Secara kosmologis, Bumi masih muda, namun superkomputer meramalkan nasib mengerikan planet kita pada 250 juta tahun mendatang.
ngarahNyaho! - Sebuah studi baru memperkirakan, panas tak terkira yang belum pernah terjadi akan menimpa Bumi sehingga menyebabkan kepunahan massal
Bumi telah ada, kurang lebih, selama 4,5 miliar tahun. Apa yang awalnya berupa bola magma cair yang berputar akhirnya mendingin dan membentuk beberapa lempeng tektonik kecil.
Beberapa miliar tahun kemudian, planet ini dipenuhi berbagai formasi benua super dan penuh dengan kehidupan.
Namun Bumi masih muda, secara kosmologis. Para ahli menyebutkan, usia planet kita baru saja melewati sepertiganya. Masih banyak perubahan yang akan terjadi.
Sayangnya, sebuah hasil studi memperkirakan makhluk hidup sepertinya tidak akan bisa bertahan hingga Bumi mencapai usia maksimalnya.
Menurut penelitian yang diterbitkan tahun lalu dunia di masa depan akan kembali didominasi oleh satu benua super dan hampir tidak dapat dihuni oleh mamalia mana pun.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 2023 itu menggunakan superkomputer untuk memodelkan iklim selama 250 juta tahun ke depan.
“Prospek di masa depan tampak sangat suram,” tegas Alexander Farnsworth, Peneliti Senior di Cabot Institute for the Environment di Universitas Bristol dan penulis utama studi tersebut.
“Tingkat karbon dioksida bisa dua kali lipat dari tingkat saat ini,” lanjut Farnsworth seperti dikutip dari laman University of Bristol via IFL Science.
“Karena Matahari juga diperkirakan akan memancarkan radiasi sekitar 2,5 persen lebih banyak dan benua super ini terutama terletak di daerah tropis yang panas dan lembap.
"Sebagian besar planet ini mungkin menghadapi suhu antara 40 hingga 70 °C (104 hingga 158 °F),” dia menjelaskan.
Gambar menunjukkan suhu rata-rata bulan terpanas (derajat Celcius) di Bumi dan proyeksi benua super (Pangea Ultima) dalam 250 juta tahun ketika hampir semua mamalia akan sulit bertahan hidup. (Gambar: Universitas Bristol)
Superbenua baru, yang disebut sebagai Pangea Ultima, mengacu pada superbenua kuno Pangea, akan menciptakan 'triple whammy,' kata Farnsworth.
Dunia tidak hanya akan menghadapi 50 persen lebih banyak CO2 di atmosfer dibandingkan tingkat yang ada saat ini. Matahari tidak hanya akan menjadi lebih panas dibandingkan saat ini.
Tak kalah pentingnya, ukuran superbenua itu sendiri juga akan membuat matahari menjadi lebih panas dibandingkan saat ini sehingga hampir seluruhnya tidak dapat dihuni.
Hal ini disebabkan oleh efek kontinental. Fakta bahwa daerah pesisir lebih dingin dan lebih basah dibandingkan daerah pedalaman. Juga alasan mengapa suhu musim panas dan musim dingin jauh lebih ekstrem.
“Akibatnya adalah lingkungan yang tidak bersahabat, tidak ada sumber makanan dan air bagi mamalia,” kata Farnsworth.
“Suhu yang meluas antara 40 hingga 50 derajat Celcius, dan bahkan suhu ekstrem setiap hari, ditambah dengan tingkat kelembapan yang tinggi pada akhirnya akan menentukan nasib kita.
"Manusia bersama dengan banyak spesies lainnya akan mati karena ketidakmampuan mereka mengeluarkan panas melalui keringat, sehingga mendinginkan tubuh mereka.”
Jadi, meskipun penelitian ini memberikan gambaran buruk tentang Bumi jutaan tahun dari sekarang, peneliti memperingatkan kita untuk tidak melupakan masalah yang akan segera terjadi.
“Sangatlah penting untuk tidak melupakan Krisis Iklim yang kita hadapi saat ini, yang merupakan akibat dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia.”
Demikian kata Eunice Lo, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan di Universitas Bristol dan salah satu penulis laporan tersebut.
“Kita sudah mengalami panas ekstrem yang merugikan kesehatan manusia,” ujarnya. “Inilah mengapa sangat penting untuk mencapai emisi net-zero sesegera mungkin.” | Sumber: IFL Science


Posting Komentar