Cuka bambu punya sifat anti-jerawat melalui sistem pelepasan terkontrol yang meminimalkan iritasi kulit dan meningkatkan efek bakteriostatik sehingga berpotensi untuk penggunaan kosmetik yang lebih luas.
Cuka bambu berpotensu untuk penggunaan kosmetik yang lebih luas. (Foto Ilustrasi: monika karaivanova/Unsplash)ngarahNyaho - Cuka bambu merupakan cairan pekat yang berasal dari bambu melalui proses anaerobik bersuhu tinggi. Ada 200 senyawa organik dengan asam asetat sebagai komponen utamanya.
Meski telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Cina sebagai bahan baku kosmetik, cuka bambu yang tersedia secara komersial sering kali mengandung kotoran yang khasiatnya tidak jelas.
Selain itu, senyawa fenolik serta hidrokarbon aromatik di dalamnya mungkin berbahaya bagi manusia.
Namun demikian, cuka bambu memiliki potensi anti-jerawat, terutama melawan efek penghambatan Propionibacterium acnes, mikroorganisme kunci dalam patogenesis jerawat.
Meskipun antibiotik umumnya digunakan untuk mengobati jerawat, kekhawatiran akan resistensi obat telah membatasi penggunaannya.
Nah, tim peneliti dari Central South University of Forestry and Technology di Cina mengeksplorasi mekanisme sistem pelepasan terkontrol cuka bambu dan potensi penerapannya dalam kosmetik.
Hasil penelitian para peneliti tersebut diterbitkan dalam Journal of Dermatologic Science and Cosmetic Technology.
“Cuka bambu dimurnikan melalui penyulingan bertekanan rendah, yang meningkatkan kandungan asam organik, mengurangi kandungan tar, dan meningkatkan bahan aktif sekaligus meminimalkan komponen berbahaya.
“Kami menggunakan arang bambu aktif untuk menyerap cuka bambu, memungkinkan pelepasan bertahap selama lebih dari dua jam, yang secara efektif menunjukkan efek pelepasan yang lambat.”
Demikian penulis penelitian tersebut, Sheng Zhang, jelaskan seperti dikutip dari Scitech Daily.
Temuan ini menunjukkan bahwa cuka bambu olahan bisa menjadi bahan baku yang menjanjikan untuk formulasi kosmetik anti-jerawat.
Laju pelepasan kompleks arang bambu/cuka bambu dalam air mencapai 70,57 persen dalam waktu 15 menit dan kemudian melambat hingga mencapai titik tertinggi.
Perilaku pelepasan lambat ini sejalan dengan model Ritger-Peppas, yang bermanfaat dalam mengurangi iritasi kulit dan memperpanjang durasi bakteriostatik.
“Temuan ini menghadirkan konsep baru untuk kosmetik anti-jerawat dan meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan sistem pelepasan lambat cuka bambu dengan arang bambu sebagai pembawa.
“Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi manfaat kosmetik tambahan dari cuka bambu, seperti menghilangkan ketombe, efek anti-kerut, dan banyak lagi,” Zhang menambahkan. |
Sumber: Scitech Daily
Posting Komentar