Ilmuwan mempelajari dampak kebijakan penjatahan gula di masa dan setelah Perang Dunia II. Hasilnya?
ngarahNyaho - Selama dan setelah Perang Dunia II, antara Januari 1940 dan September 1953, Inggris menjatah sebagian besar bahan makanan. Satu di antaranya gula, termasuk permen.
Jatah gula untuk orang dewasa sekitar 40 gram per hari, sementara anak-anak di atas dua tahun dibatasi kurang dari 15 gram.
Namun, kebijakan, khususnya pengurangan konsumsi gula, lantaran kondisi yang tak ideal tersebut justru memberikan manfaat kesehatan bagi mereka yang mengalaminya.
Setidaknya demikian menurut penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Science terhadap puluhan ribu orang.
Hasil penelitian menunjukkan, membatasi paparan gula dalam 1.000 hari pasca pembuahan (termasuk periode dalam rahim dan dua tahun pertama kehidupan), menurunkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Kelompok orang yang lahir sebelum atau setelah penjatahan gula berakhir memiliki kemungkinan 35 persen lebih kecil untuk terkena diabetes tipe 2 dan 30 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami obesitas.
Selain itu, 20 persen lebih kecil kemungkinannya untuk terkena hipertensi selama hidup mereka. Itu bila dibandingkan kelompok orang yang tidak mendapat jatah gula, menurut penelitian.
Jika kelompok yang diberi jatah tersebut menderita diabetes atau hipertensi, mereka cenderung mengalami penyakit tersebut bertahun-tahun kemudian.
Lebih jauh lagi, efek penjatahan dalam rahim saja sudah menyumbang sekitar sepertiga pengurangan risiko seumur hidup.
Bahkan di antara kelompok yang lahir di dunia tanpa penjatahan, orang yang menghabiskan setidaknya sebagian masa kehamilannya di bawah pembatasan memiliki risiko 15 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2 seumur hidup.
“Apa yang kami temukan, di satu sisi, tidak terlalu mengejutkan, karena kami sudah memiliki banyak pengetahuan tentang hubungan antara gula dan dampak kesehatan yang buruk,” kata Claire Boone.
“Tetapi besarnya temuan kami cukup mengejutkan,” tambah Boone yang mrupakan salah satu penulis studi dan ekonom kesehatan di McGill University di Kanada.
Banyak penelitian di masa lalu telah membuktikan hubungan antara asupan gula yang tinggi dan penyakit kronis.
Namun pengurangan risiko penyakit metabolik yang terkait dengan penjatahan gula pada awal kehidupan sangatlah besar, setara dengan dampak vegetarianisme seumur hidup atau berhenti merokok.
Hal ini menunjukkan bahwa pola makan dalam waktu singkat dalam perkembangan seseorang secara keseluruhan dapat membawa konsekuensi besar di kemudian hari.
“Hal yang paling penting adalah untuk orang tua,” kata Paul Gertler, salah satu penulis studi dan ekonom kesehatan di University of California, Berkeley.
Temuan-temuan baru ini merupakan satu-satunya bukti yang jelas dan bersifat kausal mengenai pentingnya mengikuti panduan internasional dan nasional mengenai gula, katanya.
Pedoman dari badan-badan federal Amerika Serikat menyebutkan bahwa bayi dan balita di bawah usia dua tahun tidak boleh diberi makanan dengan tambahan gula.
Sementara orang dewasa harus membatasi konsumsi tambahan gula hingga kurang dari 10 persen dari keseluruhan kalori mereka.
Rekomendasi dari American Heart Association bahkan lebih ketat lagi. AHA menyarankan, tambahan gula harus menghasilkan kurang dari 6 persen total kalori dalam makanan sehat.
Artinya, berdasarkan panduan AHA, konsumsi rata-rata gula sekitar 25g per hari untuk wanita dan 36g untuk pria.
Kenyataannya, sangat sedikit orang Amerika yang berhasil mematuhi saran resmi ini, dengan rata-rata orang dewasa di Amerika makan 2-3 kali lipat dari rekomendasi setiap hari.
Banyak orang yang terlahir banyak terpapar gula di dalam kandungan. Mereka juga terus terpapar makanan dengan tambahan gula sejak dini melalui susu formula dan makanan olahan yang dipasarkan kepada orang tua bayi dan balita.
“Kita semua ingin meningkatkan kesehatan kita dan memberikan anak-anak kita awal yang terbaik dalam hidup," kata Tadeja Gračner, penulis utama pada studi tersebut, seperti dikutip dari PopSci.
"Mengurangi tambahan gula sejak dini tampaknya merupakan langkah yang ampuh untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Tadeja yang juga ekonom sekaligus meneliti kesehatan masyarakat di University of Southern California.
Namun hal ini bisa sangat sulit dilakukan di lingkungan dimana sebagian besar makanan olahan dan kemasan mengandung tambahan gula, akunya.
“Kami tidak ingin menambahkan hal lain yang membuat stres pada daftar orang hamil,” kata Gračner. “Tetapi ini jelas merupakan informasi yang perlu kami sampaikan – bahwa ini penting.” |
Sumber: Popular Science

Posting Komentar