Senyawa Ganja Ditemukan Dalam Tanaman yang Kerap Dianggap Gulma

Temuan ini memberikan peluang baru kepada ahli untuk memproduksi obat untuk sejumlah keluhan, seperti epilepsi, nyeri kronis, dan kecemasan.


Trema micranthum blume. (Foto: Royal Botani Gardens)
Trema micranthum blume. (Foto: Royal Botani Gardens)


ngarahNyaho! - Tim ilmuwan di Brasil menemukan cannabidiol, senyawa dalam ganja yang dikenal sebagai CBD, pada tumbuhan bernama Trema micrantha blume. 


Semak itu tumbuh di sebagian besar negara Amerika Selatan dan sering dianggap sebagai gulma, kata ahli biologi molekuler Rodrigo Moura Neto dari Universitas Federal Rio de Janeiro kepada AFP pada Juni 2023.


Cannabidiol atau CBD semakin banyak digunakan oleh beberapa orang untuk mengobati kondisi termasuk epilepsi, nyeri kronis, dan kecemasan.


CBD merupakan salah satu senyawa aktif utama dalam ganja, bersama dengan tetrahydrocannabinol, atau THC,  zat yang membuat penggunanya merasa mabuk.


Efektivitas senyawa tersebut sebagai pengobatan medis masih dalam penelitian.


Neto mengatakan, analisis kimia telah menemukan, Trema mengandung CBD tetapi bukan THC. Dengan demikian, itu meningkatkan kemungkinan adanya sumber pengobatan baru yang berlimpah


Di sisi lain, sumber itu tidak akan menghadapi rintangan hukum dan peraturan ganja, yang terus dilarang di banyak tempat, termasuk Brazil.


Sebaran Trema micranthum blume, semak yang banyak tumbuh di negara-negara di Amerika Selatan dan terdapat juga Galapagos dan Myanmar. (Sumber dan Peta: Royal Botani Gardens)


“Ini adalah alternatif legal untuk menggunakan ganja,” katanya. “Ini adalah tanaman yang tumbuh di seluruh Brazil. Ini akan menjadi sumber cannabidiol yang lebih sederhana dan lebih murah.”


Neto menambahkan, para ilmuwan sebelumnya telah menemukan CBD di tanaman terkait di Thailand.


Dia dan rekan-rekan penelitinya berencana untuk memperluas penelitiannya guna mengidentifikasi metode terbaik untuk mengekstrak CBD dari Trema.


Mereka juga menganalisis efektivitasnya pada pasien dengan kondisi yang saat ini diobati dengan ganja medis.


Timnya baru-baru ini mendapatkan hibah dari pemerintah Brasil untuk mendanai penelitian tersebut. Perkiraannya, penelitian akan memakan waktu setidaknya lima tahun untuk menyelesaikannya.


Sebuah studi pada tahun 2022 oleh firma analisis pasar Vantage Market Research memperkirakan pasar global CBD hampir mencapai US$5 miliar.


Firma tersebut memperkirakan akan tumbuh lebih dari US$47 miliar pada tahun 2028, terutama didorong oleh penggunaan kesehatan dan kebugaran. [Sumber: AFP]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama