkan dalam jangka waktu singkat—misalnya 4 atau 24 jam setelah memori dibuat. Pada rentang 7 hari, efeknya menurun drastis.
Para penulis studi mengibaratkan fenomena ini seperti mitos Sisyphus, yang terus mendorong batu ke atas bukit hanya untuk melihatnya jatuh kembali.
Namun berbeda dengan mitos yang suram itu, mental time travel memberikan harapan, jika ingatan yang tadinya merosot bisa "didorong naik" kembali.
Namun, para peneliti juga mencatat bahwa ada perbedaan antara memori laboratorium (seperti menghafal kata atau bacaan) dengan memori nyata dalam kehidupan sehari-hari yang lebih emosional dan kompleks.
Mereka menduga bahwa konteks kehidupan nyata yang lebih kaya bisa menghasilkan efek "peremajaan" yang lebih kuat. Tapi tentu saja, ini butuh penelitian lanjutan.
Jadi, lain kali saat kamu lupa di mana kamu menyimpan kunci atau lupa isi percakapan penting, cobalah tarik diri sejenak. Bayangkan dirimu kembali ke momen itu, suasananya, pikirannya, bahkan aroma ruangan kalau bisa.
Mungkin saja, kamu sedang melakukan perjalanan waktu mental yang ilmiah.
Disadur dari Medical Xpress.

Posting Komentar