Gempa Maut Myanmar Belah Bumi dengan Kecepatan 'Supershear'

 Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,8 yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret lalu memecah permukaan bumi dengan kecepatan luar biasa yang dikenal sebagai 'supershear velocity. 


Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,8 yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret lalu memecah permukaan bumi dengan kecepatan luar biasa yang dikenal sebagai 'supershear velocity.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Gempa Myanmar membelah bumi dengan kecepatan hingga 6 km per detik, lebih cepat dari gelombang S.
  • Pergerakan ini terjadi di sepanjang Patahan Sagaing, memicu slip sepanjang 480 km.
  • Fenomena supershear berkontribusi besar terhadap skala kerusakan dan korban jiwa yang luas.


TAK hanya memicu kerusakan besar dan menewaskan lebih dari 5.000 orang, gempa bumi dahsyat di Myanmar itu menimbulkan fenomena langka dan sangat mematikan.  


Demikian menurut studi terbaru yang dipublikasikan di The Seismic Record.


Gempa yang terjadi di Myanmar ini menjadi perhatian besar para ahli seismologi karena mencatat kecepatan retakan (rupture) di bagian selatan patahan yang melampaui kecepatan gelombang geser atau shear waves (S-waves). 


Retakan tersebut bergerak antara 5 hingga 6 kilometer per detik, melampaui batas umum kecepatan patahan pada gempa biasa.


Dalam gempa biasa, retakan sepanjang patahan biasanya menyebar dengan kecepatan 50–85% dari gelombang S. 


Namun pada gempa Myanmar, retakan di sebagian besar patahan bergerak lebih cepat dari S-waves, sehingga gelombang energi berkumpul dan menghantam kawasan dengan dampak luar biasa.


Hal tersebut mirip seperti efek gelombang kejut saat pesawat menembus kecepatan suara.


Pusat gempa berada di sepanjang Sagaing Fault, patahan besar yang membelah Myanmar dari utara ke selatan. Patahan ini tergolong strike-slip fault, di mana dua lempeng tektonik bergeser secara horizontal. 


Retakan sepanjang 480 km pada gempa ini tergolong luar biasa panjang untuk jenis gempa strike-slip.


Studi mendapati adanya pergeseran tanah hingga 7 meter di bagian utara dekat Mandalay dan sekitar 2 meter di dekat ibu kota Nay Pyi Taw. 


Bahkan, rekaman dari stasiun seismik di dekat Nay Pyi Taw menunjukkan bukti yang sangat jelas tentang retakan supershear, dengan jeda pendek antara datangnya gelombang P (yang relatif lemah) dan gelombang S yang kuat dan merusak.


Menurut Thorne Lay, ahli seismologi dari UC Santa Cruz, ini adalah bukti paling meyakinkan dari fenomena supershear yang pernah ia temukan pada gempa strike-slip besar. 


Lay juga menjelaskan bahwa efek supershear diperparah oleh arah perambatan retakan yang condong ke selatan, sehingga gelombang destruktif menumpuk ke satu arah—meningkatkan kerusakan secara signifikan di jalur itu.


Patahan Sagaing memang dikenal aktif, tetapi segmen yang rusak dalam gempa kali ini—antara Mandalay dan Nay Pyi Taw—telah “diam” sejak tahun 1912. 


Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah menyimpan energi selama lebih dari satu abad sebelum akhirnya dilepaskan dalam gempa besar.


Meski gempa tak bisa diprediksi secara pasti, sistem peringatan dini (EEW) yang mengirimkan sinyal elektronik sebelum gelombang gempa datang terbukti bisa memberikan waktu berharga untuk menyelamatkan diri. 


Sayangnya, banyak wilayah belum memiliki infrastruktur seismik yang memadai. 


Namun, sistem peringatan gempa berbasis Android seperti Android Earthquake Alerts (AEA) kini menunjukkan efektivitas sebanding dengan jaringan seismik tradisional.


Gempa Myanmar bukan sekadar tragedi besar, tapi juga peringatan serius tentang betapa kompleks dan berbahayanya dinamika bumi. 


Dengan pemahaman lebih baik terhadap patahan aktif dan teknologi peringatan yang semakin canggih, harapannya risiko korban jiwa bisa dikurangi di masa depan.


Disadur dari Gizmodo - Myanmar’s Devastating Earthquake in March Split the Earth at ‘Supershear Velocity’.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama