Risiko Manusia bila Berhasil ke Mars, Pulang ke Bumi Harus Cuci Darah

Penyebab gangguan kesehatan ginjal para astronaut setelah melakukan misi ke luar angkasa kemungkinan besar ternyata bukan karena radiasi kosmik galaksi.  


(Foto Ilustrasi: T Leish/Pexels)


ngarahNyaho! -  Para ilmuwan sudah mengetahui risiko penerbangan luar angkasa terhadap kesehatan, seperti hilangnya massa tulang, melemahnya jantung dan penglihatan, dan perkembangan batu ginjal.


Diperkirakan bahwa sebagian besar masalah ini berasal dari paparan radiasi luar angkasa, seperti angin matahari dan radiasi kosmik galaksi atau Galactic Cosmic Radiation (GCR) dari luar angkasa.


Namun, belum ada yang mempelajari perubahan yang mungkin terjadi pada ginjal dan organ lain akibat dari kondisi perjalanan luar angkasa di luar medan magnet bumi dalam jangka waktu yang lebih lama.


Nah, tim peneliti yang dipimpin UCL dari lebih dari 40 institusi di lima benua melakukan serangkaian eksperimen dan analisis untuk menyelidiki bagaimana ginjal merespons penerbangan luar angkasa.


Hal ini mencakup penilaian biomolekuler, fisiologis dan anatomi menggunakan data dan sampel dari 20 kelompok penelitian. 


Ini termasuk sampel dari lebih dari 40 misi luar angkasa orbit rendah Bumi yang melibatkan manusia dan tikus. Sebagian besar ditujukan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.


Selain itu, para peneliti melakukan hal yang sama pada 11 simulasi luar angkasa yang melibatkan hewan percobaan, yakni tikus.


Tujuh dari simulasi ini melibatkan tikus yang terpapar dosis simulasi GCR yang setara dengan Misi Mars selama 1,5 tahun dan 2,5 tahun, yang meniru penerbangan luar angkasa di luar medan magnet Bumi.


Hasilnya menunjukkan bahwa ginjal manusia dan hewan 'dirombak' oleh kondisi di luar angkasa.


Tubulus ginjal spesifik yang bertanggung jawab untuk menyempurnakan keseimbangan kalsium dan garam menunjukkan tanda-tanda penyusutan setelah kurang dari sebulan berada di luar angkasa. 


Para peneliti mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah gayaberat mikro, bukan GCR.


Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah interaksi gayaberat mikro dan GCR dapat mempercepat atau memperburuk perubahan struktural ini.


Alasan utama terbentuknya batu ginjal selama misi luar angkasa sebelumnya diasumsikan semata-mata karena pengeroposan tulang akibat gayaberat mikro yang menyebabkan penumpukan kalsium dalam urine.

 

Sebaliknya, temuan tim UCL menunjukkan bahwa cara ginjal memproses garam secara mendasar diubah oleh penerbangan luar angkasa dan kemungkinan merupakan kontributor utama pembentukan batu ginjal.


Mungkin temuan yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa ginjal tikus yang terkena radiasi simulasi GCR selama 2,5 tahun mengalami kerusakan permanen dan kehilangan fungsi.


Hal tersebut setidaknya bagi astronaut mana pun yang melakukan perjalanan tiga tahun ke Mars. 


“Jika kita tidak mengembangkan cara baru untuk melindungi ginjal, menurut saya meskipun seorang astronaut bisa sampai ke Mars, mereka mungkin memerlukan dialisis dalam perjalanan pulang."


Demikian Dr Keith Siew, penulis pertama studi dari London Tubular Centre, yang berbasis di Departemen Kedokteran Ginjal UCL, utarakan seperti dikutip dari EurekAlert.


"Kita tahu bahwa ginjal terlambat menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat radiasi," kata Siew melanjutkan.


"Pada saat hal ini menjadi jelas, mungkin sudah terlambat untuk mencegah kegagalan, yang akan menjadi bencana besar bagi peluang keberhasilan misi tersebut.”


Para peneliti mengatakan bahwa meskipun hasil mengidentifikasi hambatan serius terhadap misi Mars, penting untuk mengidentifikasi permasalahan sebelum solusi dapat dikembangkan.


Profesor Stephen B. Walsh, penulis senior studi dari London Tubular Centre, Departemen Kedokteran Ginjal UCL, menekankan perlunya memerhatikan organ ginjal saat misi ke luar angkasa. 


"Anda tidak dapat melindunginya dari radiasi galaksi dengan menggunakan pelindung," kata Walsh.


"Namun seiring dengan kita mempelajari lebih lanjut tentang biologi ginjal, kita mungkin dapat mengembangkan langkah-langkah teknologi atau farmasi untuk memfasilitasi perjalanan luar angkasa yang lebih lama.


“Obat apa pun yang dikembangkan untuk astronaut mungkin juga bermanfaat di Bumi, misalnya dengan memungkinkan ginjal pasien kanker untuk mentoleransi radioterapi dosis tinggi.” 


Studi Siew dan rekan-rekannya tersebut dipublikasikan di Nature Communications. [Sumber: EurekAlert]


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama