Usai Bencana, Monyet-monyet di Puerto Riko Jadi Lebih Toleran ke Sesamanya

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa badai dahsyat mengubah perilaku monyet dalam berinteraksi satu dengan lainnya di komunitas mereka.


Ilustrasi monyet Rhesus. (Foto Ilustrasi: Klub Boks/Pexels)
(Foto Ilustrasi: Klub Boks/Pexels)


ngarahNyaho - Badai Maria melanda Puerto Riko pada tahun 2017 berdampak sangat dahsyat. Akibat peristiwa itu, lebih dari 3.000 orang tewas. 


Bencana ini juga menghancurkan 63 persen vegetasi di Cayo Santiago. Wilayah yang dikenal sebagai Pulau Monyet ini merupakan rumah bagi populasi monyet rhesus.


Bahkan saat ini, tutupan pohon masih jauh di bawah tingkat sebelum badai. Wilayah yang panas ini membuat naungan sebagai sumber daya yang langka dan berharga bagi kera.


Perubahan perilaku monyet


Monyet Rhesus di Cayo Santiago berteduh di bawah naungan pohon mati. Foto diambil Maret 2022. (Foto: Dr Lauren Brent via Scitech Daily)
Monyet Rhesus di Cayo Santiago berteduh di bawah naungan pohon mati. Foto diambil Maret 2022. (Foto: Dr Lauren Brent via Scitech Daily)


Studi terbaru menunjukkan, perilaku monyet rhesus di Cayo Santiago ini berubah. Hewan-hewan menjadi lebih toleran untuk berbagi tempat berteduh.


Kondisi tersebut menurut peneliti memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup monyet-monyet tersebut. Hasil studi peneliti dari universitas Pennsylvania dan Exeter terbut di jurnal Science.


Dengan banyaknya ekosistem yang berubah dengan cepat akibat aktivitas manusia, penelitian ini adalah contoh spesies yang mengadaptasi strategi sosialnya untuk bertahan hidup.


“Menanggapi perubahan drastis yang disebabkan oleh badai, kera terus-menerus meningkatkan toleransi dan mengurangi agresi terhadap satu sama lain,” kata Dr. Camille Testard, dari University of Pennsylvania.


“Hal ini memungkinkan lebih banyak kera mengakses tempat berteduh yang langka, yang sangat penting untuk kelangsungan hidup.”


Manfaat toleransi sosial


Testard menambahkan, para peneliti menganalisis data selama 10 tahun mengenai kekuatan dan jumlah ikatan sosial kera, sebelum dan sesudah badai.


“Sebelum terjadinya badai, sikap menoleransi tidak berdampak pada risiko kematian," kata Testard seperti dikutip dari Scitech Daily.


Namun data menunjukkan, setelah badai, monyet-monyet yang berbagi tempat berteduh memiliki kemungkinan 42 p[ersen lebih kecil untuk mati dibandingkan mereka yang tidak toleran. 


Adaptasi dan ketahanan 


Kondisi Cayo Santiago sebelum Badai Maria. (Foto: Dr Joyce Cohen via Scitech Daily)
Kondisi Cayo Santiago sebelum Badai Maria. (Foto: Dr Joyce Cohen via Scitech Daily)


Perilaku sosial dinilai dengan mencatat agresi dan seberapa sering individu terlihat duduk bersama.


“Monyet bukanlah yang terbaik dalam berbagi sumber daya – baik itu makanan maupun tempat berteduh," kata Profesor Lauren Brent, dari Universitas Exeter.


"Mereka terkenal hidup dalam masyarakat yang agresif dan sangat kompetitif,  tetapi dalam cuaca panas yang disebabkan oleh perubahan ekologi, seringkali sekitar 40°C, kera harus berbagi ruang atau mati.”


Testard menambahkan, untuk mengakses tempat berteduh, mereka perlu bertoleransi – dan ditoleransi oleh – lainnya. Peneliti menemukan bahwa toleransi ini meluas ke interaksi sehari-hari lainnya.


“Monyet yang mulai berbagi tempat berteduh juga menghabiskan waktu bersama di pagi hari, sebelum panas terik memaksa mereka mencari tempat berteduh.


“Akibatnya, badai tersebut mengubah aturan main masyarakat monyet.”


Profesor Brent mengatakan, bagi hewan yang hidup berkelompok, hubungan sosial memungkinkan mereka mengatasi gangguan lingkungan, termasuk perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.


“Kami terkejut bahwa perilaku sosial kera sangat fleksibel sehingga membuat mereka tahan terhadap perubahan lingkungan, namun beberapa spesies mungkin tidak menunjukkan fleksibilitas yang sama.”[Sumber: Scitech Daily]


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama